Anugerah Terindah

Thursday, July 01, 2010

Igusa Butik, Okawa

Alhamdulillah masih diberi kesempatan bernafas, sehat sampai hari ini. Hari begitu cepatnya, sudah memasuki bulan Juli. Ehmmm....hitungan mundur sudah mulai berkurang lagi. Semoga kedepannya menjadi lebih baik, lancar dalam segala urusan dan ALLAH selalu memberikan pertolongan dalam setiap masalah. AMin ya robbal alamin.
Mau cerita aja deh, mumpung lagi mood nulis, ada waktu, juga tentunya mumpung koneksi internet was wis wus wussssss wessss wossss... Siapa tahu semua yang saya tulis disini bisa menjadi kenangan terindah dan membuat kami kangen akan suasana perantauan ini... Terutama buatku sendiri...

Banyak cara untuk melestarikan budaya. Salah satunya Jepang, sebagai negara maju yang sampai saat ini berusaha untuk mempertahankan akar budayanya. Selain secara rutin mengadakan berbagai macam event budayanya dengan melalui matsuri atau upacara-upacara tradisional seperti upacara obon matsuri, matsuri di musim panas, upacara perayaan panen hasil laut, pelestarian pakaian tradisionalnya, seperti Kimono, Yukata, kerajinan tangan, origami, (seni melipat kertas), ikegami (seni merangkai bunga) dan masih banyak lainnya... kalau diturutin gak ada habisnya...

Yang ingin saya ceritakan disini adalah cara masyarakat Jepang mempertahankan seni, terutama penggunaan lantai tradisional "TATAMI" atau alas/ tikar tebal yang terbuat dari jerami yang sudah ditenun. Hampir setiap rumah masyarakat Jepang lantainya terbuat dari tatami, selain dari kayu. Tatami menduduki urutan tertinggi dalam pemakaiannya. Ukuran yang sering dipakai adalah jou (ukuran standart sama). Satu jou kurang lebih ukuran 1 meter kali 2 meteran. Lihat tatami jadi inget kampung halaman. Di kampungku (saat saya masih kecil) masih banyak masyarakat yang menggunakan tikar berbahan"mendong" sejenis rumput atau jerami yang ukurannya agak besar dibanding dengan rumput untuk tatami. Sayang tikar mendong ini seiring waktu telah mengalami kepunahan, karena masyarakat lebih senang menggunakan tikar plastik dibandingkan tikar mendong tradisional. Padahal secara kualitas sebenarnya tikar mendong ini lebih baik dan lebih nyaman, rasanya adem, dingin. Beda dengan tikar plastik yang makin lama dipakai duduk makin panas. Namun yah begitulah.... mungkin ini karena ketidakpedulian masyarakat atau bahkan pemerintah dalam meningkatkan pemberdayaan masyarakat untuk usaha kecilnya kurang, sedangkan masyarakat kecil kekurangan modal untuk mengembangkan usahanya, kurangnya penyuluhan untuk menciptakan produk yang lebih bagus dan pemasaran yang menjadi kendala setelah produk tercipta. Kalau dulu ada KUD (koperasi Unit Desa), yang siap memasarkan produk lokal warganya, sekarang KUD sudah mulai tidak terdengar kiprahnya (ini dari info yang saya dapat di desaku) lho... Oh jadi banyak angan-angan untuk pingin berbagi cerita dan ilmu untuk para perajin tikar mendong tradisional dan mendidik masyarakat pengrajin tikar mendong di daerahku yang kini mulai langka... semoga suatu saat terwujud... Siapa lagi yang akan melestarikan budaya bangsa kalau bukan kita-kita yang peduli. Yuk semangat mewujudkan mimpi dan masa depan....


Bentuk asli rumput atau jerami yang dibikin untuk tatami


Berbagai motif tikar yang terbuat dari tatami

Tatami masih dipakai di rumah masyarakat yang ekonominya sudah mapan sekalipun, maupun pada kebanyakan masyarakat yang tingkat perekonomiannya sedang. Baik itu di rumah ataupun di apato (apartemen).

Salah satu sudut Di Igusa Butik

Beberapa kali saya pergi ke Igusa butik, tentunya diajak sama sensei shodo, disana menyediakan, menjual barang-barang yang terbuat dari tatami, baik itu berbentuk tikar, bantalan duduk, sandaran duduk, karpet, keset, hiasan dinding, tatakan gelas, bantal, guling, suripa/sandal, kipas dan masih banyak lainnya.

Yang sangat menarik adalah semuanya benar-benar alami dan tradisional banget. Tak heran harganyapun tergolong mahal. Betapa tidak, satu lembar tatakan gelas saja satu bisa seharga 85 ribu rupiah (harga termurah).
Pengunjungnyapun tidak begitu banyak, tidak begitu ramai. Mungkin karena ini kelasnya sudah butik, jadi saya kira hanya mereka yang sudah mapan secara ekonomi saja yang suka datang kesini.

Walaupun begitu, salut sekali dengan adanya toko ini, penjaga tokonya kebanyakan adalah saudara sendiri, atau masih termasuk dalam garis famili (secara lebih tepatnya usaha seperti ini dilakoni oleh suatu keluarga dan diteruskan ke anak-anak dan cucunya). Igusa butik ini baru ada sejak 18 tahun yang lalu.
Foto disamping salah satu ruangan di Igusa butik, beserta barang pajangan yang siap jual.


Merajut angan, mencapai mimpi, melangkah bersama melestarikan budaya bangsa... Bismillah

23 Juli Safa untuk pertama kali menginap bersama teman-teman dan sensei hoikuennya di Kashima.
Suasana di rumah jadi lain, beda banget, sepi, tiada celoteh dan suara ocehan Safa dan rafif. Rafif pun merasa kesepian. EHm... sebuah pembelajaran buat Safa berpisah semalam dengan keluarganya. APa yang terjadi dengan nya ? menangiskah dia ? bergembirakah dia ?...
ceritanya bersambung, insyaallah...