Berbagi Pengalaman
Tentunya pengalaman selama kehamilan dan persalinan yang telah kulalui di negeri orang. Dimana jauh dari sanak saudara, tidak ada yang bisa diharapkan bisa membantu sepanjang waktu, layaknya di Indonesia. Semuanya dilakukan sendiri, tidak ada tempat untuk bermanja2 . Apalagi untuk bebas beli makanan. Bener2 pengalaman yang takkan pernah terlupakan sepanjang hidupku, penuh dengan suka dan duka. Walaupun tetep banyak suka dukanya hehehheeee...
Diawali dengan gejala p2m pusing,m**l,m****h,yang rutin setiap hari minimal 5-8 kali (bener2 tak itung nih). Semua makanan yang saya makan selama kehamilan 2-5,5 bulan praktis semua yang masuk juga keluar.Dan tiada hari tanpa pusing kepala. Selain itu tekanan darah juga sangat rendah, selama 4 bulan berturut2 tensi cuma 60/40 dan 55/45 mmhg, bisa dibayangkan betapa pusingnya kepala ini. Sampe sensei (dokter) gedeg2 dan menyarankan transfusi jika saya memang sudah tidak kuat menahan sakit. Dan senseipun menolak untuk memberikan resep untuk meningkatkan tekanan darah atau vitamin apa saja deh yang penting saya bisa bertenaga dan paling tidak mengurangi rasa sakit. Kenapa menolak ? karena menurut sensei disini obat2 an semacam itu bisa mengakibatkan abortus (bener gak ya...? soalnya aku sendiri juga gak ngerti). Daripada transfusi, suami langsung menghubungi dokter yang menangani saat kehamilan Safa dulu dan minta second opinion (halah gayane...) Dokter Indonesia memberi resep dan saudara saya disuruh ambil resepnya, dan dikirim ke Saga. Terima kasih banyak dokter Supratiknyo. SPoG, ALhamdulillah lolos dan sedikit2 bisa mengurangi sakit. Dan selama itu pula setiap kali keluar rumah, pusing selalu datang dan 3 kali sempat pingsan saat belanja di supa, untung bersama suami. Semua aktifitas di luar saya hentikan. Praktis pekerjaan saya setiap hari cuma di rumah dirumah dan dirumah selama hampir 5 bulan. Kebanyakan saya isi dengan membaca, berbaring dan berserah diri. Eh enggak juga deh...masih kadang sempat ngenet, masih ikutan kelas ikebana, kelas nihon go, masih sempat bikin
Dan yang pasti mulai memberi pengertian pada Safa, sebentar lagi punya adik dan sesekali kuajak ke RS saat periksa. Seneng banget saat lihat adiknya lewat USG. Mudah2an gak cemburu dan merasa tersaingi kalau ada adiknya dan tentunya mudah2an sayang sama adiknya.
Alhamdulillah menginjak 6 bulan usia kehamilan semuanya sudah kembali normal, bahkan bisa jalan2 sampe Fukuoka, Kyoto dan Osaka, sehingga bisa ketemuan sama mbak Rossy, mbak Yayuk, mbak Susi, mbak Siti Latifah, mbak Dian, mbak Indah dan teman2 lainnya.
Pemeriksaan ke rumah sakit rutin dilakukan setiap sebulan sekali dan akhir2 menjelang kelahiran 2 minggu sekali dan seminggu sekali. Pemeriksaan disini jauh lebih njlimet dan beragam dibanding saat kehamilan Safa (maaf, tidak ada maksud membandingkan dgn yang di Indonesia). Mulai setiap kali periksa selalu tes urin dan tes darah. Dan seminggu sebelum melahirkan banyak tes2 lain yang tidak bisa saya sebutin satu2...saking banyaknya (heee...dengan kemampuan bahasa yang sangat terbatas aku jalanin tes2 itu sendiri tanpa didampingi suami, pake nihon go lagi... apanya gak semakin doki doki suru alias deg degan). Maksud hati bersikukuh untuk melahirkan normal, namun apadaya sensei sangat keberatan, karena riwayat kelahiran pertama sudah caesar dan perkiraan bayi yang kedua ini lebih besar. Jalan lahir normal belum terbuka, sehingga akan sangat sulit dan bisa membahayakan ibu dan bayinya. Berkali-kali saya bilang ke sensei "Onegai shimasu..." (dengan nada memelas dan memohon untuk bisa normal) sensei tetep bilang gomen nasai...Yo wis akhirnya aku menyerah juga, hiks hiks hiks padahal aku berharap karena jarak kelahiran anak pertama dan kedua tuh dah hampir 3.5 tahun jadi cukuplah. Yo wis gak papalah yang penting semuanya selamat akhirnya kami ikutin saran sensi. Susanyoutebi (perkiraan lahir) yang diberikan sensei sebenarnya tanggal 18 Desember, namun saya menolaknya, masih belum sreg dan berharap sebelum tanggal itu ada kontraksi sehingga bisa normal. Saya minta tanggal 21, dengan alasan kalau hari Jum at kalau ada apa2 bisa lebih afdol syahidnya (ketakutan dulu...), eh gak ding suami bisa menunggu lebih lama karena besuknya yasumi no hi (hari libur) sehingga suami bisa lebih lama menungguiku (mumpung, kesempatan, dulu saat persalinan Safa gak ditunggu suami, sempat dikira susternya gak bersuami...woalahhh kok yo tego...apa mukaku iki muka2 begituan ngono....sedih ...).
Sebelumnya, jauh hari saya sudah siapkan perbekalan buat ke RS baik itu buatku sendiri maupun buat bayi. Semua sudah masuk tas dan tinggal angkat saja. Selain itu juga perbekalan buat Safa dan bapaknya selama tak tinggal. Aku dah buatkan berbagai makanan siap saji alias tinggal manasin atau tinggal goreng saja, yang semuanya ku taruh di freezer. Kubuatkan gudeg, ayam bumbu merah, perkedel kentang, chicken nugget, rolade, galantin. Dan juga sudah kusiapkan burger, sosis dan sayur beku. Berharap bisa buat makan pagi, syukur2 bisa sampe sore. Pokoknya suami gak perlu repot repot cari ke luar atau masak masak lama tinggal goreng paling 5 menit juga masak, sama naruh diatas rice cooker doank, coba kalau di Indonesia sih gampang, tinggal beli/manggil tukang soto yang lewat depan rumah, tapi disini mana bisa......? Buat mbak Yayuk makasih banyak tips yang diberikan.
Rabu malam dah mulai keliling telpon ibu, bapak, mertua, nenek, kakak, budhe dan pakdhe minta restu dan mohon maaf juga minta doa agar semuanya diberi kelancaran, ya semacam menenangkan diri dan banyak bertakbir, karena malam hari raya Qurban juga.
Kamis, 20 Desember pagi kami bersama2 berangkat ke Kaikan untuk melaksanakan sholat Idhul Adha, selesai langsung pulang, gak ikut makan2, persiapan bathin dipermatang. Aku makin stress dan jadi semakin bingung, perutku mual gak ketulungan. Tak pikir kontraksi, ternyata cuma stress biasa. Masih kepikiran sama Safa, gimana ya nanti kalau pisah sama aku, karena selama ini belum pernah pisah tidur malam. Apalagi untuk jangka waktu 10 hari...duh makin pusing, sudah gitu suami pas lagi sibuk2 nya untuk deadline nya thesis. walah...pokoke semuanya pas kok momentnya sibuk2 nya.... Bagaimanapun juga syukur kehadirat ALLAH atas anugerahNya. Siang pukul 13.30 kami berangkat ke rumah sakit, saya harus nyuuin (nginap) sehari sebelumnya. Sampe RS registrasi, diantar suster ke kamar, diberi banyak pengarahan (aku ra ngerti wis ra ngeh blas...cuma hai2 saja, karena pikiran dah hang), diberi tahu letak kamar mandi, toilet, tempat ambil air, dan lainnya.
Bersambung....Rafifnya bangun....
eh bentar dulu....nak
Mbak Safarindiyah di Tokyo, makasih tanda cintanya. Mudah2an persahabat lewat dunia maya ini bermanfaat.Salam Persahabatan dan salam sayang buat sahabat2 blogger dimana saja.
Selanjutnya, tanda cinta ini saya sematkan untuk sahabat saya: Mbak Rossy di Osaka .



