Anugerah Terindah

Saturday, September 30, 2006

BuBar Dengan Mereka Yang Mau Pulang

Alhamdulillah puasa hari pertama lancar. Di hari pertama ini keluarga Pak Salim mengadakan acara bubar (buka bareng) sekaligus perpisahan dengan warga PPI Saga, karena hari rabu, 27 September mereka sekeluarga kembali ke tanah air, ke Makasar. Pak Salim telah menyelesaikan masternya. Selamat Pak Salim semoga ilimu yang didapat disini bermanfaat bagi perkembangan pendidikan di Indonesia. Banyak sekali makanan dihidangkan ada stup buah, banyak sekali aneka rasa minuman botol, kue, ikan bakar rika-rika, krengsengan kambing, cap cai dan ada juga pudding (lha ini aku yang bawa...terima kasih bu Salim resepnya). Setelah buka bersama dilanjutkan sholat magrib berjamaah, makan lalu sholat tarawih.

Sementara malam sebelum kepulangan keluarga Pak Salim, kami semua berkumpul di rumahnya Pak Salim untuk bantu-bantu angkat koper karena keesokan harinya berangkat pukul 5 pagi.

Bapak-bapak angkat barang, ibu-ibu bernostalgia dan saling menceritakan pengalaman masing-masing

Sedih sekali satu persatu teman-teman pulang, dan belum ada teman yang datang lagi. Juragan foto esuk hari kembali, tidak ada lagi jepretan fotonya dan juga kiriman vidionya. Dan yang paling menyedihkan adalah yang sense riorinya pulang, mbak Yuli (istri Pak Salim) pintar sekali memasak dan bikin kue. Terus tidak bisa jalan bareng lagi, sama-sama ke tempat ikan yang jauh, terus Safa tidak bisa bermain lagi sama Ade sama Dhani. Insyaallah tidak akan pernah saya lupakan dan kami akan selalu merindukan kalian semua. Balik lagi ke sini ya.....

Satu persatu mereka meninggalkan Saga. Syulli, Haryo, Pak Salim sekeluarga dan sekarang Uchok. Uchok harus pulang, ia adalah peserta SPACE, semacam program pertukaran pelajar. Ia telah satu tahun disini. Yah, sedih deh...jadi makin sepi aja Saga. Orangnya supel kadang juga sok deket, sok akrab gitu (benerkan chok...jangan marah ya, ini mengutip dari apa yang kau utarakan lho ya...) terus gak ada lagi yang biasa menjagain Safa, menggendong dan teman bermain Safa hiks hiks hiks....
Jum'at selepas membatalkan puasa, sholat magrib, kami bersama mengadakan acara perpisahan dengan Ucho. Ucho disuruh milih mau ke mana, ia pilih restoran yang semuanya bernuansa Jepang, ke tempat sumo beberapa minggu yang lalu kita datangi, dengan alasan belum pernah pergi ke sana. Malam ini Uchok kelihatan tidak seperti biasanya, ia banyak diam, gak banyak ketawa dan tidak banyak bicara. Sepertinya dia sedih juga meninggalkan teman-teman di Saga.

Ekpresi anak-anak yang biasa bermain dengan Uchok, malam ini mereka tidak seceria hari-hari sebelumnya

Tiga tungku nabe telah kosong, semua makanan telah habis bib bis bis.... kecuali kuahnya saja....kuahnya untuk Safa ya...

Selamat jalan sobat, semogga lancar di perjalanan. Satu pesanku segera selesaikan tugas akhirmu, balik lagi ke sini ya...
Terima kasih atas persahabatan dengan kami sekeluarga, Insyaallah kan selalu teringat dan kalau ke Surabaya mampir ya...


Sunday, September 24, 2006

English Speech Contest

English Speech Contest merupakan acara puncak dari program berbahasa Inggris yang diadakan LDA, menampilkan kemampuan siswa dalam penguasaan bahasa Inggris yang telah dipelajari selama 6 bulan. English speech contest ini baru pertama kali diadakan dan sebagai ketua penyelenggara Om Ucho dari Indonesia. Bertempat di Higashiyoka Syougakko (SD Higashiyoka), sekitar 20 menit perjalanan dengan mobil dari rumah.
Ada lomba pidato, drama, menyanyi dan pada akhir acara diumumkan siapa yang terbaik sekaligus penyerahan shoujo (sertifikat). Pesertanya semua siswa yang menjadi member LDA dari usia 3 tahun sampe usia 70 tahun ( jangan salah, obachan dan ojichan bersemangat sekali belajar Eigo).
Untuk mereka yang berusia 3 sampe 6 tahun menampilkan gerak tari dan lagu. Untuk usia diatasnya menampilkan dorama dan pidato dalam bahasa Inggris.
Saya diundang untuk ikut memeriahkan acara tersebut, dan diminta untuk membuat makanan Indonesia, mereka ingin saya membuatkan nasi goreng (rupanya nasi goreng sangat terkenal di negeri nya Kaisar Akihito). Saya bingung juga nih cari teman yang bisa membantu mengaduknya (maksudku aku yang menentukan bumbunya, mereka yang aduk...karena aku udah membayangkan untuk 100 orang, betapa beratnya bebanku,..hehehhehee). Akhirnya dengan dibantu Bheby (yang badannya besar, dia kuat banget lho ngaduknya...dengan tenaga super power dia rajin membolak-balik nasi), Dhani (sebagai translater Nihon go, takut salah nyebut maka perlu penerjemah nih....), Subhan (bagian pembantu umum....gomen ne...disuruh-suruh terus dan bagian icip-icip) kami membuat nasi goreng siput.

Saat kami datang semua bahan sudah disiapkan, nasi sudah ditanak, bawang sudah dikupas, salada dan curry sudah bersih, kita tinggal mengolahnya. Cukup berat memang, dalam mengaduk nasinya. Takut tidak tercampur rata, karena kami tidak memakai bumbu instan yang biasa dijual. Bumbu murni bikinan sendiri dan ditempat itu juga, bumbunya cuma bawang putih, bawang bombai, dan kecap manis Indonesia. Sedangkan siput yang dipakai udang, dan cumi-cumi. Karena kami memasak dilihat, diperhatikan dan ditunggui orang Jepang (maklum, kebanyakan orang Jepang selalu memperhatikan aspek higienis dan cara memasaknya secara detil, dan juga mereka kebanyakan tidak mau memakan makanan yang dibuat dirumah atau tanpa sepengetahuan mereka). Untuk menghemat waktu dan tenaga, memasaknya dipisah, hanya goreng nasi saja dan hanya masak siput saja. Karena kalau masaknya dijadikan satu masaknya terlalu lama. Pokoknya cara masak kami kali ini lain dari kebiasaan masak sehari- hari hehehheee....yang penting rasanya donk.

Sughoii..... bikinnya sampai 5 wajan besar alias lima kali putaran, kami butuh sekitar 10 kg beras.
Sempat deg-degan juga nih, karena ini merupakan pengalaman pertamaku membuat masakan secara live dan disajikan untuk sekitar 100 orang. Takut rasanya gak enak, takut gak pas bumbunya, takut gagal dan semua rasa berkecamuk di dada...
Alhamdulillah, lumayan hasilnya enak banget (banyak lho orang Jepang yang nambah sampai 3 kali, mereka bilang totemo oishii...sambil terus nanya bumbunya, caranya sambil mengicip kecap manis yang kami bawa).

Diakhir acara, kami juga tak lupa mencicipi nasi goreng buatan sendiri, bener-bener oishikatta desu

Ada rasa lega dan bangga dalam hati kami sebagai perwakilan dari Indonesia, ini terbukti nasi goreng kami habis paling duluan (dengan porsi paling banyak) dibandingkan dengan sajian makanan dari Korea, China, Sri Lanka, Amerika (dengan sandoichi/sandwich nya) dan juga makanan tuan rumah (onigiri, oden, dan lainnya). Acara berlangsung dari pukul 10 sampe pukul 4 sore.
Untuk bheby, selamat ya dapat kredit point, kau bisa ambil shoujo kegiatan ini di sekretariat LDA dan tidak perlu ikut magang lagi sekembalinya ke Indonesia.




Saga International Festival

Minggu, 24 September di Avance diselenggarakan acara Saga International Festival. Menampilkan berbagai macam budaya dari berbagai negara, khususnya negara-negara ASIA. Tuan rumah menampilkan berbagai macam stand, mulai dari stand yukata (disini kita bisa pakai yukata, gratis lho), stand Ikebana (merangkai bunga), stand Koto (bermain alat musik koto), stand Sushi (disini kita diajari cara membuat sushi), stand Photo (menyajikan foto kegiatan yang dilaksanakan selama setahun bersama-sama warga asing), stand Machine (disini diajari cara bikin bordiran atau jahit menjahit) dan masih banyak stand-stand yang lainnya. Begitupun stand dari negara-negara lain, menampilkan karya terbaik dari negara masing-masing. Acara ini berlangsung dari pukul 9 pagi hingga pukul 4 sore. Berbagai elemen masyarakat baik Nihon jin maupun warga asing menyerbu tempat ini, bertumpah ruah menjadi satu dalam satu kebersamaan.
Berikut sedikit dokumentasi keluarga kami :

Di depan pintu masuk

Bersama sensei yukata

Didepan stand ikebana

Belajar main Koto

Bersama teman Indonesia dan panitia dari Nihon jin

Bersama Bu Uleng, Bheby, Kakak Tiwi, kakak Dhani dan adik Safa (gak bisa pakai yukata, karena stoknya habis)

Ramadhan Kedua

Alhamdulillah masih diberi kesempatan untuk menikmati mulianya bulan ramadhan. Bulan yang sangat dinanti-nantikan seluruh umat muslim di dunia. Ah, seandainya semua bulan sama nilainya dengan bulan ramadhan, .... pastilah kehidupan akan menjadi lebih nikmat......
Ini adalah ramadhan keduaku di negeri sakura. Ramadhan yang penuh dengan perjuangan. Banyak sekali godaan dan tantangan yang ada di hadapan. Setan- setan dibelenggu saat bulan puasa, namun setan berkepala hitam masih banyak bergentayangan di depan mata. Ya, itulah salah satu tantangan kami, kita puasa tidak hanya menahan makan, haus, hawa nafsu, namun mata dan hati kita mesthi yang lebih utama untuk di puasakan. Menahan mata untuk tidak melihat sesuatu yang bisa merusak nilai puasa, menjaga mulut untuk tidak berbicara hal-hal yang tidak pantas/perlu dibicarakan, mungkin itu adalah puasa terberat kita. Namun harus bisa melawannya. Ya, aku harus bisa.....
Alhamdulillah, ramadhan ini, cuaca sudah tidak begitu panas dan juga tidak saat musim dingin. Kali ini memasuki awal musim gugur, sehingga bisa menikmati dengan lebih nyaman.
Ini kali kedua, kami tidak bisa menikmati sholat tarawih berjamaah di masjid seperti layaknya di kampung halaman. Bukan karena malas atau enggan, namun keadaan yang memaksa. Disini tidak ada masjid, tidak ada mushola, tidak ada surau. Sungguh sangat menyedihkan sekali. Di negeri yang sangat maju, makmur tidak ditemukan tempat ibadah bernama masjid ataupun mushola. Setiap malam kami melakukan sholat tarawih berjamaah dengan suami.
Tidak ada suara Adzan berkumandang, tidak ada alunan ayat suci (tadarus) bersama, tidak ada suara kentongan yang membangunkan kami saat waktu sahur tiba, tidak ada ustad atau mubalig yang memberikan siraman rohani. Kami merindukan itu semua. Kami hanya bisa menikmati di dunia maya, hanya lewat internet saja kami bisa merasakan kerinduan kami pada kampung halaman. Atau hanya ada suara kami berdua di dalam rumah melantunkan ayat suciMu Ya Allah....
Tidak ada takjil, tidak ada buka bersama mereka yang membutuhkan, tidak ada mudik...apa hubungannya......(pokoknya tidak seperti di kampung halamanku Indonesia deh...)
Ya Allah, akankah kau pertemukan kami dengan ramadhan selanjutnya ? kami ingin menikmati ramadhan dalam kebersamaan, dalam kehidmatan seperti tahun sebelumnya di kampung halaman. Hanya dengan KuasaMu kami berharap....AMin...
Namun dimanapun tempat kami berpijak, kami akan selalu merasakan indahnya ramadhan bersamaMu, dan juga dengan orang-orang yang aku sayangi, suami dan anakku.
Semoga Ramadhan kali ini kita tidak melewatkannya begitu saja, kita kumpulkan amalan-amalan sebanyak-banyaknya untuk bekal hari akhir.
Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita...



Setahun di Perantauan

Hari ini 24 September 2006 tepat satu tahun aku dan Safa menemani suami di negeri orang. Banyak sekali kenangan, suka dan duka yang telah kami rasakan, kesenangan, kesedihan, kenangan indah dan pengalaman pahit telah aku dapatkan. Merupakan suatu proses menuju kedewasaan yang lebih bagiku dalam mengarungi kehidupan selanjutnya.
Bagiku tidaklah mudah untuk menjalaninya, namun aku bertekad harus bisa, karena ini merupakan salah satu kewajibanku untuk mengabdi dan mengikuti suami, selama suamiku menimba ilmu.
Hari-hari aku lalui dengan hitungan detik demi detik, semuanya terasa sekali dan penuh arti. Apalagi saat aku menanti hari senja, menanti anakku kembali ke rumah, suamiku kembali ke rumah. Namun semuanya akhirnya bisa aku lalui untuk satu tahun pertama.
Berbagai kegiatan dan aktifitas aku ikuti, aku mencoba untuk membuka jalan terang yang dapat membuka hatiku, baik itu dengan mengikuti kursus bahasa, jalan bareng sama teman asing ke perpustakaan (walaupun pada saat begini aku harus konsentrasi dan memaksakan dalam hal bahasa asing, baik itu Nihon go maupun Eigo, eh...kadang-kasang bahasa tarsanpun keluar kok.....maklum, dulu gak sempat ikut ujian tofel....), belajar masak bareng, belanja bareng dan tak lupa makan bareng, chatting sama keluarga dan juga teman, bikin kue, masak, bersih-bersih, cuci dan banyak lagi pekerjaan rumah tangga (pokoknya semua pekerjaan aku handle, dari baby sitter, koki, cleaning service, sopir alias antar jemput anak sampe manager di rumahku hehehehhe....) , sholat & ngaji sendiri, melamun sendiri, kadang juga menangis sambil telfon ibu dan masih banyak lainnya.
Setahun pertama, ya.....sudah setahun kami hidup di perantauan, jauh dari sanak keluarga, jauh dari hingar bingarnya keramaian kampungku, jauh dari orang-orang tercinta. Namun aku yakin Insyaallah kami tidak jauh dari Allah Yang Maha Esa, justru di sini kami merasa dekat denganNya, karena setiap saat kami puas mengadu, berkomunikasi, mengungkapkan segala unek-unek dan segala permasalahan yang kami hadapi. Sesungguhnya hanya kepada Allah kita kembalikan segala yang kita hadapi. Insyaallah semuanya akan menjadi mudah dan indah.
Ya Allah, ...kami yakin Engkau telah punya rencana lain di balik jalan kehidupan kami.
Aku berharap hari esok akan menjadi lebih baik, lebih indah dan lebih sempurna dari hari yang kemarin. Ya Allah, .... semuanya kuserahkan kehadiratMu............

Friday, September 22, 2006

Boshi Nonik Belanda

Rencana liburan ke Housten Bosch tidak jadi, akhirnya kami memilih jalan-jalan ke Jasco Yamato. Secara kebetulan saat berjalan melihat boshi (topi) dengan rambut keriting ala nonik-nonik Belanda pada jaman dahulu. Begitu melihatnya Safa langsung coba pakai dan tidak mau melepasnya, ia langsung tersenyum kegirangan sambil bilang :
" mama apik ma, boshina apik mama.."
Papanya Safa tanya : "mbak Safa mau"
dengan cepat Safa jawab "mau pah"

Alhamdulillah, kami ada sedikit rezeki, boshi pun terbeli.
Safa-Safa, apa sih yang tidak kamu mau nak, nak... Akhirnya Safa langsung pakai, sambil bergaya dan foto-foto. Wih, mbak Safa kayak nonik Belanda.
"Nonik handa, nonik handa mah"...

Gaya Safa

Sampai sekarang Safa menyebut topinya dengan boshi nonik handa,
"Boshi nonik handa mana, boshi nonik handa mana ?"
heheehhe...Safa- safa.......bisa saja kamu nak nak......
Saat mau sekolahpun, boshi tak bisa lepas, selalu dipakainya. Namun sampai di hoekuen Safa selalu bilang : "ma, ini boshina, hai, dozoo".
Safa mengerti kalau di sekolahnya tidak boleh bawa boshi atau mainan lainnya. Bersamaan dengan ini, mulai selasa kemaren Sensei di hoekuen bilang sudah tidak boleh dibawakan botol lagi, namun minumnya ditaruh di botol yang ada sedotannya. Daijoubu...mbak Safa kan sudah biasa pakai sedotan...

Bernuansa Jepang

Menikmati makan dengan ciri khas Jepang asli sangatlah mudah. Banyak sekali kita jumpai disini. Seperti tempat duduk lesehan, aroma wewangian tradisional khas Jepang saat memasuki ruangan atau pelayanan dari para pramu saji.
Namun kali ini sangatlah beda, Sabtu minggu kemaren kami sekeluarga bersama dengan mbak Emma, Bu Uleng dan dua putranya Tiwi dan Dhani, sepupunya Bheby dan Nuk pergi ke salah satu Restoran dengan suasana bener-bener Jepang, ya sekalian mengurangi ketegangan menghadapi taifu esok hari, sekali-kali bolehlah makan di restoran besar, hehehheeeeheheee. Kami menyebutnya dengan restoran Sumo, karena tampak dari luar berhiaskan lukisan dan segala macam yang berhubungan dengan Sumo.
Seringkali kami melewati tempat itu, namun sebelumnya kami mengira itu adalah tempat latihannya para Sumosan(pemain sumo), karena kami sering melihat orang-orang bertubuh besar (sumosan) keluar masuk tempat itu. Menurut mbak Emma, ternyata itu adalah rumah makan khas Jepang. Begitu memasuki ruangan, aroma khas wangi-wangian langsung tercium, tulisan kanji besar-besar langsung terlihat, cap tangan dari Sumosan, foto para Sumosan, hal-hal lain yang berhubungan dengan sumo, lesehan, pernak-pernik Jepang yang khas, okashi (makanan kecil) banyak dijumpai, setiap satu blok tempat duduk dibatasi dengan pagar pendek, lantai tatami dan kayu, guci besar bercorak khas, disebelah kanan terdapat satu ruangan bentuk perahu yang bisa memuat sekitar 100 orang dan tepat di tengah ruangan terdapat arena untuk bermain sumo dengan dikelilingi sebuah sungai kecil yang terdapat banyak sakana besar-besar. Yang paling menarik saat kami masuk disambut oleh pramu saji yang menggunakan pakaian khas Jepang, sambil menundukkan kepala alias manggut-manggut kita diantar sampai ke tempat duduk, kita benar-benar dilayani, bagaikan raja. Beginilah kurang lebih gambarannya :


Suasana dalam ruangan

Safa bersama tante Bheby dan kakak Tiwi, didepan guci raksasa

Kami memilih duduk di dalam perahu, sehingga kami harus naik, persis seperti mau naik perahu. Benar-benar suasana yang khas dan kami semua menikmatinya. Banyak sekali macam hidangan yang ada di sini. Malam ini kami memilih menu nabe (ikan dan sayuran dengan bumbu wijen, minyak wijen dan lainnya, kita masak sendiri) dan menu Seto (makanan satu set).

Nabe, oouu oishii so.......

Ehm.....Alhamdulillah, kami semua diberi kesempatan menikmati ini semua. Terima kasih Ya Allah atas limpahan karunia dan nikmat Mu. Insyaallah kami tidak akan pernah melupakan mereka yang membutuhkan.

Thursday, September 21, 2006

Taifu No.13.

Minggu, 17 September 2006 merupakan hari yang tak kan pernah kami sekeluarga lupakan. Bagaimana tidak, kami mengalami kejadian luar biasa menakutkan. Taifu dengan kekuatan 130 km per jam melanda hampir seluruh bagian Jepang. Konon taifu ini merupakan taifu terbesar 10 tahun belakangan ini, sehingga masyarakat Jepang yang punya banyak uang, berbondong-bondong menginap di hotel ternama, dimana hotel tersebut dianggap kuat kontruksi bangunannya. Bahkan banyak mereka yang rela pergi melancong ke luar negeri. Demi menyelamatkan diri mereka.
Harapan kami ini merupakan kejadian pertama dan terakhir kali. Sebenarnya sejak jum at kemaren sudah ada peringatan pemerintah Jepang. Diharapkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan.
Minggu sore sekitar pukul 4 angin sudah mulai sedikit agak kencang. Lama kelamaan angin menjadi sangatlah besar, dengan suara yang menderu-deru. Sekitar pukul 6 kurang 10 menit, kulkas, mesin cuci, tempat tidur (titipan Pak. Salim) yang diletakkan di teras samping rumah tumbang sekitar 3 meter dari tempatnya. Saya benar-benar ketakutan, mau lari, juga mau kemana, angin sangatlah kencang, bisa-bisa kami malah terbang di terpa angin. Aku sahut telfon, aku hubungi ibu, aku menangis, minta didoakan dan mohon maaf atas semua kesalahan kami, karena tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Diseberang ibuku juga menangis dan mengingatkan untuk selalu ingat Asma Allah, mohon ampunan, banyak istiqfar. Setelah itu hatiku sedikit lebih tenang. Allahu Akbar, Engkau Sungguh Dzat Yang Maha Kuasa.
Sekitar pukul 7 angin semakin kencang dan kencang sekali, korden rumah kami buka, untuk melihat situasi di luar rumah, ternyata angin berhembus berputar-putar, pohon di samping rumah meliuk-liuk. Lantai rumah bergerak-gerak, goyang seperti orang berdansa. Kami sekeluarga tak henti-hentinya berdoa memohon untuk di berikan yang terbaik, kami ingin badai ini segera berlalu. Benar-benar keadaan yang sangat mencekam. Tidak ada suara mobil, tidak ada suara jangkrik, kodok, burung, yang ada hanya suara angin dan suara seng yang beterbangan dan suara pohon patah di belakang rumah. Tak lama kemudian lampu padam, hidup lagi, padam lagi hingga tiga kali. Braakkkkkk.....Braaakkkkk...ahhhhhhhhhhhhhhhh,.....
terdengar sangat kencang sekali, ternyata atap teras rumah tetangga lepas dan terbang menabrak dinding dapur rumah kami. Rupanya tetangga kami menjerit ketakutan. Untungnya dinding dapur tidak jebol dan masuk ke rumah.
Kemudian suara braaakkkkkkkkkkkkkkkk...... terdengar lagi, kali ini kami benar-benar pasrah. Ya. gudang belakang rumah kami roboh. Angin masih saja kencang, kami pasrah, semua doa aku panjatkan, kami membaca Yasin bersama, dengan keadaan yang benar-benar pasrah, jika kami harus menghadap Nya sekarang. Bersyukur sekali, dalam keadaan seperti ini anakku Safa tidak rewel, ia cuma bilang "kowai mama, bak fafa kowai" (takut mama, mbak safa takut), sambil tanya " itu apa mama, itu apa papa "
aku jawab, "itu taifu nak, angin yang sangat kencang, mbak Safa berdoa ya, biar taifunya segera berlalu".
"ya mama",....sambil tangan ditengadah Safa bilang : " Ya Allah.......amin amin aminnnnnnnnnn"
Alhamdulillah, anakku pinter, ngerti banget keadaan yang sedang terjadi.
Ditengah kegalauan hati yang sangat, aku bujuk suamiku untuk menelfon teman-teman Indonesia yang lain, sekedar ingin mengetahui keadaannya, takut terjadi apa-apa karena ada yang menempati lantai empat, ada yang punya bayi baru lahir, ada juga yang menempati apato yang sudah tua. Alhamdulillah semuanya selamat. Sekitar pukul 9 angin sudah mulai berkurang kekuatannya, sudah bisa bernafas, walaupun dalam hati masih diliputi rasa kegundahan, jangan-jangan, jangan jangan datang lebih dahsyat lagi....aahh...biarlah kalau mau datang lagi .... toh kami tidak sendiri gumamku.
Hampir semalaman kami saling berjaga.
Pagi hari baru memberanikan diri keluar rumah. Yang terjadi, masyaallah .... dinding rumah kami bolong, kayunya terbang terbawa taifu, kawara (genteng) rumah ada sekitar 10 biji-an terbang, seng depan rumah lepas (untung belum terbang), barang-barang yang berada disamping rumah semuanya keluar di halaman samping,
gudang belakang rumah ambruk, kebunku rusak semua tanamannya habis disapu taifu. Kami bersyukur, kami semua selamat, biarlah semuanya rusak nanti bisa dicari lagi.
Untung hampir semua bangunan di Jepang merupakan bangunan semi permanen dan tahan gempa, walaupun masih ada korban jiwa, namun setidaknya korban bisa diminimalis.
Bersama suami bersih-bersih kotoran sisa-sisa kayu, pohon tumbang, daun, angkat barang. Mumpung masih pagi bersama Safa keliling Saga melihat kondisi setelah taifu. Disepanjang jalan, hampir seluruh penghuni rumah berada diluar rumah membersihkan lingkungan rumahnya, memasang genteng dan membersihkan sisa puing-puing bangunan. Pembatas jalan di depan rumah semua terbalik, padahal dibawahnya ada drum yang dicor separuh. Seharian kami berkutat dengan rumah, dibantu dengan Oyasan (pemilik rumah), Dhani, Uchok, Subhan, Pak Roki dan om Sofyan. Alhamdulillah, sekitar jam 1/2 4 sore semuanya selesai, rumahku sekarang penuh dengan tembelan tripleks dan tertutup terpal biru...bukan tenda biru. Hayoo siapa yang mau foto post card, mumpung tersedia layarnya ....?
Berita di TV menyebutkan bahwa jumlah korban jiwa di kepulauan Kyushu sebanyak 7 orang, puluhan rumah rusah berat, ratusan rusak ringan, banyak pohon besar yang tumbang, bahkan kereta api yang sedang berhenti terbalik (di Miyazaki).

Sungguh kejadian yang tidak akan pernah kami lupakan seumur hidup, terima kasih Ya Allah, sungguh Maha Besar Kuasa Mu.

Saturday, September 16, 2006

Alhamdulillah, Safa bisa...

Makin hari Safa ada saja yang dikerjakan, mulai dari belajar corat-coret, yang katanya gambar bebek, hebi, tamago, sampai robek-robek kertas, naik-naik ke kursi, ke meja, masuk lemari, berantakin baju yang sudah rapi di lemari, gonta- ganti baju, mainan air, nari-nari, nyanyi-nyanyi. Pokoknya bener-bener gak mau diem.
Seperti biasa, saat nonton CD lagu anak-anak Balonku dan Potong bebek angsa, Safa selalu menirukannya. Untuk gerakan kaki di lagu potong bebek, sudah hafal bener. Sebelum tidur biasa nyanyi bareng, mulai dari Saita, Musunde, Aruko, Deta, Hato poppo, Balonku, Potong bebek, Nina Bobok, sampai pada akhirnya selalu bilang "owarimasu/selesai", lalu berdoa, tidur. Dari satu lagu ke lagu berikutnya selalu bilang "apa lagi hayo "...
Walaupun masih belum hafal benar, tapi sudah hafal akhir dari setiap kata dalam lagu tersebut. Malam ini, ALhamdulillah, Safa bisa menyanyikan lagu Nina Bobok, dengan sempurna. Ya,... Safa sudah bisa, hafal semuanya, tanpa kami dikte :

"Nina bobok o nina bobok, alau tidak bobok digigit amuk....owarimasu ".....

Kami kasih tepuk tangan, namun Safa malu-malu sambil tidur tengkurab, lalu bangkit lagi nyanyi lagi, sambil tertawa kegirangan. Direkam sama bapaknya. Saat rekaman di putar, Safa ketawa kegirangan, sambil bilang " adik anyi, adik anyi (adik nyanyi, adik nyanyi, dirinya sendiri di bilang adik), neh pah, agi, ido (lagi pah, lagi, lagi)....dengan bahasa campuran Jawa, Indonesia, nihon go.(weleh gaya fa, fa....). Ido disini maksudnya moichido, sekali lagi.

Sudah mbak Safa bobok yuk....
Safa : "iya mah, bobok yuk, papah, bobok yuk...."
Berdoa dulu :
Safa : "Bis illah man ohim" (maksudnya Bismillah hirrohmanirrohim)
" Bis mika lah huma aya wa bis ika amut , Aminnnn" (Bismika Allahuma ahya wabismika amut, amin)

Alhamdulillah, akhirnya sedikit-sedikit anakku sudah mulai bisa merangkai kata. Terima kasih Ya Allah, ini merupakan karunia terindahku.

Friday, September 15, 2006

Hikmah di Balik Syariat & Tanda-tanda Kebesaran Allah Dalam Diri Kita

Hikmah di Balik Syariat dan Tanda-tanda Kebesaran Allah Dalam Diri Kita

Garis-garis di telapak tangan.

Coba kita perhatikan garis-garis di telapak tangan. Garis-garis di tangan kiri menunjukkan angka 8 dan 1 (angka arab) dan tangan kanan menunjukkan angka 1 dan 8 sehingga jika angka ditangan kiri dijumlahkan dengan tangan kanan akan menghasilkan 81+18= 99 yaitu bilangan nama Allah (asmaul husna). Sungguh Allah Maha Besar.

Cara makan:

Kenapa kita gunakan tangan?

Cara Rasulullah makan adalah dengan memasukkan makanan dengan tangan kanannya kemudian mengunyahnya sebentar, kemudian beliau mengambil sedikit garam menggunakan jarinya, lalu Rasul SAW akan menghisap garam itu, kemudian baru beliau mengunyah keseluruhannya.

Ternyata kedua belah tangan kita mengeluarkan 3 macam enzim, tetapi konsentrasi di tangan kanan lebih banyak daripada yang kiri. Enzim tersebut adalah enzim yang menolong proses pencernaan (digestion).

Mengapa menghisap garam?

Garam merupakan sumber mineral dari tanah yang diperlukan oleh tubuh kita. Dua cecah garam dari jari kita sama dengan satu liter air mineral. Selain sumber mineral, garam juga merupakan penawar yang paling mujarab untuk keracunan. Menurut medis, the first line of treatment for poisoning adalah dengan memberi sodium chloride, yaitu garam.

Cara Rasul SAW Mengunyah

Beliau mengunyah sebanyak 40 kali untuk membiarkan makanan itu betul-betul lumat agar perut kita mudah memproses makanan itu.

Membaca Basmalah

Membaca basmalah sebelum makan dapat menghindarkan diri dari penyakit. Karena bakteri dan racun membuat perjanjian dengan Allah SWT, apabila dibacakan basmalah maka mereka akan musnah dari sumber makanan itu.

Cara Rasulullah SAW Minum

Rasul SAW mengajarkan kita untuk minum dengan duduk dan melarang kita untuk minum dari tempat/wadah yang besar. Beliau juga melarang kita bernafas ketika sedang minum. Karena apabila kita minum dari tempat yang besar, kita tentu akan bernafas dan menghembuskan nafas. Apabila kita menghembuskan nafas, kita akan mengeluarkan CO2 (karbondioksida), yang apabila bercampur dengan air (H2O) akan menjadi H2CO3 (cuka), sehingga menyebabkan minuman itu menjadi acidic (asam). Hal ini berlaku juga jika kita meniup air yang panas. Makanan/minuman panas sebaiknya dikipas saja dan bukan ditiup. Sedangkan cara minum adalah dengan seteguk-bernafas, seteguk-bernafas sampai habis.

Mengapa Islam memerintahkan hukum cambuk 100 kali bagi orang belum kawin yang berzina dan merajam sampai mati orang sudah kawin yang berzina?

Tubuh manusia akan mengeluarkan sel-sel darah putih atau antibiotik yang dapat melawan penyakit (sistem imun). Sel-sel ini terdapat di daerah tulang belakang berdekatan dengan sumsum tulang manusia. Lelaki yang yang belum kawin dapat menghasilkan beribu-ribu sel ini, sedangkan lelaki yang sudah kawin hanya dapat menghasilkan 10 unit sel ini per hari. Hal ini disebabkan karena sel lainnya akan hilang karena hubungan suami istri.

Maka apabila lelaki yang belum kawin melakukan zina hendaklah dicambuk 100 kali. Alasannya adalah karena apabila dia dicambuk di bagian punggung, maka rasa sakit dan luka yang dialaminya akan merangsang sumsum tulang untuk menghasilkan beribu sel darah putih yang dapat melawan penyakit berbahaya (misalnya virus HIV) dalam tubuhnya. Tetapi apabila lelaki itu sudah kawin, walaupun dicambuk 100 kali ia akan tetap menghasilkan 10 unit antibodi saya, jadi hukumannya dirajam hingga mati agar dia tidak bisa menularkan penyakitnya (mis: virus HIV) itu.

Mengapa ka’bah terletak di Mekah al Mukarromah dan mengapa ia persegi empat (cube)?

Setelah dibuat kajian oleh para cendekiawan dari Pakistan dan Arab, ternyata posisi Ka’bah adalah tepat di tengah-tengah bumi. Ia berbentuk kubus yang merupakan lambang perpaduan ummah yang bergerak maju bersama, equality and unity, tidak seperti bentuk lain seperti piramid misalnya, yang diumpamakan seperti seorang pemenang yang berada diatas setelah menginjak-injak yang lain.

Diambil dari buletin eL-Ma’rifah edisi Juli 2006, buletin Ma’had Al Aly UIN Malang

Ramadhan Hampir Tiba

Marhaban Ya Ramadhan


Ramadhan, ya Ramadhan...bulan yang penuh pahala segera hadir. Akankah bisa bertemu ? Wallahu ahlam, semua atas kehendak yang Esa.
Bulan yang penuh pengampunan, penuh hikmah, bulan seribu bulan.
Bulan dimana kita mempunyai kesempatan untuk memperbanyak amalan dan ibadah, memperbanyak berbuat kebaikan, memohon ampunan atas semua dosa-dosa yang pernah kita perbuat, memperbaiki diri hanya karena Allah semata.

Sebagaimana Firman Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 183 :

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa"

Puasa tidak hanya sekedar menahan lapar dan haus saja, namun lebih daripada itu, kita mesti bisa menahan segala godaan, nafsu maupun bicara mengenai hal-hal yang tidak penting.
Perbanyaklah ibadah, sholat sunah, dzikir malam dan Tadarus (baca Al-Qur an). Usahakan kalau bisa dalam satu bulan bisa mengkhatamkan Al Qur an. Sungguh sangat mulia, hanya berniatkan Lillahi ta'ala.

Ayolah kawan semua, kita sambut dengan suka cita bulan yang penuh hikmah ini, kita persiapkan diri kita dengan sebaik-baiknya, kita awali semua dengan keiklhasan, saling memaafkan dan keridhoan Allah Subhanahu Wata'ala. Agar semua yang kita lakukan tidak sia-sia dan kita mendapatkan yang lebih dari sebelumnya kita perbuat.

Sampai dimanakah persiapan kita dalam menghadapi bulan penuh berkah ini ? Jangan sampai terlewati begitu saja, tanpa ada manfaat, faedah dan hikmah yang bisa kita dapatkan.
Ramadahan merupakan bulan diturunkannya Kitab Suci Al Qur an. Kitab panutan semua orang Islam di seluruh penjuru dunia.

Sekedar mengingatkan kepada teman-teman yang masih mempunyai hutang puasa di ramadhan tahun lalu, untuk segera melunasinya.

Datangnya Ramadhan biasanya diawali dengan :

  • Niatkan hati, mantapkan keinginan untuk menjadi yang terbaik di hadapan Allah.2. Menyambung tali silaturrahmi.
  • Berkunjunglah ke orang tua kita, kalau tidak bisa telfon atau kirim Sms. Bagi anak yang sholeh dan sholehah, semoga tidak terlewatkan ziarah ke makam orang tua yang telah kembali kepadanya/perbanyak doa buat beliau.
  • Meminta maaf dan memaafkan. Sebagai manusia kita pasti tidak luput dari yang namanya salah dan khilaf. Maka tak ada salahnya kita untuk minta maaf dan saling memaafkan. Hilangkan segala dendam, iri hati, rasa sakit hati yang ada. Karena kata maaf adalah sangat mulia.
  • Membersihkan tempat tinggal dari najis. Sambutlah tamu Allah dengan mensucikan lingkungan tempat tinggal kita, agar cahaya Illahi dapat kita raih.
  • Mensucikan diri dengan mandi dan berniat melaksanakan ibadah wajib puasa Ramadhan. Allah mencintai kebersihan, karena kebersihan bagian dari iman.
  • Memperbanyak ilmu seputar ibadah dan amaliyah di bulan Ramadhan. Penting sekali untuk menjadi tuntunan dalam mengerjakan ibadah bulan Ramadhan.
Semoga kita masih dipertemukan dengan ramadhan tahun ini dan selanjutnya...
Amin amin amin ya robbal'alamin.







Monday, September 04, 2006

September 2006

Suhu udara sudah tidak begitu panas.
1 September ke Aeon beli sedikit oleh-oleh untuk keluarga di Surabaya. Kebetulan tante Diana pulang ke Surabaya dan menawarkan mau titip apa nggak. Sampe dirumah bikin bubur ketan hitam. Sore hari jadwal belajar nihon go. Namun tak kuduga sebelumnya, tiba-tiba mas Ferry bilang ke Ishikuma sensei kalau hari ini ulang tahun Uchok, sensei setuju dan kami bersama, tante Diana dan Uchok makan. Makan seadanya saja, buru - buru bikin Indomi soto dicampur dengan sosis ayam, sate kerang, ikan sebelah panggang dan sambel (hanya alasan saja, mas Ferry belum makan siang...hehehee). Dan kebetulan kemaren sore aku belajar bikin kue tart dan masih tersimpan di reizoko. Yah, jadi lah semuanya. Otanjobi Omedetou Om Uchok.... Padahal .....hehehheeeeee Uchok gomen ne.....

PANEN YUK

Sebenarnya dari Akhir Agustus kemaren udah mulai panen nih, berhubung banyak sekali acara, berkebun dimasukkan di bulan ini saja ya. Panen apa ya ...? mau tau..? Sebelah rumah kebetulan ada lahan kosong, iseng-iseng dan penuh harapan aku belikan biji kacang panjang (nagai mame), biji cabe, sawi. Alhamdulillah semua tumbuh. Akhirnya setelah beli pare (goya), bijinya aku lembarkan dan Alhamdulillah tumbuh dan sekarang sudah berbuah. Begitu pun setelah beli kangkung, batangnya aku coba tanam, ternyata bisa tumbuh dan sudah beberapa kali ini aku petik.
Mau tau hasilnya bisa dilihat ini lho....tanpa pup
uk lagi. Daun kacang panjang yang masih muda, biasa disebut lembayung, bisa dimasak. Bisa untuk sayuran di pecel, campuran sayur di sayur asem atau bikin sayur bobor. Untuk cabe sudah beberapa kali panen, bahkan pohonnya sudah mau mati, hanya gak sempat di foto saja. Gomen ne....kelupaan nih.....

Hasil panen goya yang pertama kali, 5 biji doang ne...

Sejak hari senin, 4 September Safa tidak masuk sekolah, di sekitar hidungnya merah-merah. Lebih baik di rumah saja, menemaniku dan biar cepat sembuh. Rabu, Safa kubawa ke Kenritsu byooin, ternyata jam 2 sudah tutup, akhirnya aku bawa ke klinik khusus kulit di sebelah kirinya Morinaga Supermarket. Safa di periksa secara detil, sampai di sinar segala, katanya sih untuk mematikan bakteri yang ada di sekitar hidung dan mencegah agar tidak menyebar ke sekitarnya. Sore harinya ke Kitamura Studio foto. Pak Salim sekeluarga foto dengan pakaian khas Jepangnya, pakai Kimono. Ya, sebagai teman, sahabat aku datang melihatnya sekaligus mensuport Dhani kecil.

Innalillahi Wainnailaihi Rojiun, telah berpulang Istri, ibu, anak, kakak, menantu, adik, dan saudara kami......

7 September, maksud hati ingin bikin Brownis kukus. Ingat, pernah baca di blognya Bunda Zidan dan Syifa. Sempat terkejut dan tidak percaya, Innalillahi wa innalillahi rojiun...Teteh Inong telah dipanggil Sang Khalik untuk selama-lamanya. Kasihan Zidan dan Syifa, masih sangat kecil sudah piatu. Di usianya yang masih sangat muda, ia pergi meninggalkan orang-orang yang sangat dicintainya. Tak terasa air mata terus menetes. AKu jadi ikut sedih sekali, walaupun aku tidak kenal secara pribadi, tetapi hampir setiap hari aku buka blognya, terutama tentang resep-resepnya bikin kue. Dulu aku sama sekali tak bisa memasak. Karena sering baca link masakan, akhirnya pilihan jatuh di blognya teh Inong. Aku banyak inspirasi dari blognya. Tulisannya bagus, ceritanya juga menarik, apalagi kalau sudah menceritakan anak-anaknya. Seru rasanya. Jadi sedih sekali. Bunda Zidan & Syifa, semoga Allah memberikan tempat yang layak dan ilmu yang telah kau berikan kepada para pembaca blog menjadi amalan yang terus menerus tiada henti dan Ananda Zidan & Syifa selalu diberikan kesabaran, ketabahan dan menjadi anak yang sholeh dan sholehah. AMin.... Biarlah blog teteh selalu ada di link ku, merupakan warisan ilmu yang sangat berharga dan bermanfaat bagiku. Jadi hari ini aku tidak jadi bikin brownis, jadinya nangis....hiks hiks hiks.....

10 September, Pagi hari Syulli membawa koper besarnya ke rumah. Malam ini ia bermalam di rumah, karena besuk pagi ia harus pulang ke Indonesia. Masa studinya mengikuti program SPACE sudah berakhir. Siang harinya arisan putaran terakhir, wah...dapat nih... Setelah arisan ke Aeon, lihat-lihat, barangkali harga Yukata sudah turun, ternyata masih mahal juga. Sampai di rumah bikin brownis, malam ini Pak Salim mau menitipkan barang-barang warisannya untuk kakaknya yang datang bulan Oktober besuk, sedangkan tanggal 27 September juga pulang ke Makassar, telah menyelesaikan program master.

11 September, Pukul 6 pagi, mas Ferry mengantar Syulli ke Saga Eki bersama dengan pak Adi, Uchok dan pak Tri. Pagi ini di tubuh Safa ada bentol-bentol merah. Hampir seluruh tubuhnya kena, begitu cepatnya. Safa kena Cacar Air. Padahal imunisasi semuanya sudah lengkap, masih juga kena. Kasihan melihatnya. Untungnya tidak rewel. Pagi itu juga aku bawa ke klinik kulit. Kata dokternya, cacar air biasa meyerang setiap orang, dan kalau sudah diimunisasi masih juga kena, itu pertanda daya tahan si penderita sedang turun dan imunisasi hanya mengurangi rasa sakit atau penyebaran secara cepat. Ah, entahlah aku tidak tahu......yang penting Safa cepat sembuh dan kembali sekolah dan bermain bersama teman- temannya.

Musim panas kayaknya akan segera berakhir, hujan sudah mulai turun, pertanda pergantian musim akan segera tiba. Sebentar lagi pohon-pohon daunnya berguguran. Musim gugur segera tiba.

Tanggal 16, 17 dan 18 libur panjang, rencananya kami akan pergi ke Housten Bosch, daerah Nagasaki. Berhubung diperkirakan akan datang taifu, travel agent membatalkannya.
Sabtu, 16 September kami diajak mbak Emma ke bengkel mobil tempat bayar pajak dan sekeng (sekeng, seperti halnya uji kelayakan mobil, disini setiap dua tahun sekali mobil harus bayar sekeng, dimana semua mobil dicek, diganti yang rusak, dan baru bisa dinyatakan mobil layak pakai atau tidak). Lalu ke Jasco Aeon, dan makan bersama.
Senis sore, sehabis bersih-bersih rumah kami datang diacara syukuran kelahiran putra ketiganya Pak. Adi, sampai jam 9 malam.