Minggu, 17 September 2006 merupakan hari yang tak kan pernah kami sekeluarga lupakan. Bagaimana tidak, kami mengalami kejadian luar biasa menakutkan. Taifu dengan kekuatan 130 km per jam melanda hampir seluruh bagian Jepang. Konon taifu ini merupakan taifu terbesar 10 tahun belakangan ini, sehingga masyarakat Jepang yang punya banyak uang, berbondong-bondong menginap di hotel ternama, dimana hotel tersebut dianggap kuat kontruksi bangunannya. Bahkan banyak mereka yang rela pergi melancong ke luar negeri. Demi menyelamatkan diri mereka.
Harapan kami ini merupakan kejadian pertama dan terakhir kali. Sebenarnya sejak jum at kemaren sudah ada peringatan pemerintah Jepang. Diharapkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan.
Minggu sore sekitar pukul 4 angin sudah mulai sedikit agak kencang. Lama kelamaan angin menjadi sangatlah besar, dengan suara yang menderu-deru. Sekitar pukul 6 kurang 10 menit, kulkas, mesin cuci, tempat tidur (titipan Pak. Salim) yang diletakkan di teras samping rumah tumbang sekitar 3 meter dari tempatnya. Saya benar-benar ketakutan, mau lari, juga mau kemana, angin sangatlah kencang, bisa-bisa kami malah terbang di terpa angin. Aku sahut telfon, aku hubungi ibu, aku menangis, minta didoakan dan mohon maaf atas semua kesalahan kami, karena tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Diseberang ibuku juga menangis dan mengingatkan untuk selalu ingat Asma Allah, mohon ampunan, banyak istiqfar. Setelah itu hatiku sedikit lebih tenang. Allahu Akbar, Engkau Sungguh Dzat Yang Maha Kuasa.
Sekitar pukul 7 angin semakin kencang dan kencang sekali, korden rumah kami buka, untuk melihat situasi di luar rumah, ternyata angin berhembus berputar-putar, pohon di samping rumah meliuk-liuk. Lantai rumah bergerak-gerak, goyang seperti orang berdansa. Kami sekeluarga tak henti-hentinya berdoa memohon untuk di berikan yang terbaik, kami ingin badai ini segera berlalu. Benar-benar keadaan yang sangat mencekam. Tidak ada suara mobil, tidak ada suara jangkrik, kodok, burung, yang ada hanya suara angin dan suara seng yang beterbangan dan suara pohon patah di belakang rumah. Tak lama kemudian lampu padam, hidup lagi, padam lagi hingga tiga kali. Braakkkkkk.....Braaakkkkk...ahhhhhhhhhhhhhhhh,.....
terdengar sangat kencang sekali, ternyata atap teras rumah tetangga lepas dan terbang menabrak dinding dapur rumah kami. Rupanya tetangga kami menjerit ketakutan. Untungnya dinding dapur tidak jebol dan masuk ke rumah.
Kemudian suara braaakkkkkkkkkkkkkkkk...... terdengar lagi, kali ini kami benar-benar pasrah. Ya. gudang belakang rumah kami roboh. Angin masih saja kencang, kami pasrah, semua doa aku panjatkan, kami membaca Yasin bersama, dengan keadaan yang benar-benar pasrah, jika kami harus menghadap Nya sekarang. Bersyukur sekali, dalam keadaan seperti ini anakku Safa tidak rewel, ia cuma bilang "kowai mama, bak fafa kowai" (takut mama, mbak safa takut), sambil tanya " itu apa mama, itu apa papa "
aku jawab, "itu taifu nak, angin yang sangat kencang, mbak Safa berdoa ya, biar taifunya segera berlalu".
"ya mama",....sambil tangan ditengadah Safa bilang : " Ya Allah.......amin amin aminnnnnnnnnn"
Alhamdulillah, anakku pinter, ngerti banget keadaan yang sedang terjadi.
Ditengah kegalauan hati yang sangat, aku bujuk suamiku untuk menelfon teman-teman Indonesia yang lain, sekedar ingin mengetahui keadaannya, takut terjadi apa-apa karena ada yang menempati lantai empat, ada yang punya bayi baru lahir, ada juga yang menempati apato yang sudah tua. Alhamdulillah semuanya selamat. Sekitar pukul 9 angin sudah mulai berkurang kekuatannya, sudah bisa bernafas, walaupun dalam hati masih diliputi rasa kegundahan, jangan-jangan, jangan jangan datang lebih dahsyat lagi....aahh...biarlah kalau mau datang lagi .... toh kami tidak sendiri gumamku.
Hampir semalaman kami saling berjaga.

Pagi hari baru memberanikan diri keluar rumah. Yang terjadi, masyaallah .... dinding rumah kami bolong, kayunya terbang terbawa taifu, kawara (genteng) rumah ada sekitar 10 biji-an terbang, seng depan rumah lepas (untung belum terbang), barang-barang yang berada disamping rumah semuanya keluar di halaman samping,
gudang belakang rumah ambruk, kebunku rusak semua tanamannya habis disapu taifu. Kami bersyukur, kami semua selamat, biarlah semuanya rusak nanti bisa dicari lagi.
Untung hampir semua bangunan di Jepang merupakan bangunan semi permanen dan tahan gempa, walaupun masih ada korban jiwa, namun setidaknya korban bisa diminimalis.

Bersama suami bersih-bersih kotoran sisa-sisa kayu, pohon tumbang, daun, angkat barang. Mumpung masih pagi bersama Safa keliling Saga melihat kondisi setelah taifu. Disepanjang jalan, hampir seluruh penghuni rumah berada diluar rumah membersihkan

lingkungan rumahnya, memasang genteng dan membersihkan sisa puing-puing bangunan. Pembatas jalan di depan rumah semua terbalik, padahal dibawahnya ada drum yang dicor separuh. Seharian kami berkutat dengan rumah, dibantu dengan Oyasan (pemilik rumah), Dhani, Uchok, Subhan, Pak Roki dan om Sofyan. Alhamdulillah, sekitar jam 1/2 4 sore semuanya selesai, rumahku sekarang penuh dengan tembelan tripleks dan tertutup terpal biru...bukan tenda biru. Hayoo siapa yang mau foto post card, mumpung tersedia layarnya ....?
Berita di TV menyebutkan bahwa jumlah korban jiwa di kepulauan Kyushu sebanyak 7 orang, puluhan rumah rusah berat, ratusan rusak ringan, banyak pohon besar yang tumbang, bahkan kereta api yang sedang berhenti terbalik (di Miyazaki).
Sungguh kejadian yang tidak akan pernah kami lupakan seumur hidup, terima kasih Ya Allah, sungguh Maha Besar Kuasa Mu.