Anugerah Terindah

Wednesday, March 28, 2007

Ichigo Gari


ALhamdulillah, dapat kesempatan gratis, semuanya gratis. Ya kalau dah rejeki pasti tidak akan lari kemana. Mau dikejar kalo belum waktunya pasti gak dapat, mau ditolak kalo dah waktunya ya pasti dapat. Hehhehe..ngomong2 siapa juga yang mau nolak rejeki.
Berawal dari sebuah percakapan dengan sensei nihon go volunter :
Aku : sensei di Saga ada gak ya kebun Ichigo ?
Sensei : emang kenapa ?
A : enggak, saya cuma mau tanya, kalo ada dimana
S : Ada, di dekat rumahku... mau kesana
A : Mau sensei, saya mau kasih sebuah kenangan buat teman saya yg mau pulang ke Indonesia
bla bla bla bla bla................. Sensei : OK, besuk tanggal ini jam ini, semuanya siap di rumahmu, ajak si Bigya dan suaminya ya (sahabatku orang Nepal). Suami dan anakku akan menjemput kalian semua dan semuanya gratis, karena yang punya kebun paman suami sensei.
Alhamdulillah....ya ya ya ..sensei terima kasih...
Jadilah minggu kemaren kita pergi kesana dan seneng banget.

Sekitar 45 menit perjalanan dari rumah. Sampe sana, Tuan rumah sudah menyambut dengan ramah, tak jauh beda sama seperti di Indonesia, mereka senang sekali kedatangan kita. Kita langsung diajak ke kebun ichigo yang kebetulan letaknya tepat disamping rumah pemiliknya. Tidak luas, cuma kira2 seluas setengah hektar. Ichigo ditanam didalam rumah plastik.
Begitu rumah plastik dibuka, semua langsung tersenyum, alhamdulillah...akhirnya, subhanallah...begitu indahnya dan berdecak kagum. Seneng banget...si Pemilik kebun langsung ngasih tau gimana cara memetiknya dan silahkan dimakan...tabete kudasai...
Halah...dengan gaya yang malu2 kita langsung petik sendiri, makan..ehmn...oshiikatta...bener2 enak, manis banget... dan tak lupa pasang aksi. Biasa wong ndeso eh...kebalik ya...wong kutho ke kebun ya foto2, jadi ndeso tenan ki...
O,iya ichigo ini dalam penanamannya hanya memakai pupuk kompos saja, tidak ada bahan kimiapun yang masuk, karena kalo dah kemasukan bahan kimia akan cepat rusak, cepat busuk dan buahnya tidak manis. Cara panen pun juga ada aturannya. Dilakukan pagi hari dan saat ambil buahnya pasti akan bunyi...pluk..pluk..gitu...berarti benar memetiknya, kalo gak bunyi salah...maka dari itu kita disuruh nyoba sampe bisa bunyi.

Ichigo..masih belum siap panen, karen abelum merah semua

Pemilik cerita bahwa dalam waktu 1 tahun (cuma 1/2 tahun saja masa produktifnya), tanah seluas tak lebih dari 1/2 hektar tadi bisa menghasilkan pendapatan bersih sebesar 6.000.000 yen atau sekitar 480 juta. Bayangkan itu cuma dari kebun stroberrynya, belum kebun padi dan kebun lainnya yang berada di sekitar rumah si petani. Bener2 petani disini sangat makmur, karena semua hasil buminya sudah dikoordinir pemerintah (termasuk yang menentukan harga) dan distribusi penjualannya sudah ditentukan. Tak heran kalo petani disini, hampir semua rumahnya besar, mobil paling tidak 3 (dua mobil bagus/mewah, satu mobil untuk angkutan hasil panen), punya traktor sendiri.
Kenapa petani di Indonesia tidak bisa begitu ya ? ya jelas gak bisa tho mbak...lha wong petani di Indonesia sudah dibawah kendali tengkulak, harga yang mematok tengkulak..Pemerintah dah tidak bisa berkutik..Bagaimana hayooo pemerintah, yang sering studi banding ke luar negeri ? Contoh dong yang baik...jangan cuma menghamburkan uang pajak tanah dari petani saja..

Tak lebih dari sejam kita berada di dalam rumah plastik, gak tahan panasnya, kita keluar dan dibawa ke dalam rumahnya. Kebetulan istri dan anak2 mereka sedang melakukan packing. Mereka memasukkan ichigo ke kotak yang sudah disediakan. Dan ternyata sebelum Ichigo masuk ke distributor terlebih dulu dimasukkan dalam ruangan yang suhunya sudah ditentukan selama kurang lebih 2 jam.

Tidak enak terlalu lama bertamu, akhirnya kita cabut dan diajak mampir di rumah sensei. Ternyata beliau sudah menyiapkan hidangan makan siang buat kami. Alhamdulillah... semua makanan langsung kita sikat. Dan khusus untuk kita hari ini , sensei rela mengeluarkan kembali boneka hinamatsuri untuk kita lihat.


Di rumah senseipun kita tak mau lewatkan kesempatan ini untuk berfoto ria. Halah...dasar blogger...gak mau ketinggalan deh untuk yang satu ini. Selesai makan kita pulang, biasa SMP (selesai Makan pulang). Sensei...kyo wa hontoni arigatou gozaimashita...tanoshikatta desu. Rainen wa ikitai...hehehhehe dah mulai nglamak nih...

Buat Mbak Emma, salah ya..Ibu Doktor dokter Rahmawati Minhajat dan ibu Doktor dokter Uleng Bahrun mudah2an senang dan berkesan kenangan di detik2 terakhir kepulangannya ke Makassar. Sedih tanggal 8 mereka dah balik, sedih sudah gak ada yang ajak jalan2 daku...ya...kalo jalan mesthi tunggu suami ...Kami akan selalu merindukan kalian semua...Tiwi ...Dhani...terimakasih untuk kebersamaannya selama ini.

Friday, March 23, 2007

Huis Ten Bosch (episode 2-habis)

Meneruskan cerita yang lalu yang hanya menampakkan bunga tulipnya saja, kini cerita beralih pada bangunan yang ada didalam kawasan HTB. Kebetulan HTB ini tepat berada di bawah perbukitan, jadi udaranya seger banget, bersih lagi. Begitu kita memasuki HSB suasana mendadak berubah total, dari semula semua pemandangan dan rumah atau bangunan yang kita lihat asli berarsitektur Jepang, kini semuanya beda.


Tepat di depan pintu masuk

Bangunan ini berada tepat di tengah-tengah area HTB

Bangunan menjulang tinggi di pintu masuk sudah bergaya nenek moyang penjajah Belanda dulu.Konon menurut cerita pamlet pembangunan kawasan HTB ini menghabiskan dana tak kurang dari 25 juta dolar Amerika pada saat itu (dibangun sekitar tahun 1980-an). Ada sungai/kanal yang mengelilingi kawasan HTB dan di atas kanal itu juga disediakan kapal2 kecil untuk para pesiar yang ingin menikmati keindahan alam. Selain itu ada juga kincir angin kurang lebih 5 buah yang memang menjadi simbol negeri kincir angin.

Boneka Bear raksasa seberat 500 kg

Didalamnya dilengkapi dengan berbagai fasilitas lengkap dengan hotel, restoran ala Eropa, tempat Spa, blog bangunan yang didalamnya menggambarkan cara pembuatan loceng dan alat musik lainnya, ada tempat bermain anak2/istana anak2, ada juga gedung bioskopnya. Dimana terdapat beberapa bioskop, untuk cerita anak2, khusus menceritakan bagaimana Belanda, ada yang bisa membawa kita ke alam impian dunia kristal, ada juga bioskop khusus memutar cerita putri khayalan dan masih banyak lainnya. Tak ketinggalan sajian khas aneka macam makanan dan pernik2 ala Belanda, mulai dari gantungan kunci, hiasan dinding, miniatur kincir angin, cokelat keju dan tak ketinggalan pula keju yang sangat terkenal enaknya. Mantab bisa merasakan keju natural.




Di depan alat2 musik kuno yang masih terawat dan masih menghasilkan bunyi yang merdu

Lengkap dengan atraksi sulap dan komedi opera khas negeri kincir angin

Santai dulu ah..Halah...narsis banget ya..

Bangunan di dalam HTB

Ketemu bu Harini (jilbab kuning) bersama rombongan dari Fukuoka, kebetulan Bu Harini tetangga saya di Magetan, namanya jodoh ketemunya gak disangka

Kami bersama komedian, Bigya-san (sahabatku), dan Rumi-san dari Nepal



Kurang puas naik dreamolen sama bapaknya, Safa kembali naik dreamolen sama tante Emma

Gak perlu khawatir capek mengelilingi area tersebut, karena didalamnya sudah disediakan perahu kecil yang siap menelusuri setiap lorong kanal, bus gaya jaman bahula, ada juga kereta, atau sepeda pancal. Kita tinggal bayar sesuai selera atau ambil paket (seperti kami dan rombongan ambil paket, lebih murah) bisa pake sepuasnya dalam waktu 24 jam.

Perahu yang mengelilingi seluruh area HTB, kurang lebih 30 menit

Kita bisa sewa kereta kuda

Bus yang mengantarkan pengunjung ke berbagai tempat dalam area HTB

Kami bersama rombongan orang Indonesia dan Saga University

Ceritanya pergi bersama rombongan Indonesia, namun begitu sampe sana kita sudah terlena dan tak terkendali langsung ambil posisi masing2 dan siap pasang aksi untuk berfoto ria dan akhirnya kita pisah gak tau kemana, tau2 dah pulang dan tak ada satu lembar pun foto kami bersama. O,ya untuk foto saja susahnya minta ampyun deh, karena banyaknya pengunjung yang lalu lalang, jadi hasilnya kurang memuaskan, selain itu untuk foto di satu obyek yang sekiranya ramai dan bagus, kita mesthi rela antri. Sebenarnya masih banyak yang harus di ceritakan tapi sepertinya sehari ngetik juga gak selesai. Sehari di sana rasanya sebentar sekali dan rasanya kami ingin kembali menikmati indahnya tulip. Insyaallah kalo ada rejeki, ada waktu dan umur panjang tahun depan ingin kembali kesana...belum puas rasanya ... nabung dulu nih..

Untuk keluargaku khususnya mbah Ti, mbah Kung, Enyang Uti, Eyang Buyut, Pak Puh Yon, Bu puh Endang, Dik Didik, mbak Aning, mas Wenas, dik Mega, Dik kembar Ferdy dan Fendy, mbak Nurin, mbak Nika, mbak Tiwi, Om Relly, Om Novi, Dik Tutik, Reza, Tata, Rizky, Fira dan Lala yang dah bisa mengikuti cerita Safa lewat blog, itu sebagian dari cerita kami yang ada diperantauan, mudah2an dengan cerita bergambar ini kerinduan kalian akan kami sedikit terobati...(yee..PD banget kalo mereka pada kangen).
Sampai jumpa di cerita selanjutnya...mau diajak sensei bahasa ke kebun Ichigo (strawberry) ...mau ikut ? duh...sudah gak sabar nih metik ichigo sendiri....lalu langsung makan...oishii sou...

Monday, March 19, 2007

Huis Ten Bosch

Sabtu, 17 Maret 2007 kami sekeluarga bersama rombongan sekitar 29 orang refresing ke Huis Ten Bosch.Sebuah perkampungan Belanda yang terletak di Nagasaki. Dimana semua bangunan berarsitekturkan Belanda dan juga tidak ketinggalan bunga Tulip yang menjadi ciri khas negeri kincir angin.
Begitu turun dari bus, mata langsung seger dan wajah berubah menjadi ceria, Subhanallah Allah sungguh Sang Maha Pencipta atas semua makhuknya. Pemandangan indah sudah di depan mata, beraneka jenis, warna bunga bisa sepuasnya kita nikmati.

Begitu melihat bunga Safa langsung ingat lagunya dan spontan menyanyikannya :
Saita saita turipu no hanaga (merekah-merekah bunga tulip)
Naranda -naranda akai siroi kiiro (berjajar-berjajar merah,putih,kuning)
Donno hana mite mo kirei dana (bunga yang dilihat semuanya indah)

Hamparan warna bunga Tulip berjajar di bawah kincir angin, memenuhi hampir seluruh lahan

Berpose di depan jam bunga



Safa pecinta bunga juga, seperti halnya ibunya






Macem-macem warna tulip, dari kuncup hingga mekar

Safa di depan tulip dan kincir angin

Kamipun selalu bergaya

Cerita bergambar selanjutnya bersambung ya, masih banyak foto-foto narsis kami yang lain, yang tentunya lebih seru.

Tuesday, March 13, 2007

Sankanbi

Acara di sekolah Safa Jounan Hoikouen, sebenarnya sudah 2 minggu yang lalu, namun seperti biasa penyakit "malas dan sok sibuk" menyerang. Sehingga baru kali ini melaporkan kepada pembaca setia. wuekkk..guaya... Sepertinya acara ini rutin diadakan setiap tahun 2 kali, namun yang pertama gak bisa datang, saat itu Safa lagi demam. Sankanbi tak lebih daripada acara sensei ingin menunjukkan / memberitahukan bagaimana anak-anak kita setiap harinya diperlakukan (kayak treatmen saja) di sekolah. Ya, tak lebih daripada semacam mempererat hubungan sensei dengan orangtua murid. Mungkin di seluruh Jepang Sankanbi ada, hanya waktunya saja yang berbeda, tergantung jadwal sekolah masing-masing. Mbak Dewi, bulan lalu juga sudah up date tentang sankanbi di sekolah putranya yang paling ganteng mas Faikar. Bener lho mas Faikar ini jadi idola di sekolahnya, banyak cewek2 teman sekolahnya di Jepang jatuh cinta pada mas Faikar. O,iya mungkin beda cara mengajarkankannya disesuaikan dengan umurnya kali.

Pukul 9 pagi kami bertiga sudah berangkat ke Jounan, sampe sana masih sepi..datang pertama kali. Habis Koso Sensei (senseinya Safa) bilang acaranya pukul 1/2 10 jadi pukul 9 harus dah kumpul. Jadi deh aku dan Safa menunggu di dalam ruangan kelas Safa, kelas Turipu (baca Tulip). Beberapa menit kemudian Aoi Chan datang bersama bapaknya. Lalu Sumire Chan dan diikuti teman lainnya. Sambil menunggu hingga pukul 10 akhirnya Safa bermain bersama teman2nya bikin rumah-rumahan. Sempat ngobrol sama Miyoko sensei, beliau cerita kalo Safa di sekolah selalu ngomong nihon go, cepat dan bla bla bla..paling ini ..paling itu... Bgaimana kalo dirumah apa selalu nihon go ? Enggak sensei..dirumah bahasanya campuran ya bahasa Jawa, ya nihon go ya bahasa Inggris ya bahasa Indonesia.Spontan senseinya Safa tepuk tangan dan bilang heeee... hebat ya masih kecil dah bisa 4 bahasa. Saya cuma nihon go kata sensei. Bukannya hebat sensei..tapi keadaan telah memaksa kami untuk begini... Mau bagaimana lagi ? Itulah sebagian proses dan jalan hidup yang harus kami lalui. Demi sebuah angan dan cita eee ceile..tentunya demi sesuap nasi.
O, iya di kelas Turipu ada 4 sensei dengan 20 siswanya.



Safa foto bareng Sumire-chan dan ada Koso sensei.

Tepat pukul 1/2 10 acara dimulai. Diawali dengan semua siswa duduk di depan meja masing-masing (ada yang gak mau, mereka memilih duduk sama orang tuanya), lalu bersama-sama mengucapkan aisatsu (ucapan salam) dan menyanyikan lagu marsnya Jounan Hoikouen. Begini nih aisatsunya kurang lebih :
Sensei Ohayou gozaimasu, tomodachi ohayou... minna... oyahou

Aisatsu dipimpin oleh Miyoko sensei.



Kemudian bersama-sama menyanyikan lagu Uresii Hinamatsuri (Festival Anak Perempuan yang Menyenangkan). Yang mau berkunjung ke Hinamatsuri bisa langsung menuju ke sini, sini, atau ke mbak Niken
Kuperhatikan, ternyata Safa mengikuti senseinya bernyanyi, dan ternyata dia bisa juga..hehhee..maklum gak pernah lihat Safa nyanyi yang ini. Habis nyanyi2 acara makan2. Setiap anak diberi secangkir Gyunyu (susu sapi segar) dan juga okashi (makanan kecil), kali ini okashinya cisai sakana (ikan kecil). Anak-anak tampak menikmati dan semuanya dilakukan sendiri. Sementara orang tua murid cuma menontonnya saja..hiks hiks hiks kasihan deh...tau gitu aku bawa okashi sendiri ..ehhehheee...*kabur ambil dulu*.


Tampak anak2 mandiri, makan minum sendiri dan membersihkan mulutnya sendiri dengan handuk kecil yang setiap hari dibawa hingga mengelap meja sendiri. Untuk yang ini aku benar2 salut, dan bangga deh..tepuk tangan buat anak-anak...plok plok plok....plok...

Selesai maem, Sensei membagikan kertas yang sudah dipotong lalu memberikan contoh mau dibikin apa kertas itu. Ternyata kertas2 tadi dibikin niwa tori (burung taman). Kemudian anak-anak dibantu orang tua masing-masing menempel kertas2 tadi hingga menjadi niwa tori. Disini orang tua sebatas memberi aba-aba dan membantu mengelem, acara tempel2 tetep pada anak-anak.

Ini nih...serukan acara tempel-tempelnya...

niwa tori hasil buatan Safa

Selesai acara itu, anak-anak tetap di kelas makan siang, sementara seluruh orang tua murid dari berbagai kelas berkumpul di Aula. Ternyata disitu ada pengarahan dari "Depdiknas" kalo di Indonesia, kalo di sini gak ngerti namanya apa. Pengarahan yang diberikan oleh Yappari-san (Yappari artinya sudah kuduga hahahha...nama kok sudah kuduga) tentang "Bagaimana cara mendidik anak sesuai dengan umurnya". Weleh...kalau aku ya bisanya mendengarkan sambil mengantuk ria. Bagaimana tidak hanya beberapa kalimat yang aku tahu, kadang2 ngerti, kadang juga tidak ngerti. Untung ada suami tercinta yang siap mentranslit ke bahasa Jawa. Arigatou suamiku tercinta..huaua wakakakakakaakkk. Tepat pukul 12 siang acara selesai (1 jam mendengarkan pengarahan cukup membuatku suntuk dan ngantuk), lalu kembali ke kelas untuk mengambil anak masing-masing.

Yappari-san sedang memberikan tips dan trik mendidik anak

Begitu sampe kelas Safa langsung lari menghampiri dan memelukku... Duh senengnya... bahagia hati kalau anakku memanggil, menghampiri, memeluk dan menciumku dan bilang mama...mamaku ...sayangku..., cintaku.... peluk Safa... sayang Safa. Teriris bahagia hatiku. Tak ada saat-saat paling membahagiakan seperti saat ini, saat anak2 kembali ke pangkuan kita. Sebelum pulang aisatsu sama senseinya lagi : aisatsu sensei sayounara mata raisyu ne... matane...toch..toch...bye bye...
langsung ngibrit lari Safa.
Langsung cabut pulang, karena dari pagi hujan deras mengguyur Saga.