Desember 2005
Dari hari kehari semakin dingin. Suhu sudah masuk 4 sampai 1 derajat Celcius, di malam hari. Tiap hari pake pakaian tebal dan rangkap. Nihon wa totemo samui desu ne. (Jepang sangat dingin sekali).
3 Desember, kami sekeluarga jalan2 ke Kono Kooen (Taman Kono). Banyak sekali mainan yang a

da disana. Ada kereta, ada ayunan, ada semacam roller coaster ada juga mobil mobilan dengan berbagai bentuk hewan, ada juga kolam ikan. Indah sekali pemandangan daun momiji (daun yang memerah, karena suhu dingin yang kemudian rontok).
Di Kono Kooen

4 Desember, selepas Magrib diundang ulang tahun Dhani yang kedua, putra kedua pak Salim dan mbak Yuli.
Pose bersama sebelum pulang, Dhani duduk bawa balon kuning
Hajimete, aku dan safa melihat yuki (salju) secara langsung. Alhamdulillah sujud syukur, sebagai ungkapan perasaan gembiraku saat itu, masih diberi kesempatan untuk menikmati putih dan lembutnya salju. Dari pagi aku, suamiku dan Safa bermain salju yang kebetulan setebal kurang lebih 4 cm dari tanah.Kami berfoto ria bersama. Maklum di tanah kelahiranku tidak ada salju...jadi jangan diketawain ya......
Salju di depan rumahku
10 Desember acara ulang tahun Nadya (ke-4) dan Dinda (ke-2) putri pak Adi dan mbak Heny dijadikan satu, karena Nadya (kakaknya) lahir tanggal 12, sedangkan Dinda tanggal 10. Jadi enak dunk....bisa irit ulang belanja nih bapak ibunya....(hehhehehee cuma guyon lho mbak...). Acara jadi satu sama baberqiu PPI Saga. Cocok sekali berbaberqiu saat dingin2 gini...
Warga PPI Saga, minus keluarga P. Yani dan P. Kardi24 Desember kami bersama - sama dengan rombongan PPI (Persatuan Pelajar Indonesia), jangan diplesetin ke Persatuan Pemulung Indonesia di Jepang lho yaa....
berangkat pagi pagi menuju Tenzan, daerah pegunungan di Saga. Kami semua menghabiskan waktu seharian untuk bermain ski.....maklum biaya sewa sepatu, dan alat sky nya mahal...........nanggung kalau nggak sampe sore....
Keluargaku
Lagi berebut stik sky sama Safa
Yah, walaupun kurang puas, tapi kami senang setidaknya bisa merasakan bagaimana rasanya pakai sepatu untuk ski yang beratnya ala mak......dan main ski.

Keesokan harinya, Ishiku Mariku Sensei datang ke rumah memberikan puresento (hadiah) berupa kue tart. Sensei bilang itu hadiah kurisumasu (natal) dan Sin Nen (taun Baru) Enak banget, Safa sampai habis banyak sekali.
Safa dan kuenya

30 Desember, Haryo datang menanyakan jadi tidaknya bikin acara taun baru. Sebelumnya pernah dibahas acara diadakan di rumah Cak Tun, ternyata tidak jadi, karena mereka sekeluarga ryoko (mengadakan perjalanan) ke Tokyo, Ya akhirnya atas inisiatif Haryo, Ucok, Sofyan, Pak Priyo dan Shully acara diadakan di rumahku. Dari pada bengong menghabiskan taun baru di apato masing2 mendingan ngumpul sama baberqiu.
31 Desember, Sore hari aku bikin ote2, menghabiskan malam pergantian tahun 2005 dan menyambut tahun baru 2006 di rumah kami, bersama2 P. Yani, P. Priyo, Om Sofyan, Om Haryo, Om Ucok, tante Shully kami bakar2 ikan sampai jam 5 pagi. Saling cerita pengalaman hidup dan sharing berbagai macam persoalan. Mengasyikkan sekali. Tepat tengah malam kami semua berdoa agar menjadi lebih baik dari sebelumnya dan selalu diberi hidayahNya. Amin.Amin. Amin Ya Robbal 'alamin.
November 2005
Tak terasa sudah dua bulan meninggalkan tanah air tercinta. Sedikit banyak sudah mulai bisa menyesuaikan diri dengan cuaca disini. Dingin, dingin sekali. Ya bulan November sudah mulai masuk musim gugur. Syukur alhamdulillah Safa sudah bisa beradaptasi dengan keadaan disini.
Selain belajar bahasa di kampus, aku sekarang belajar bahasa dengan volunter suamiku di rumah. Seminggu sekali, tiap hari jum at, selama 2 jam. Nama volunterku Ishiku Mariko. Dia baik sekali, sabar lagi.. e...volunter ini sukarelawan lho....kita belajar gak perlu bayar, datang kerumah lagi...
1 November, buka puasa, magrib, dengan cuaca dingin kami berangkat ke kota, untuk menyaksikan Saga Light Fantasy, acara tahunan yang selalu meriah. Sepanjang jalan kota Saga dihiasi dengan lampu berwarna-warni selama satu bulan penuh.Ditampilkan atraksi macam-macam, mulai dari atraksi jalan bersama sepanjang jalan kota lengkap dengan pakaian kimononya, sambil berjalan menari dan menyanyi bersama, ada juga tradisi minum ocha (teh hijau) bersama dan juga ada pameran motor gede dari segala ukuran dan merk.
Foto bareng Nihon Jin (orang Jepang)





Safa sempatkan foto bersama nihon jin di motor gedenya
2 November, selepas magrib kami melakukan takbir bersama via internet, bersama teman2 suamiku dari berbagai penjuru Jepang. Rasanya beda sekali, lain halnya kalau di Indonesia. Tak terasa kami berdua titikkan air mata, kami rindu semuanya, rindukan suasana malam takbiran di kampung halaman. Takbir hingga mata ini terpejam..... sampei jam berapa ya...gak ingat nih.
3 November, Pagi ini gerimis, dengan berpayung ria, berangkat ke kaikan menunaikan sholat Idhul Fitri bersama umat muslim di Saga. Jumlahnya sekitar 80-90 orang. Selepas Sholat seperti layaknya di Indonesia, kami semua saling bermaaf- maafan, lalu kami makan bersama.
Setiap jamaah membawa hidangan masing-masing, lalu dimakan bersama-sama. Ini merupakan lebaran pertama bagiku jauh dari orang tua dan saudara-saudara. Hati terasa teriris, gak bisa aku lukiskan dengan kata-kata. Hanya tetesan air mata, yang bisa menggambarkan semuanya. Sedih sekali. Ya Allah, akankah Kau pertemukan aku dengan lebaran tahun berikutnya ? Lebaran bersama orang-orang yang sangat aku cintai...? Wallahu alam, semua kuserahkan kepada KeagunganMu Ya Rabb. Sampai dirumah, langsung telfon Ibu, bapak, mertua dan saudara-saudaraku. Mohon maaf lahir bathin untuk semuanya, maafkan kesalahan kami sekeluarga, untuk semua salah kami. Semoga Allah menjadikan kita terlahir kembali dan fitrah sebagaimana bayi baru dilahirkan. Amin ya robbal alamin.
Lebaran Pertama di Jepang

Mbak Ulfa, Bu Uleng (baju putih), Tiwi, Aku dan Safa, Ibu Suhaemi(berkaca mata, Malaysia jin),
beserta anaknya & orang Jepang Mualaf (kerudung biru)
Safa sebelum berangkat sholat Idhul FitriSiang selepas dhuhur, berkumpul di Kaikan, bersama2 warga PPI Saga menuju Saga Festifal International Balon Udara. Sebelumnya kita makan siang dan bermain bersama di Sinring koen (Taman Sinring). Terdapat banyak sekali mainan buat anak-anak, ada juga lapangan bola dan fasilitasnya lengkap. Kurang lebih 30 menit dari rumah dengan naik sepeda. Terdapat banyak sekali bentuk dan ukuran balon udara dan bisa terbang lho...bagus sekali....
Tanggal 11 kami kembali lagi ke arena balon festifal, untuk melihat acara penutupan. Meriah, ramai pengunjung dan banyak sekali atraksi yang ditampilkan. Diantaranya kita bisa naik helikoputa (helikopter) untuk keliling Saga, tentunya dengan merogoh kocek 2000 yen setiap orang, bisa juga terbang dengan naik balon udara.
Foto dulu sebelum terbang



12 November, seperti biasa setiap doyoobi (sabtu) kami pergi ke Honjou Toshokan (perpustakaan Honjou) atau biasa juga disebut Kominkan, untuk sekedar pinjam buku bacaan untuk aku belajar membaca hiragana katakana dan buku bergambar untuk Safa. Kali ini aku sempatkan bergambar dengan bunga yang sedang mekar di teras toshokan. Bunganya besar dan harum baunya. Nggak tau namanya bunga apa, yang penting bagus.....

13 November, minggu pagi jam 8 berkumpul di depan pintu masuk daigaku untuk selanjutnya mengikuti rombongan daigaku ke Kashima. Dari Indonesia yang ikut, kami sekeluarga, P. Roky, dan P. Yani. Lainnya ada acara masak bersama di Abance. Kami rombongan daigaku diundang di Sekolah SD untuk mengikuti prosesi bikin kue mochi dan lomba kupas buah kaki (buah kesemek). Perjalanan ke Kashima sangat menyenangkan, melewati gunung, jalan yang berkelok-kelok dengan pemandangan sekitar yang asri dan banyak sekali buah kaki di tepi jalan dan diantara tebing bebukitan dan tentunya hawa dingin yang menusuk tulang. Disana kami di jamu dengan soup misosiru, kue mochi dan juga tak lupa ocha. Untuk mengupas buah kaki, penilaian terletak pada panjang kulitnya (kalau bisa satu buah utu, tidak putus di tengah), kecepatan dan yang paling seru adalah cara mengupasnya pisau ke arah belakang (bukan seperti kita kalau ngupas buah arahnya ke depan).

Cepet-cepetan kupas buah kaki bersama Walikota Saga
Foto bersama dengan delegasi dari negara Perancis, Australia, Kanada, Inggris, China, Korea, dan Austria.
Buah kaki yang siap untuk dikeringkan dengan dijemur sinar matahari, selanjutnya dibikin manisan khas Jepang.
Didepan ruang kepala sekolah18 November, sore hari bersama-sama Mas Ferry, Safa, Haryo, Pak Adi, dan mbak Ulfa belanja persiapan acara Open Kampus besuk ke Seiyu eki. Sampai rumah, warga PPI berkumpul untuk persiapan bikin Sarabba (minuman khas Makassar, kalau di jawa menyebutnya sebagai wedang jahe) dan juga bikin jalan kotek Makassar (bahasa Jawanya pastel). Orang-orang berkumpul hingga pukul 1 malam.
19 November, Pagi-pagi mbak Emma datang, untuk membantu menyelesaikan pekerjaan semalam yang tertunda. Setelah semuanya selesai, dibawa ke daigaku dan dijual disana. Semua hasil penjualan masuk khas daigaku, dan biaya operasional ditanggung Saga daigaku. Banyak sekali makanan khas yang disajikan, ada makanan Indonesia, makanan Bangladesh, makanan China, makanan Korea, Makanan Thailand, Makanan Malaysia, makanan Jepang sendiri, makanan Nepal, dan makanan Sri Lanka. Selain makanan ada tarian khas dari masing-masing negara. Kali ini PPI Saga mengeluarkan atraksi tari Bambu (dari Riau), ada tarian dari Thailand an juga ada tarian khas Bangladesh. Setelah acara selesai, kami bersama-sama makan soto.
Saat tarian berlangsung Safa dengan spontan maju ke depan panggung, bersama penari lainnya ikut menari dan bergerak dengan sendirinya. Tanpa malu ataupun takut...ia mengikuti gerak tarian. Safa- safa diusiamu yang masih Satu tahun tiga bulan kau berani melakukan itu nak.....nak.....Mencontoh siapa kau....?
Diacara open kampus, Saga Daigaku 200523 November, saat aku masak tiba2 Safa berteriak " mama mama apik... " aku lihat ternyata.....
Ya Allah............anakku mengeluarkan tepung kanji dari lemari makanan dan menyebarnya di seluruh lantai, sampai diatas meja, tv, kaca pintu dan semuanya jadi berantakan. Safa safa.....ada saja yang kamu lakukan...
Wajah Safa tanpa dosa, setelah menumpahkan sebungkus kanji
Oktober 2005
Alhamdulillah, diawal bulan ini, ada kursus bahasa Jepang gratis di kampus suamiku. Aku ikut program bahasa Minna no Nihon go I (Semua berbahasa Jepang I). Saat aku ikut kursus, suamiku bergantian yang menjaga Safa. Namun aku tidak bisa secara penuh mengikuti kursus, karena suamiku banyak tugas dari sensei, biasanya aku ikut cuma 2 kali seminggu, selama 2 jam. Dari sini aku sedikit bisa bernafas lega, paling tidak aku ngerti sedikit sedikitlah tentang bahasa Jepang. Benar - benar merangkak dari nol, karena sebelumnya sama sekali tidak ngeh alias buta huruf. Yattane....(akhirnya...) jalan terang ada didepanku.....
9 Oktober kami jalan ke Saga Jinja, tempat ibadahnya agama Shinto.
Didepan Saga Jinja


Didepan Saga Jinja, terdapat sungai yang terdapat banyak sekali ikan besar-besar. Ada ikan mas, ada juga ikan lainnya. Kalau di timbang beratnya satu ekor sekitar 3-4 kg, namun tidak ada yang mengambil ikan-ikan itu. Konon, itu merupakan ikan peliharaan dewa, sehingga masyarakat tidak berani mengambil, kalau ketahuan ada yang mengambil kena denda 300.000 yen (30 man) sekitar 24 juta rupiah.
Sepeda merupakan alat transportasi yang kami pakai sehari-hari. Selain mudah, aman, praktis dan murah juga sehat. Safa biasa duduk di depan atau belakang kemudi.
Safa in Action
Saat aku kelas Nihon go Safa diajak bapaknya bermain di lapangan daigaku untuk melihat uji coba balon udara, bermain di taman.




17 Oktober, suamiku mengantarkan Pak Nuh (Rektor ITS) ke Kumamoto, berangkat jam 8 pagi, sampai rumah jam 10 malam.
22 Oktober, bersama tamu dari Indonesia, (hehehehee....tamu jauh nih) ada tante Mediana dari Teknik Informatika ITS, Om Kubam (eh Om Arif) dari Teknik ELektro ITS, dan juga Om Yusuf dari Teknik ELektro ITS (sempainya/kakak angkatan suamiku) mengunjungi Saga Castle (Benteng Saga). Didalamnya terdapat bangunan dan sejarah kuno megenai kehidupan Shogun dimasa lampau.
Didalam rumah tua, Saga Castle23 Oktober, Mas Ferry mengantarkan mereka ke Fukuoka Kuuko, karena mereka akan kembali ke tanah air, setelah selesai mengikuti training selama satu minggu di Saga daigaku.
Safa Tiara Nasuha
Alhamdulillah, lahirlah puteri kecilku Selasa, 3 Agustus 2004 pukul 9.40 WIB. Walaupun tanpa ditunggui suamiku (saat itu suamiku sedang mengikuti POT di Bandung, persiapan melanjutkan studi ke Jepang) dan harus dengan sexio, karena 2 lilitan usus di lehernya dan juga usia kandungan sudah 9 bulan 27 hari. Sungguh, merupakan penantian yang panjang bagi kami, setelah pernikahan 4,5 tahun.
Safa Tiara Nasuha, sebuah nama yang indah dan penuh makna, nama pemberian suamiku kepada anak pertama kami. Safa diambil dari gabungan namaku dan suamiku, yang secara kebetulan juga dalam bahasa arabnya berarti ''murni/suci''. Tiara berarti ''mahkota''. Nasuha berarti '' benar- benar''. Nah kalau digabung pada intinya arti nama Safa Tiara Nasuha itu Sebenar-benarnya mahkota kesucian.
Harapan kami kelak, anakku menjadi anak sholehah dan berguna bagi umat manusia.
Safa tumbuh menjadi anak yang normal, cantik.....(jelas siapa lagi yang mau muji kalau bukan ibu bapaknya) dan tidak pernah rewel. Diusia 9 bulan sudah bisa berjalan dan sudah bisa mengucapkan beberapa kata dan saat ulang tahunnya yang pertama sudah bisa berlari dan bergaya didepan teman temannya sambil menjabat tangan temannya satu persatu. Sungguh luar biasa, aku tidak menyangka anakku bisa melakukan itu diusianya.
Foto Safa dari umur 0 bulan, 1 bulan sampai satu tahun

|
Safa barusan lahir |
|

Safa satu bulan
| Safa 2 bulan |
 |
|

Safa 3 bulan
 |
Safa 4 bulan |
|
 |
Safa 5 Bulan
|
 |

Safa 6 bulan |

|
|
Safa 7 Bulan & Safa 8 bulan
|
 |
|
| Safa 9 Bulan in action dan digendong Pakdhe Dokter Supratiknyo, yang telah membantu proses kehamilan & kelahirannya Safa. |
|  |
Safa 10 Bulan
| |
| 

Safa 11 Bulan

Ulang tahun Safa ke-1
Safa bersama papa, mama, Eyang Puteri, Paman Kembar (Ferdy dan Fendy) |
 |
|
|

Safa bersama mbah Kung, mbah Ti,
budhe Aning (kakaknya mama), mas Tata,
mbak Lala, mbah Suti (pake baju hijau,
yang mijit Safa, Tata dan Lala).
Lokasi Pakuwon Trade Centre Surabaya
Tentang Aku
Dilahirkan di sebuah kota kecil, Ngawi, Jawa Timur. Merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Kakakku perempuan dan adikku laki laki. Sejak SMP aku sudah berpisah dengan orangtuaku. Aku harus tinggal dirumah saudara nenekku, yang berada di kota dan dekat sekolah. Orangtuaku ingin anak-anaknya bersekolah di sekolah yang maju, paling nggak ya sekolah kota gitu. Seminggu sekali aku pulang kerumah atau bapakku yang jemput. Ini berlangsung sampai aku tamat SMA. Untuk kemudian melanjutkan studi di sebuah PTN di Surabaya. Aku menikah saat masih menyusun tugas akhir, insyaallah pilihan ALLAH dan juga pilihanku, yang kebetulan sekampus dengan aku, namun beda jurusan dan juga beda fakultas..ehheehhee...kenal dimana hayoooo...? Ingin tau aja... Saat itu si calon mempelai pria sudah bekerja lho. Bukan modal nekat tapi emang niat dan juga nekat ding...., namun dengan niat baik, menggenapkan 1/ 2 din yang mudah2an sakinah mawadah warahmah dan mendapatkan karunia putra putri yang sholeh sholehah. AMin ya robbal alamin.
Foto keluargaku.Bapak, Ibu, mbak Aning, Dik Didik, dan dua keponakanku Tata, dan Lala. Ada juga foto suatu malam
di Kya kya (Surabaya) jadi kangen pingin pulang nih...., ada juga foto nikah aku dan ada juga foto bersama Safa
di kereta api perjalanan Surabaya Jakarta.

Wisuda adikku dik Didik. Bersama ibu, bapak, kakak dan keponakanku

Bersama Almr. mbak Yit

Bapak dan ibu tercinta, i miss u...

Kya kya suatu malam...

Pernikahanku

Permata hatiku, setelah penantian 4 tahun
Safa Tiara Nasuha
September 2005
2 September 2005, Setelah meninggalkan kami sekitar 6 bulan, akhirnya mas Ferry tiba di tanah air, melalui bandara Juanda. Aku jemput bersama Safa, Ibu, Pak Puh Yon, Bupuh Endang. Safa langsung mau diajak bapaknya. Mas Ferry menjemput aku dan Safa, untuk ikut menemani studi di Saga University, Jepang. Lega rasanya bisa berkumpul kembali bersama keluarga. Berbagai persiapan telah kami persiapkan, baik itu visa, paspor, pakaian, bumbu2, perlengkapan Safa dan apa saja yang mesti kami bawa.
Kamis, 23 September pukul 4 sore berangkat dari bandara Juanda dengan diantar rombongan dari keluargaku dan keluarga mas Ferry, dengan pesawat Lion Air, sampai Cengkareng. Sepanjang perjalanan Safa tak lepas dari tetek, mungkin takut atau bagaimana, karena ini pengalaman pertama Safa naik pesawat. Pukul 22.00 WIB dari Cengkareng dengan Korean Air Line melanjutkan penerbangan ke Fukuoka, transit sekitar 2 jam di Inceon, Korea. Kejadian lucu, saat pesawat mau take off di Inceon menuju Fukuoka, Safa dengan muka memerah mengeluarkan senjatanya alias pup. Berhubung semua penumpang dilarang meninggalkan tempat duduk, akhirnya kami harus lebih lama mencium aroma wangi pup Safa...weleh weleh Safa, Safa... adaaa saja kamu nak nak...
Dari Fukuoka, dilanjutkan dengan perjalanan darat, naik bus sekitar satu jam sampai di Saga Eki (Stasiun Saga). Kemudian naik taksi sekitar 10 menit sampai di rumah tempat tinggal kami. Sampai di Saga hari Jum at, pukul 12.30 siang.
Saat di bandara Inceon, Korea Selatan.
Kami di depan bandara Fukuoka
Aku berangkat dengan modal nekat, karena aku sama sekali belum belajar bahasa Jepang (masih repot ngurusin Safa, lagian aku juga pulang kampung gak sempat saja), hanya bermodal Arigatoo(terima kasih) dan konnichiwa (selamat siang). Untuk tulisan apalagi, benar-benar buta huruf, sama sekali gak bisa baca. Baru satu minggu, saat di tinggal mas Ferry ke kampus, aku sudah tidak betah, maunya ingin pulang, bawaannya mau nangis terus, aku benar benar merasa jadi orang paling bodoh. Setiap kali keluar aku jadi makin pusing dan bingung, mendengar orang bercakap, tapi tak tahu maksudnya, melihat tulisan kanji dimana mana, tapi tak bisa membaca. Sungguh merupakan suatu dilema yang sangat berat dan tantangan terbesar dalam hidupku.
Apalagi saat baru seminggu, ada orang Jepang datang kerumah, ngomong pake bahasanya, aku langsung sakit perut, karena aku gak ngerti bahasanya.
Aku tanya : Can you speak English ?
dia jawab : no...no..sorry sorry, ...sambil gedek kepala. Selanjutnya dia bilang dari Saga Gas.
Aku bilang : i am sorry, i can't speak Japanese.
Waduh, mati aku batin ku saat itu. Sudah tau sama2 gak ngerti bahasanya, masih tetap ngotot ngomong apa, aku gak ngerti, kayaknya orangnya maksa banget gitu.....
Lalu : "OK. my husband can speak Japanese".
Sambil bawa buku pedoman berbahasa Jepang milik suami aku bilang : "Chotto Matte kudasai " (silahkan tunggu sebentar).
Aku berlari kedalam rumah .... karena sama sama bingung gak ngerti maksudnya, akhirnya :
masih bawa buku aku bilang : "kaite kudasai (silahkan tulis)"
lalu kusodorkan kertas dan bolpen padanya untuk menulis pesan, biar nanti aku sampaikan kepada suamiku.
Orang itu tidak segera beranjak dari rumah, malah ia tanya : " nan ji ni kaerimashita "
Aduh, ngomong apalagi orang ini...., karena orang nya sambil melihat jam dan menuding rumah saya jawab pakai jam juga, saya tuding jam 1.
Sungguh pengalaman yang tak kan pernah aku lupakan seumur hidupku. Sepulang orang itu tadi aku langsung sakit perut dan maaf aku sampek mules dan mencret. Sungguh pengalaman yang tak kan pernah kulupakan. Peringatan kepada teman-teman semua kalau akan bepergian ke negara lain, kita mesti bisa bahasa tempat tujuan kita, walaupun sedikit, penting itu, biar kita nyaman. Rasanya bahasa Inggris saja tidak cukup, betul ini.....
Sore hari setelah kejadian itu aku diajak mas Ferry jalan2 di KS denki (nama supermarket elektronik). Saat baru masuk terkejut sekali aku mendengar, hampir semua pegawai yang ada secara bergantian berteriak irasaimashu, irasaimashu irasaimashu.....(selamat datang begitu kurang lebih artinya...) dan saat aku lewat didepannya semua pada membungkukkan kepala.
Heheheee apa apa an ini. aku juga sambut dengan anggukan kepala. Suamiku tersenyum, kenapa ? memang begini, sudah senyum aja....
Aku jadi malu...maklum ini pertama aku keluar rumah. Gak papa deh pengalaman, bathinku.......
Lalu saat keluar kami diberi banyak tisu tangan oleh semacam SPG ya kalau di Indonesia. Banyak sekali ia beri dan juga di beri balon untuk Safa. Aku tanya suamiku, apa kalau setiap kali keluar walaupun tidak beli, selalu dikasih sesuatu...? kata suamiku, enggak juga tergantung event. Weleh....coba di Indonesia seperti ini,....pasti semua orang berlomba2 pergi ke mall untuk sekedar dapat tisu/balon..hehhehhhhhhhhhhhhhheeeeeeeeeee
Makanan di sini benar2 terbatas macamnya, semua berbau rumput laut, sayur tidak selengkap di Indonesia (sayur yang ada cuma lobak, terong, wortel, kobis, bunga kol, kentang, ketimun, sawi, daun bawang, labu kuning, tomat), apalagi untuk mendapatkan daging ayam, kambing dan sapi halal susahnya minta ampun, harus pesan dulu ke luar kota. Disini gak ada yang jualan daging halal. Ikan laut murah dan banyak macamnya, rasanya lain lebih enak disini.
Sayuran harganya sama dengan harga ikan atau daging ayam atau daging lainnya. Seikat sawi harganya 100 yen, berisi sekitar 10 batang, sedangkan ikan/daging satu tempat kecil harganya sama.
Kalau belanja apapun harus hati2, karena bukan tidak mungkin sebungkus agar2 powder bisa jadi tidak halal karena di dalam komposisinya terdapat gelatin. Dimana gelatin tersebut kadang tidak disebutkan asalnya. Kalau dari hewan, otomatis pasti bahan dasarnya babi. Jadi kita tidak boleh makan. Itu berlaku pula untuk makanan sejenis roti, pizza, permen, soyu, makanan kecil, bahkan lauk pauk yang dijual di banyak supermarket. Banyak sekali makanan yang kelihatannya enak, baunya juga menyengat tapi sayang kita tidak boleh makan. Cuma bisa membayangkan saja nih....
Untuk minuman pun kita juga mesti selektif, karena banyak macam minuman sari buah atau minuman soda yang terdapat alkoholnya. Semua harus teliti sebelum membeli.
Sungguh merupakan tantangan berat yang harus kami lalui dalam hal pemilihan makanan. Namun hal itu tergantung kepada person masing2. Banyak juga mereka yang mengabaikan hal yang nampaknya kecil, tapi sangat membahayakan bagi diri sendiri. Tinggal tingkat ketaatan masing2 person.
Sejauh ini setiap kali belanja aku masih bersama dengan suamiku, karena aku takut salah beli. Maklum lah masih buta huruf.....