Kyoto - Osaka
Dan jadilah kami berangkat tanggal 24 Agustus lalu.
Pagi2 pukul 6.30 kami bersama om Dhani (kebetulan mau mudik ke Riau) menuju ke Saga Eki (Stasiun Saga). Dari Saga kita naik kamome (kereta express) menuju Hakata, sekitar satu jam.
Subhanallah dapat kesempatan ini, dalamnya gak nyangka banget, lebar, tempat duduknya nyaman dan besar, bagus banget, bersih, harum, lengkap dengan toilet yang bener2 bersih dan terawat, terus ada juga jidhohambaiki (orang Indonesia yang datang ke Jepang biasa menyebut ATM minuman).
Saat shinkansen beranjak meninggalkan Hakata, suaranya hampir tak terdengar (atau aku yang keasyikan ya...) bener2 gak kerasa goyangannya, padahal cepet banget. Tiba2 ada suara agak menderu atau mendengung gitu untuk waktu kurang lebih 5 menitan, ternyata shinkansen tadi melewati bawah laut. Lagi nyebrang ceritanya, dari kepulauan Kyushu ke Kepulauan Honshu (Kepulauan terbesar di Jepang, ada Tokyo, dll). Perjalanan kami melalui rute Fukuoka-Yamaguchi-Hiroshima- Okayama-Kobe-Osaka dan terakhir di Kyoto. Lumayan lah pernah melewati, walaupun gak turun. Bener2 Jepang tuh banyak banget gunung kecil atau perbukitan. Hampir sepanjang perjalanan kita menerobos bukit. Setidaknya bisa jadi bahan pembanding antara Saga dengan kota2 lain yang pernah kami lewati. Semua kota yang kami lewati ternyata puadaattt banget...(dasar wong ndeso...ke kota ya heran...ehhehee). Bener2 padat, saya sempat berfikir seandainya saya tinggal disana pasti pusing. Di setiap stasiun terlihat orang berlalu lalang dan berjalan dengan sangat cepat. Ya, mereka sepertinya bener2 di kejar waktu, waktu untuk naik kereta atau bus selanjutnya.
Alhamdulillah selama perjalanan dari Hakata-Kyoto lancar dan memakan waktu 3 jam, berarti jarak yang ditempuh sekitar 900 km.
Sampe di Kyoto Eki, sambil menunggu bus yang datangnya setiap 10 menit, disempetin foto dulu. Tapi ya gitu, berhubung orang sudah berjubel jadi susah banget. Konon katanya Kyoto Eki itu luasnya hampir sama dengan luasnya senayan Jakarta. Belum lagi panasnya saat itu bukan main, sekitar 35 derajat, dan Saga saat itu panasnya mencapai 40 derajat.
Di depan pintu gerbang Kyoto Imperial Palace
Hingga kini bangunan2 yang ada di kota Kyoto masih banyak yang
Penduduknya beda banget sama yang kulihat di Saga. Sepertinya disini sudah modern, dilihat dari cara berpakaian atau penampilannya. Kalau di Saga saat di bus melihat orang tua berdiri anak muda langsung kasih tempat kepadanya, atau sekedar mengangguk, tapi disini berkali2 naik bus kok ya sama... mereka banyak yang cuek, dibiarkan saja orang tua tadi berdiri dan si anak muda asyik main game pake Hpnya. Yah...emang beda sih...
Kita sholat di tamannya KIP. Selepas ashar, sempat jalan2 ke counternya Kimono dan Yukata. Kebetulan waktu itu baca di koran Kyoto (eh, lihat gambarnya dink...) banyak diskon. Bener, Yukata seukuran Safa cuma 1000 yen, tas/pernik2nya dijual sekitar 500 yen. Sedangkan Yukata untuk ukuran aku juga seharga 1000 yen, semuanya itu tadi dari harga awal 9000 yen. Akhirnya kita beli yukata untuk anak2 sebanyak 3 biji dan yukata besar 2 biji. Lumayan lah, karena di Saga harga termurah untuk satu set Yukata kecil 2980 yen.
Pulang ke penginapan, mandi, sholat, makan, langsung tidur. Sementara bapaknya Safa melanjutkan persiapan untuk presentasi esoknya.
Pagi jam 8 kita tinggalkan penginapan, eh saat di lobby ketemuan sama orang Indonesia yang juga mau ikutan Gakkai. Bertemu dengan mbak Silvi, suami dan kedua putranya, mereka dari Yokohama. Seneng banget, akhirnya kita bareng2 menuju ke tempat sasaran. MAsih naik bus dan kereta lagi, kurang lebih 1 jam. Di kereta ketemu sama orang Indonesia lagi (lupa namanya, dari Tokyo, masnya masih bujangan asal Mataram) jadi rame.
Sementara bapak2 melanjutkan gakkai di sesi kedua, kita lanjutin cerita2, mandiin anak2, mandi sendiri, beres2 rumah. Pukul 8 malam acara selesai, rombongan suami dan teman2 masih melanjutkan acara reunian di restoran susi, sampe hampir jam 11 malam. Di jam2 begitu Kyoto masih saja dipadati orang yang berlalu lalang, bener2 suasananya seperti di pasar malam (kata Om Widya yang tinggal di Kyoto sih tempat ini emang tempat paling rame dan tempat favorit orang2 Kyoto untuk makan). Di sekitar restoran Tofu tempatnya, konon untuk bisa makan tofu di resto ini mesthi pesan tempat dulu, soalnya rame banget dan tofunya enak banget. Suami pernah diajak teman Jepang makan disitu, saat tahun 2002 lalu. Pak Toru Muso, perwakilan JICA yang ada di Surabaya, tepatnya di kantor suami.
Selepas makan rombongan menuju ke tempat tinggalnya Om Widya. Semua tidur disana, bukan tidur tuh bapak2 malah cerita2 sampe pagi, saling curhat sensei masing2.
Osaka
Pagi2 bangun, mandi, mandiin Safa, kita semua bersiap untuk ke OSAKA. Ternyata kita ganti kereta sampe 3 kali, dan selang kereta satu ke lain kereta cuma 3 menit, jadi cepet2 jalannya. Kalu gak gitu nunggu kereta selanjutnya 30 menit lagi. Waduh...ini yang berat bagiku...sambil gandeng Safa, pegangin perut buncit terus jalan cepat2 ...duh Gusti mudah2an semuanya baik2 saja. Tujuan awal ke rumahnya pak Bagus (mbak Rossy), yang kebetulan ada bayi ganteng Hiko dan kakaknya yang cantik Bilqis. Makan siang disana. Makasih mbak Rossy hidangannya. Rencana selanjutnya ke Osaka Universal Studio, berhubung ternyata jaraknya sangat jauh, katanya sih sudah masuk Osaka yang agak pinggir, deket Kobe dan memakan waktu lama plus ngantrinya juga lama plus hari minggu semuanya batal deh... Ya wis lah gak papa, karena kita juga di kejar waktu, nanti jam 5 sore kita mesthi sudah di Osaka Eki untuk pulang ke Saga.O, iya ini juga pengalaman pertama bagiku dan Safa naik kereta Monoril, itu tuh kereta yang rodanya cuma satu, ditengah dan jalannya di atas banget, sekitar 10-15 meteran dari bawah, sempat ngeri lihat bawah, takut saja bawaannya, habis monorel tadi kayaknya jalan di atas rel yang letaknya sama gedung bertingkat 3 . Ndeso to aku...? Biar ndeso ra popo sing penting sudah ngerasain ehheheeee...
Sempat deg2an saat perjalanan, Safa sempat lari2 gak mau
diajak pulang saat beli oleh2, takut ketinggalan Shinkansen pulangnya, kalau enggak kita nunggu shinkansen yang jam 9 malam, belum tentu dapat tempat duduk, karena semua sudah dipesan, dan kalau mau menggeser mesthi lapor dulu atau paling tidak konfirmasi masih ada tempat duduk gak. Tepat 3 menit kita nyampe eki dan langsung naik shinkansen. Kalau naik shinkansen kita gak usah repot cari gerbong mana yang akan kita naiki, karena dalam kippu /karcisnya dah tertera kita naik di gerbong berapa, kursi nomer berapa dan kita cukup berdiri di depan tulisan. misal gerbong 3, kita berdiri di depan tulisan 3 dah otomatis pintu akan terbuka dengan sendirinya, kita tinggal masuk dan cari nomer kursi. bener2 gampang dan praktis. Pulangnya kebagian shinkansen yang seri 300, sedikit dibawahnya yang kita naiki saat berangkat. Lumayan walaupun gak selebar yang seri 700, tapi sama2 nyaman, tetep gak kerasa kok.Perjalanan malam sangat menyenangkan, kelihatan banget keindahan kota. Sampe Hakata kita pukul 8 malam, langsung naik kereta ke Saga Eki. Sampe Saga pukul 9 malam, mampir di Mister donat, ngopi, naik taxi sampe rumah, beres2 kamar, ganti seprei, mandi, sholat dan tepar. Tidur sampe pagi.






