Anugerah Terindah

Friday, September 28, 2007

Kyoto - Osaka

Sebenarnya sudah cerita basi, karena sudah sebulan lebih. Berhubung adikku selalu menanyakan, dah sekarang ada kesempatan, ya sudah posting juga nih.
Kebetulan suami ada gakkai (konferens) di Kyoto dan kebetulan juga saat itu pas ultah kami, itung2 hadiah ultah buat kami. Selama 2 tahun tinggal disini saya dan Safa belum pernah naik shinkansen, konon katanya kereta api super cepat di dunia (bener gak ya...?) kecepatannya 300 km/jam. Diputuskan suami mengajak kami, sekalian jalannya, waktunya ada (pas jum'at, sabtu, minggu) sekalian keluarin duitnya juga hehehee.... Maklum harga tiket shinkansen lebih mahal daripada naik pesawat.
Dan jadilah kami berangkat tanggal 24 Agustus lalu.
Pagi2 pukul 6.30 kami bersama om Dhani (kebetulan mau mudik ke Riau) menuju ke Saga Eki (Stasiun Saga). Dari Saga kita naik kamome (kereta express) menuju Hakata, sekitar satu jam.

Dari Hakata, kita menunggu sekitar 7 menit dan langsung naik Shinkansen. Kebetulan banget dapat Shinkansen yang seri 700, Nozomi. Shinkansen terbaru katanya. Begitu memasuki gerbong, duduk, syukur alhamdulillah langsung kuucapkan, akhirnya kesampaian juga nih...
Subhanallah dapat kesempatan ini, dalamnya gak nyangka banget, lebar, tempat duduknya nyaman dan besar, bagus banget, bersih, harum, lengkap dengan toilet yang bener2 bersih dan terawat, terus ada juga jidhohambaiki (orang Indonesia yang datang ke Jepang biasa menyebut ATM minuman).
Saat shinkansen beranjak meninggalkan Hakata, suaranya hampir tak terdengar (atau aku yang keasyikan ya...) bener2 gak kerasa goyangannya, padahal cepet banget. Tiba2 ada suara agak menderu atau mendengung gitu untuk waktu kurang lebih 5 menitan, ternyata shinkansen tadi melewati bawah laut. Lagi nyebrang ceritanya, dari kepulauan Kyushu ke Kepulauan Honshu (Kepulauan terbesar di Jepang, ada Tokyo, dll). Perjalanan kami melalui rute Fukuoka-Yamaguchi-Hiroshima- Okayama-Kobe-Osaka dan terakhir di Kyoto. Lumayan lah pernah melewati, walaupun gak turun. Bener2 Jepang tuh banyak banget gunung kecil atau perbukitan. Hampir sepanjang perjalanan kita menerobos bukit. Setidaknya bisa jadi bahan pembanding antara Saga dengan kota2 lain yang pernah kami lewati. Semua kota yang kami lewati ternyata puadaattt banget...(dasar wong ndeso...ke kota ya heran...ehhehee). Bener2 padat, saya sempat berfikir seandainya saya tinggal disana pasti pusing. Di setiap stasiun terlihat orang berlalu lalang dan berjalan dengan sangat cepat. Ya, mereka sepertinya bener2 di kejar waktu, waktu untuk naik kereta atau bus selanjutnya.
Alhamdulillah selama perjalanan dari Hakata-Kyoto lancar dan memakan waktu 3 jam, berarti jarak yang ditempuh sekitar 900 km.

Di depan Shinkansen Nozomi, seri 700

Di depan Kyoto Eki

Sampe di Kyoto Eki, sambil menunggu bus yang datangnya setiap 10 menit, disempetin foto dulu. Tapi ya gitu, berhubung orang sudah berjubel jadi susah banget. Konon katanya Kyoto Eki itu luasnya hampir sama dengan luasnya senayan Jakarta. Belum lagi panasnya saat itu bukan main, sekitar 35 derajat, dan Saga saat itu panasnya mencapai 40 derajat.

Kita langsung naik bus menuju ke penginapan. Sampe penginapan kita letakkan barang, dan keluar makan siang sekalian jalan ke Kyoto Imperial Palace/KIP (mudah2an gak salah nulisnya). Gak sempat muterin semua tempat, karena luas areal ini sekitar 65 hektar, bisa2 gempor kalau harus jalan kaki, gak ada persewaan sepeda/mobil keliling di dalam sih... Ini merupakan Sejarah Kerajaan Kyoto/Jepang tertua, semacam keraton gitu. Pada jaman dulu, ibukota Jepang adalah Kyoto. Seiring berkembangnya perekonomian dan pusat kota menjadi sangat padat dan sudah tidak layak menampungnya, akhirnya ibukota Jepang berpindah ke Tokyo. Maka dari itu Kyoto disebut sebagai Kota Tua nya Jepang.



Di depan pintu gerbang Kyoto Imperial Palace

Hingga kini bangunan2 yang ada di kota Kyoto masih banyak yang terlihat kuno, masih banyak rumah2 asli. Suasananya juga demikian. Kelihatan gimana gitu...apa mungkin karena banyaknya jinja (kuil) dimana2 ya... karena Kyoto juga terkenal dengan kuil2 besarnya.
Penduduknya beda banget sama yang kulihat di Saga. Sepertinya disini sudah modern, dilihat dari cara berpakaian atau penampilannya. Kalau di Saga saat di bus melihat orang tua berdiri anak muda langsung kasih tempat kepadanya, atau sekedar mengangguk, tapi disini berkali2 naik bus kok ya sama... mereka banyak yang cuek, dibiarkan saja orang tua tadi berdiri dan si anak muda asyik main game pake Hpnya. Yah...emang beda sih...
Kita sholat di tamannya KIP. Selepas ashar, sempat jalan2 ke counternya Kimono dan Yukata. Kebetulan waktu itu baca di koran Kyoto (eh, lihat gambarnya dink...) banyak diskon. Bener, Yukata seukuran Safa cuma 1000 yen, tas/pernik2nya dijual sekitar 500 yen. Sedangkan Yukata untuk ukuran aku juga seharga 1000 yen, semuanya itu tadi dari harga awal 9000 yen. Akhirnya kita beli yukata untuk anak2 sebanyak 3 biji dan yukata besar 2 biji. Lumayan lah, karena di Saga harga termurah untuk satu set Yukata kecil 2980 yen.

Dari tempat Yukata kita balik lagi ke Kyoto Eki, jalan2 di Isetan sekalian beli susu dan bekal buat Safa. Harga lumayan, hampir 2 - 2,5 kali lipat dari yang di Saga. Sebagai contoh susu murni kalau di Saga seharga 200 yen per dus, disini seharga 400 yen, air mineral 2 liter biasanya cuma 100 yen menjadi 298 yen. Katanya di Jepang semua harga sama, terbukti masih tetep saja beda. Untuk makanan per set/ bento per kotak harga sama/normal.
Pulang ke penginapan, mandi, sholat, makan, langsung tidur. Sementara bapaknya Safa melanjutkan persiapan untuk presentasi esoknya.
Pagi jam 8 kita tinggalkan penginapan, eh saat di lobby ketemuan sama orang Indonesia yang juga mau ikutan Gakkai. Bertemu dengan mbak Silvi, suami dan kedua putranya, mereka dari Yokohama. Seneng banget, akhirnya kita bareng2 menuju ke tempat sasaran. MAsih naik bus dan kereta lagi, kurang lebih 1 jam. Di kereta ketemu sama orang Indonesia lagi (lupa namanya, dari Tokyo, masnya masih bujangan asal Mataram) jadi rame.
Sampe Kyoto University kita langsung ketemuan sama orang2 Indonesia, bener2 seneng dan terasa banget kayak di Indonesia. Kebetulan banyak teman seangkatan suami yang ikut gakkai, sekitar 15 orang plus keluarganya. Kata suami peserta gakkai sih sekitar 100 orang plus banyak nya panitia. Sementara para suami gakkai, ada juga yang suami istri ikutan gakkai lho, kita kenalan sama teman2 baru, dan anak2 langsung bermain. Kita semua langsung akrab, seneng banget, pada cerita pengalaman masing2 selama tinggal disini. Tak sengaja juga, ketemuan sama satu almamater, mbak Dian dari Kimia ITS (suaminya kebetulan dah post dok), mbak Indah, Biologi ITS (sedang ambil program doktor di Kanazawa).

Sayang, gak bisa bareng2 fotonya, ada yang sholat, ada yang lari ngejar anak,
ada yang lagi gakkai

Kebetulan mbak Indah ini teman sepupuku yang juga dosen Biologi ITS, yang dulu sering main di kosan dan jadinya bener2 seperti reuni. Ada mbak Yayuk dari Solo, mbak Susi dari Palembang, mbak Teny dari ITB, mbak Dewi dengan Viranya, mbak Tentri dari ITB, mbak Latifah dari ITB, mbak Indah dari ITB juga dan masih banyak mbak2 lainnya, sampe lupa nyebutin namanya satu2. Wah pokoke seru banget... banyak teman. Pas makan siang semua bapak2 menuju ke rumah contoh yang kita tempati, ternyata mereka sudah sepakat untuk mengadakan reuni untuk angkatan 2005. Seru banget, bapak2 kalau ngumpul juga gak kalah heboh dari ibu2 yang malah sedikit diam (maklum kebanyakan baru pertama kali ketemu).
Sementara bapak2 melanjutkan gakkai di sesi kedua, kita lanjutin cerita2, mandiin anak2, mandi sendiri, beres2 rumah. Pukul 8 malam acara selesai, rombongan suami dan teman2 masih melanjutkan acara reunian di restoran susi, sampe hampir jam 11 malam. Di jam2 begitu Kyoto masih saja dipadati orang yang berlalu lalang, bener2 suasananya seperti di pasar malam (kata Om Widya yang tinggal di Kyoto sih tempat ini emang tempat paling rame dan tempat favorit orang2 Kyoto untuk makan). Di sekitar restoran Tofu tempatnya, konon untuk bisa makan tofu di resto ini mesthi pesan tempat dulu, soalnya rame banget dan tofunya enak banget. Suami pernah diajak teman Jepang makan disitu, saat tahun 2002 lalu. Pak Toru Muso, perwakilan JICA yang ada di Surabaya, tepatnya di kantor suami.
Selepas makan rombongan menuju ke tempat tinggalnya Om Widya. Semua tidur disana, bukan tidur tuh bapak2 malah cerita2 sampe pagi, saling curhat sensei masing2.

Sesaat sebelum pulang menyempatkan berfoto ria di depan Kyoto Eki, bersama m Dian, m Indah, mbak Latifah, Nia, Aisya, Fatimah dan Safa. Saya banyak belajar dari ibu2 yang lain. Begitu banyak cerita mengenai kehidupan dan pengalaman masing2 selama tinggal di perantauan. Sedikit banyak intinya kita mesthi buanyak banyak sabar, memberi dorongan dan semangat suami, dan banyak berdoa agar studi suami kita lancar dan dipermudah ALLAH SWT. Amin. Terima kasih untuk pertemuan kali ini dan mudah2an di lain kesempatan kita masih bisa bertemu lagi. Amin.

Osaka

Pagi2 bangun, mandi, mandiin Safa, kita semua bersiap untuk ke OSAKA. Ternyata kita ganti kereta sampe 3 kali, dan selang kereta satu ke lain kereta cuma 3 menit, jadi cepet2 jalannya. Kalu gak gitu nunggu kereta selanjutnya 30 menit lagi. Waduh...ini yang berat bagiku...sambil gandeng Safa, pegangin perut buncit terus jalan cepat2 ...duh Gusti mudah2an semuanya baik2 saja. Tujuan awal ke rumahnya pak Bagus (mbak Rossy), yang kebetulan ada bayi ganteng Hiko dan kakaknya yang cantik Bilqis. Makan siang disana. Makasih mbak Rossy hidangannya. Rencana selanjutnya ke Osaka Universal Studio, berhubung ternyata jaraknya sangat jauh, katanya sih sudah masuk Osaka yang agak pinggir, deket Kobe dan memakan waktu lama plus ngantrinya juga lama plus hari minggu semuanya batal deh... Ya wis lah gak papa, karena kita juga di kejar waktu, nanti jam 5 sore kita mesthi sudah di Osaka Eki untuk pulang ke Saga.


Di kediaman mbak Rossy

O, iya ini juga pengalaman pertama bagiku dan Safa naik kereta Monoril, itu tuh kereta yang rodanya cuma satu, ditengah dan jalannya di atas banget, sekitar 10-15 meteran dari bawah, sempat ngeri lihat bawah, takut saja bawaannya, habis monorel tadi kayaknya jalan di atas rel yang letaknya sama gedung bertingkat 3 . Ndeso to aku...? Biar ndeso ra popo sing penting sudah ngerasain ehheheeee...
Sempat deg2an saat perjalanan, Safa sempat lari2 gak mau diajak pulang saat beli oleh2, takut ketinggalan Shinkansen pulangnya, kalau enggak kita nunggu shinkansen yang jam 9 malam, belum tentu dapat tempat duduk, karena semua sudah dipesan, dan kalau mau menggeser mesthi lapor dulu atau paling tidak konfirmasi masih ada tempat duduk gak. Tepat 3 menit kita nyampe eki dan langsung naik shinkansen. Kalau naik shinkansen kita gak usah repot cari gerbong mana yang akan kita naiki, karena dalam kippu /karcisnya dah tertera kita naik di gerbong berapa, kursi nomer berapa dan kita cukup berdiri di depan tulisan. misal gerbong 3, kita berdiri di depan tulisan 3 dah otomatis pintu akan terbuka dengan sendirinya, kita tinggal masuk dan cari nomer kursi. bener2 gampang dan praktis. Pulangnya kebagian shinkansen yang seri 300, sedikit dibawahnya yang kita naiki saat berangkat. Lumayan walaupun gak selebar yang seri 700, tapi sama2 nyaman, tetep gak kerasa kok.
Perjalanan malam sangat menyenangkan, kelihatan banget keindahan kota. Sampe Hakata kita pukul 8 malam, langsung naik kereta ke Saga Eki. Sampe Saga pukul 9 malam, mampir di Mister donat, ngopi, naik taxi sampe rumah, beres2 kamar, ganti seprei, mandi, sholat dan tepar. Tidur sampe pagi.
ALhamdulillah selama perjalanan Safa gak rewel2, karena dapat teman baru, mbak Nia putrinya mbak Latifah dan om Acep. Sampe sekarang setiap kali Safa sering menanyakan mbak Nia. Kapan ketemu lagi ya mah...
Safa bersama Mbak Nia

Dan juga alhamdulillah si kecil di perut juga gak rewel, ibunya baik2 dan gakkai bapaknya juga lancar. Dokumentasi selengkapnya ada di Handycam, sebagai dokumentasi pribadi.

Thursday, September 27, 2007

Kaya anak sekolahan aja...

Jujur nih, sebenarnya saya males banget untuk ngerjain PR dalam blog. Bukan kenapa, karena saya bukannya orang yang suka berlama2 di depan kompi, duduk manis, atau sekedar browsing sesuatu yang kurang bermanfaat bagiku. Untuk update saja kadang muales, selain banyak kerjaan (maklum disini semua dikerjakan sendiri mulai dari beres2 rumah, masak, ngantar jemput anak, nyuci dll, gak ada PRT, gak ada yang bisa bantu2, dan juga gak ada mood) juga gak hobi mengerjakan sesuatu yang kurang penting bagiku. Dan juga saya kembalikan lagi ke tujuan awal ngeblog yaitu untuk sarana komunikasi termurah dengan keluarga. Keluargaku malah protes, lha wong mau lihat cucu kok jadi baca PR, rugi nih dah jauh2 datang2 ke warnet, ngantri, yang dibaca cuman gitu, jadi merasa bersalah nih sama ortu. Jadi maaf ya saudara2 yang kasih daku PR dan saya berharap ini adalah PR terakhir buatku. Catet ya...saya bener gak marah kok, cuma curhat saja...atau mungkin ini bawaan si kecil ya.

Undang-undang Tag:

  1. Each blogger must post these rules
  2. Each blogger starts with eight random facts/habits about themselves
  3. Bloggers that are tagged need to write on their own blog about their eight things and post these rules. At the end of your blog, you need to choose eight people to get tagged and list their names
  4. Don't forget to leave them a comment telling them they've been tagged and to read your blog.
8 Facts About Me:

PR yang nelanjangin diri sendiri nih ceritanya.

1. Aku adalah AKU.
Ya, aku adalah aku dan bukan kamu. Tidak mudah bagimu untuk mempengaruhiku. Kelihatan kan aku gimana...?
2. Keras
Keras dalam berbagai hal, kalau dah menajdi prinsipku jangan harap deh ...
3. Jujur
Bilang ya kalau emang ya, bilang tidak kalau emang tidak. Omong aja apa adanya, gak seneng kebanyakan basa basi.
4. Gampang Banget Percaya Sama Orang lain.
Karena didikan dari kecil untuk selalu jujur, terbawa hingga kini bahwa semua orang ini baik dan bisa dipercaya dan bisa dipercaya. Kadang sebel juga, karena sering dimanfatkan orang lain. Benci banget kalau dah gitu.
5. Gak Bisa Nyembunyikan Raut Muka Kalau pas lagi Marah
Kelihatan banget kan, semua orang pasti akan tau kalau saya lagi marah, cukup dengan melihat raut mukaku. (yang paling gak enak kalau lagi sewot sama suami, ketahuan mertua nih....)
Yang ini paling sebel, kenapa ya gak bisa sembunyikan. Ada ide dari teman2 mungkin untuk mengatasi hal ini ?
6. Gak bisa Lihat Kamar Mandi Kotor
Kebiasaan sih, kalau kamar mandinya jorok jadi gak nyaman mandinya, gak bisa berlama2.
Dan bagiku kamar mandi tuh bisa jadi cermin yang punya rumah.
7. Gak suka mereka yang bermuka dua dan pengkhianat
Gak perlu dijelasin kayaknya semua dah pada tau, apa maksudnya.
8. Boros
Kalau yang ini susah banget ngilanginnya, gak bisa deh lihat sesuatu yang bagus, murah.
Makanya sampe sekarang tabungan gak nambah banyak.

Saya tidak akan melempar kemana2 karena takut memberatkan atau ada yang tidak berkenan.
Selesai dan cukup. Jangan kasih PR daku lagi ya... mbak DianIbung dan juga Pak Guru Edi.

Maaf kalau tidak berkenan, tidak ada sedikitpun maksud untuk menyinggung perasaan teman, tetapi itulah saya. Aku adalah aku, dan jujur sudah menjadi pilihanku.
Daripada benjol di belakang, buat gunjingan mending utarakan.

Wednesday, September 12, 2007

Marhaban Yaa Ramadhan

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, ” (QS. Al-Baqarah : 183)

Selamat datang ramadhan...
selamat datang ramadhan...
selamat datang ramadhan...
ALhamdulillah, sebentar lagi bulan suci Ramadhan akan tiba.
Kami rindukan kedatangannya, rindukan semuanya tentang ramadhan.
Sebelumnya kami sekeluarga, dengan segala kerendahan hati
Mohon maaf kepada saudara2 semuanya, kawan, handai tauland, dimanapun berada atas segala salah dan khilaf
Mudah2an di bulan yang suci ini, kita bisa menjalankan puasa dengan baik, lancar
Semua ibadah, amalan2 dan puasa kita di terima ALLAH SWT.
DAn bisa dipertemukan dengan malam seribu bulan, lailatul Qodar.
Amin, amin, amin ya rabbal 'alamin.

Tuesday, September 04, 2007

Kado dari Mbak Miming

Mbak Miming, sebelumnya makasih dah kasih kado buat aku. Namun maaf baru sempat aku uraikan isinya. Isi kado nya bikin cerita. Weleh...yang ini susah buatku.Maklum dulu setiap kali pelajaran bahasa Indonesia, bawaannya ngantuk dan kurang memperhatikan. Maaf ya kalau kurang bagus isinya, namun cerita ini asli pengalaman pribadiku saat pertama kali nginjak ke negeri sakura ini.

Berangkat dengan modal nekat, karena sama sekali belum belajar bahasa Jepang, apalagi ikut kursus. Bukan malas atau kenapa ? karena saat pengumuman suami dinyatakan dapat beasiswa, saya lagi hamil 7 bulan, dan juga saat itu saya masih kerja, rasanya gak mungkin saat itu aku ikut kursus Nihon go. Saat melahirkanpun aku juga tidak ditunggui suami. Setelah melahirkan, kuputuskan keluar kerja, rumah di Surabaya di kontrak teman, terus aku pulang kampung ke rumah ibuku sambil menunggu waktu dijemput suami tiba ( dikampungku gak ada tempat kursus bahasa Jepang, maklum kampung), hanya bermodal Arigatoo(terima kasih), hai (ya), iie(tidak), dan sedikit kosakata lainnya (otodidak, tapi ya itu sering lupa...).

Untuk tulisan apalagi, benar-benar buta huruf, sama sekali gak bisa baca.
Baru satu minggu tinggal di Saga, saat di tinggal suami ke kampus, aku sudah tidak betah, maunya ingin pulang, bawaannya mau nangis terus, aku benar benar merasa jadi orang paling bodoh (kenapa saya gak belajar bahasa dari dulu...? kenapa begini, kenapa begitu ? tau gitu aku dirumah saja, gak usah ikut suami). Setiap kali keluar aku jadi makin pusing dan bingung, mendengar orang bercakap, tapi tak tahu maksudnya, melihat tulisan kanji dimana mana, tapi tak bisa membaca. Sungguh merupakan suatu dilema yang sangat berat dan tantangan terbesar dalam hidupku.
Bener2 bisu dan tuli keadaanku saat itu, bisa melihat tapi tak bisa membaca, bisa mendengar tapi tak tau maksudnya.
Apalagi saat baru seminggu, ada orang Jepang datang kerumah, ngomong pake Nihon go.
Terjadilah sebuah percakapan menegangkan bagiku
Nihon jin (Orang Jepang) : Sumimasen, Ferrysan irrashaimasuka (Maaf Pak Ferry ada), Ferry tuh nama suamiku.
Aku : iie, Saga daigaku de. (enggak ada, ada di kampus Saga)
NJ : soo desuka...(o, begitu).... bla bla bla bla.......

Duh aku dah mulai pusing, keringat dingin keluar semua, tangan, kaki dan bibir pun seolah berkeringat, dia ngomong terus tiada henti, aku gak ngerti sama sekali maksudnya. Dengan Bahasa Inggris yang mungkin belepotan sekali aku coba beranikan ngomong.

Aku tanya : Can you speak English ?
NJ : no...no..sorry sorry, ...sambil gedek kepala. Selanjutnya dia bilang dari Saga Gasu (sambil menunjuk tabung gas di depan rumah, kalau gitu sih aku ngerti...).

Aku bilang : i am sorry, i can't speak Nihon go (bahasa Jepang, Biar gampang saja, dia kan tau kalau nihon go).

Nihon jin tadi tetep saja ngomong, aku cuma senyum2 dan bilang...sumimasen...wakaranai... (sesuai pesan suami kalau ada orang tanya disuruh jawab begitu).
Waduh, mati aku batin ku saat itu. Sudah tau sama2 gak ngerti bahasanya, masih tetap ngotot ngomong apa, aku gak ngerti, kayaknya orangnya maksa banget gitu.....
Lalu : "OK. my husband can speak Nihon go".

Sambil bawa buku pedoman berbahasa Jepang milik suami aku bilang : "Chotto Matte kudasai " (silahkan tunggu sebentar).
Aku berlari kedalam rumah .... karena sama sama bingung gak ngerti maksudnya, akhirnya :
masih bawa buku aku bilang : "kaite kudasai (silahkan tulis)"kebetulan saat itu buku yang kubuka ada tulisan kaite kedasai...yo wis tak coba wae...

lalu kusodorkan kertas dan bolpen padanya untuk menulis pesan, biar nanti aku sampaikan kepada suamiku.
Orang itu tidak segera menulis pesan, apalagi segera beranjak dari rumah, malah ia tanya : " nan ji ni kaerimashuka " (jam berapa suamimu pulang)

Aduh, ngomong apalagi orang ini...., karena orang nya sambil melihat jam dan menuding rumah saya jawab pakai jam juga, saya tuding jam 1, dan kukasih tau dengan bahasa tarsan kalau pas waktu makan siang.

Akhirnya orang tadi mau nulis pesan di kertas yang aku kasih, dia nulis pake kanji. Untung suamiku bisa baca kanji...kalau gak malah tambah repottt.....

Dia serahkan kertas itu dan dia beranjak pulang sambil mengucapkan permintaan maafnya, akupun juga minta maaf padanya atas ketidaktahuanku menggunakan bahasanya.

Setelah suami datang kuceritakan kejadian tadi, suami cuma cengar cengir dan menahan tawa.
Ternyata usut punya usut, orang tadi memberitahukan cara pembayaran gas. Woalah....

Sore hari setelah kejadian itu aku diajak suami jalan2 di KS denki (nama supermarket elektronik). Saat baru masuk terkejut sekali aku mendengar, hampir semua pegawai yang ada secara bergantian berteriak irasaimashe, irasaimashe irasaimashe....(selamat datang begitu kurang lebih artinya...) dan saat aku lewat didepannya semua pada membungkukkan kepala.
Heheheee apa apa an ini. aku juga sambut dengan anggukan kepala. Suamiku tersenyum, kenapa ? memang begini, sudah senyum aja....
Aku jadi malu...maklum ini pertama aku keluar rumah. Gak papa deh pengalaman, bathinku.......

Sungguh pengalaman yang tak kan pernah aku lupakan seumur hidupku. Sepulang orang itu tadi aku langsung sakit perut dan maaf aku sampek mules dan bolak balik ke kamar mandi.
Semalaman aku gak bisa tidur dan perutku masih saja mual, memikirkan kejadian siang itu.

Peringatan kepada teman-teman semua kalau akan bepergian ke negara lain, kita mesti bisa bahasa tempat tujuan kita, walaupun sedikit, penting itu, biar kita nyaman. Rasanya bahasa Inggris saja tidak cukup, betul ini.....

Alhamdulillah 2 minggu kemudian ada kelas Nihon go gratis di Saga daigaku (Universitas Saga), lega dan plong.... Seminggu masuk 4 kali, setiap pertemuan 2 jam. Dari sini saya benar2 belajar dari nol, bersama dengan ibu2 dari berbagai negara (kebanyakan sih statusnya sama,..ikut suami), tapi ada juga yang mahasiswa asing yang ambil kelas bahasa sama2.

Mbak Miming...dah kelar nih kadonya...

Berhubung lagi baik hati, gak mau ngelempar PR ini ke mana2 nih. Persiapan menyambut datangnya bulan suci ramadhan, bersih2 diri, sucikan hati, sucikan pikiran, sucikan niat dan juga sucikan rumah kita, siapkan semuanya biar berjalan lancar dan mudah2an bisa ketemu lagi di ramadhan yang mulia, ramadhan yang kita nanti-nantikan. Mohon maaf lahir bathin kepada teman2 blogger semua, mungkin selama ini ada komentar/kata2 saya yang kurang berkenan mohon dimaafkan.