Ichigo Gari
Berawal dari sebuah percakapan dengan sensei nihon go volunter :
Aku : sensei di Saga ada gak ya kebun Ichigo ?
Sensei : emang kenapa ?
A : enggak, saya cuma mau tanya, kalo ada dimana
S : Ada, di dekat rumahku... mau kesana
A : Mau sensei, saya mau kasih sebuah kenangan buat teman saya yg mau pulang ke Indonesia
bla bla bla bla bla................. Sensei : OK, besuk tanggal ini jam ini, semuanya siap di rumahmu, ajak si Bigya dan suaminya ya (sahabatku orang Nepal). Suami dan anakku akan menjemput kalian semua dan semuanya gratis, karena yang punya kebun paman suami sensei.
Alhamdulillah....ya ya ya ..sensei terima kasih...
Jadilah minggu kemaren kita pergi kesana dan seneng banget.
Sekitar 45 menit perjalanan dari rumah. Sampe sana, Tuan rumah sudah menyambut dengan ramah, tak jauh beda sama seperti di Indonesia, mereka senang sekali kedatangan kita. Kita langsung diajak ke kebun ichigo yang kebetulan letaknya tepat disamping rumah pemiliknya. Tidak luas, cuma kira2 seluas setengah hektar. Ichigo ditanam didalam rumah plastik.
Begitu rumah plastik dibuka, semua langsung tersenyum, alhamdulillah...akhirnya, subhanallah...begitu indahnya dan berdecak kagum. Seneng banget...si Pemilik kebun langsung ngasih tau gimana cara memetiknya dan silahkan dimakan...tabete kudasai...
Halah...dengan gaya yang malu2 kita langsung petik sendiri, makan..ehmn...oshiikatta...bener2 enak, manis banget... dan tak lupa pasang aksi. Biasa wong ndeso eh...kebalik ya...wong kutho ke kebun ya foto2, jadi ndeso tenan ki...
O,iya ichigo ini dalam penanamannya hanya memakai pupuk kompos saja, tidak ada bahan kimiapun yang masuk, karena kalo dah kemasukan bahan kimia akan cepat rusak, cepat busuk dan buahnya tidak manis. Cara panen pun juga ada aturannya. Dilakukan pagi hari dan saat ambil buahnya pasti akan bunyi...pluk..pluk..gitu...berarti benar memetiknya, kalo gak bunyi salah...maka dari itu kita disuruh nyoba sampe bisa bunyi.
Kenapa petani di Indonesia tidak bisa begitu ya ? ya jelas gak bisa tho mbak...lha wong petani di Indonesia sudah dibawah kendali tengkulak, harga yang mematok tengkulak..Pemerintah dah tidak bisa berkutik..Bagaimana hayooo pemerintah, yang sering studi banding ke luar negeri ? Contoh dong yang baik...jangan cuma menghamburkan uang pajak tanah dari petani saja..
Tak lebih dari sejam kita berada di dalam rumah plastik, gak tahan panasnya, kita keluar dan dibawa ke dalam rumahnya. Kebetulan istri dan anak2 mereka sedang melakukan packing. Mereka memasukkan ichigo ke kotak yang sudah disediakan. Dan ternyata sebelum Ichigo masuk ke distributor terlebih dulu dimasukkan dalam ruangan yang suhunya sudah ditentukan selama kurang lebih 2 jam.
Tidak enak terlalu lama bertamu, akhirnya kita cabut dan diajak mampir di rumah sensei. Ternyata beliau sudah menyiapkan hidangan makan siang buat kami. Alhamdulillah... semua makanan langsung kita sikat. Dan khusus untuk kita hari ini , sensei rela mengeluarkan kembali boneka hinamatsuri untuk kita lihat.
Di rumah senseipun kita tak mau lewatkan kesempatan ini untuk berfoto ria. Halah...dasar blogger...gak mau ketinggalan deh untuk yang satu ini. Selesai makan kita pulang, biasa SMP (selesai Makan pulang). Sensei...kyo wa hontoni arigatou gozaimashita...tanoshikatta desu. Rainen wa ikitai...hehehhehe dah mulai nglamak nih...
Buat Mbak Emma, salah ya..Ibu Doktor dokter Rahmawati Minhajat dan ibu Doktor dokter Uleng Bahrun mudah2an senang dan berkesan kenangan di detik2 terakhir kepulangannya ke Makassar. Sedih tanggal 8 mereka dah balik, sedih sudah gak ada yang ajak jalan2 daku...ya...kalo jalan mesthi tunggu suami ...Kami akan selalu merindukan kalian semua...Tiwi ...Dhani...terimakasih untuk kebersamaannya selama ini.





















































