Anugerah Terindah

Wednesday, March 01, 2006

Maret 2006

Hari pertama bulan ini disambut dengan hujan kecil seharian, kami pun cuma bermain di rumah.
Cuaca bulan ini masih belum menentu, kadang panas, kadang hujan, sehingga membuat kepala pening.
21 Mei, semua warga PPI berkumpul dihalaman Kaikan syukuran keluarga Pak Priyo, selesai masa studinya disini, sekaligus dijadikan ajang pemilihan ketua baru PPI, menggantikan Pak Adi (dari Departemen Keuangan Kalimantan Barat), terpilih Pak Boga (dari Departemen Pertanian Malang). Acara baberqiu berlangsung meriah hingga pukul 2 siang.

Pagi, 26 maret jam sepuluh, aku dan Safa dijemput tante emma, diajak bersama2 melihat Festival Hinamatsuri (festival selama sebulan penuh, bertempat di rumah - rumah tua yang terpelihara).

Pose disalah satu stand
Hinamatsuri merupakan perayaan yang biasa disebut dengan festival anak perempuan, dimaksudkan untuk mendoakan agar anak-anak perempuan tumbuh sehat dan selalu bahagia, setiap tanggal 3 Maret. Festival ini pertama kali dirayakan oleh Suku Heian, sekitar 1000 tahun yang lalu. Saat itu tujuannya untuk mengadakan pemurnian dan doa untuk anak-anak mereka.
Setiap keluarga yang memiliki anak perempuan, dirumahnya pasti memasang boneka-boneka lengkap dengan ciri khasnya bunga persik serta sajian keripik arare (terbuat dari beras). Ada boneka yang membawa genderang yang ditempelkan di bagian pinggang dengan dua tangannya membawa tongkat pemukul, ada yang membawa semacam dupa dan dua boneka paling besar berada di posisi paling atas hanya duduk bersila dengan tangan didepan dada.

Bersama anak-anak Jepang berbalut busana kimononya

Disini dipamerkan banyak sekali aneka ragam boneka Jepang lengkap dengan kostum bangsawan kuno dan perlengkapannya, yang notabene merupakan peninggalan jaman dahulu. Dari ukuran paling mini hingga ukuran besar. Dan uniknya walaupun boneka itu sudah tua, warna pakaian yang dipakai tetap bagus dan tidak pudar.
Lalu ke Kaikan (International House) untuk beli daging halal ke mbak Jovita dan sekaligus melihat Ade dan Dhani (anaknya pak Salim) yang barusan sakit. Perjalanan dilanjutkan ke Sushi Hyakuen di belakang Futata atau tepatnya di seberang jalan sekolah Safa. Makan siang, menikmati udon dan sushi yang semuanya cuma seharga 105 yen saja. Dari Sushi kami menuju ke apato nya pak Priyo, untuk sekedar menyampaikan selamat jalan insyaallah tanggal 29 akan pulang ke Indonesia, karena beliau telah selesai masa studinya mulai dari master hingga doktor.weleh...lama sekali ya, beliau tinggal di Jepang selama 6 tahun lebih dan putranya dua duanya lahir di sini, namanya Ahlam dan Oda. Pak Priyo merupakan staff pengajar di teknik mesin Universitas Gajah Mada Jogjakarta.
Malamnya Pak Priyo ngantar barang2 rumah tangga yang masih layak pakai, seperti TV, meja komputer, piring, gelas, dll, untuk selanjutnya siapa saja boleh ngambil dirumah (rumah kami sebagai Base camp nya orang Indonesia, karena cuma kami yang tinggal dirumah, lainnya tinggal di apato). Rumah kami lumayan besar, ada tiga kamar, dapur, kamar mandi, toire dan halaman samping dan depan masih luas. Alhamdulillah bisa bercocok tanam saat musim panas...heheeehehe...mau nanam apa ya....bunga saja dehhh...
Tanggal 27 ada kejadian lucu tapi menegangkan. Dua anak Indonesia dilaporkan oyaasan
( pemilik apato) ke polisi gara2 salah liat, dikira pencuri...weleh.... Polisi minta saksi kalau dia bukan pencuri. Jam 1/2 3 malam mas ferry ditelp untuk datang ke lokasi kejadian, dan memberikan saksi bahwa kedua anak tersebut barusan pulang dari rumah kami dan tidak mencuri, kebetulan lewat gomi bako dan lihat boneka sama kabel bagus diambil. Eeeeee malah dikira pencuri.... untung polisi percaya. Kalau nggak nggak tau nasib kedua teman kami tadi.heheeeeeeheheheh bener2 menegangkan saat itu. Jam 4 pagi mereka semua baru pulang dari kantor polisi.
Tanggal 28 malam sekitar jam 9 pak Priyo sekeluarga menginap di rumah kami, karena apatonya sudah harus ditinggalkan sore ini. Keesokan harinya sekitar jam 4 Pak Priyo sekeluarga diantar mas Ferry ke Saga Eki (Stasiun Saga) untuk selanjutnya melanjutkan perjalanan ke Osaka - Den Pasar - Jogjakarta.
Selamat Jalan Pak Priyo, Semoga selamat sampai tujuan dan Semoga Ilmu yang didapat bermanfaat bagi kemajuan pendidikan di Indonesia.
Ngantuk sekali, sudah seminggu ini kami sekeluarga kurang tidur. Karena kami harus menunggu mas Ferry pulang dari daigaku, kadang sampai jam 2 pagi. Aku gak bisa tidur, kalau suamiku belum ada disampingku...hehheeeehehe....kayak temanten baru saja.................
Bener, karena aku selalu merasa gelisah, gak nyaman saja.... Ojok GR lho mas......

Februari 2006

7 Februari, pagi2 aku telfon Bapak, hari ini bapak ulang tahun yang ke 58. Sedih rasanya gak bisa sama2 keluarga saat ada moment2 tertentu. Aku doakan semoga dihari senjanya bapak selalu diberikan kesehatan, kekuatan iman dan selalu diberikan kebahagiaan lahir bathin.
Hari - hari terakhir menjelang berakhirnya kelas bahasa. Tanggal 14 Februari ada ujian akhir untuk menentukan kenaikan tingkat. Tiada kuduga sebelumnya soal ujian yang diberikan semua bertuliskan hiragana dan katakana, tanpa ada bantuan huruf romawi. Sempat ragu juga sih dalam mengerjakannya. Bagaimana tidak untuk membaca saja aku masih belum begitu lancar, belum lagi jumlah soal yang banyaknya 100. bikin kacau pikiranku. Harapanku, semoga aku lolos saja, malu maluin kalau aku gak bisa, membawa nama bangsa yee....... masak jauh jauh datang gak bisa. Alhamdulillah, keesokan harinya namaku tertampang di papan pengumuman, ya aku dinyatan lulus dan bisa mengikuti program selanjutnya. Lega, plong hatiku, dinyatakan lulus. Tak sia-sia aku belajar sks (sistem kebut seminggu). hihihihihihi..........................yattane (akhirnya)..........
Bahkan temanku dari Indonesia dari 5 orang yang ikut ujian cuma aku, katanya mau ikut lagi saja deh daripada gak lulus.............hehheeeehehe....nyerah sebelum tanding ya........
Pertengahan Februari cuaca sudah mulai bersahabat, tidak begitu dingin, masih berkisar di 15-20 derajat celcius. Ada masanya empat hari panas, tiga hari dingin, orang Jepang biasa menyebutnya dengan sankasiyo.
Hari-hari selanjutnya aku dan safa keliling Saga bersepeda ria bersama dengan teman dari Surabaya, namanya tante Selvi dan dua anaknya mas Aksa dan dik Saga.
Tanggal 25 sepulang dari Kenciritsu byooin (Rumah sakit Kenciritsu) menjenguk Aksa, makan siang di West Udon. Restoran yang menyajikan udon (mi kuah Jepang, khas kota Saga) wuihhhh.....,,kami (Aku, suamiku, safa dan Pak Roky, teman suamiku dari Manado) mesti ngantri didepan pintu. Pikirku tak apalah, biasanya kalau banyak yang ngantri pasti enak. Ternyata betul. Rasanya Dahsyat,......ueeennnnaaaakkkk polllll. Lain kali kau mesti kucoba lagi...tunggu aku ya.......
Selanjutkan kami melanjutkan perjalanan, hari ini Safa dibelikan mobi-mobilan bapaknya. Bukan main senangnya. Sampai dirumah dicuci, langsung main dengan kuruma nya..terpancar kebahagiaan di wajah Safa...oalaaah nduk nduk mesakne temen.....sampe mau tidurpun kuruma nya ditaruh di depan pintu kamar............
Dan juga kami membeli boneka hinamatsuri (boneka khas jepang bagi yang mempunyai anak perempuan satu set/9 pasang, dibagi dengan pak Roky), dengan harga yang sangat miring.
Lumayan untuk oleh - oleh pulang ke Indonesia.................kapan pulangnya......?
Tanggal 26 siang setelah kami belanja di mbak Jovita di Kaikan, dengan menumpang mobil pak Priyo menuju ke Kono Koen (Taman Kono). Baberqiu dalam rangka syukuran Pak Yani (Makassar) selesai program masternya sekaligus penyambutan tamu Alumni Saga dari Indonesia. Mereka adalah Dekan Fakultas Pertanian UGM Bapak Prof. Susamto Somowiharjo dan Bapak Prof. Hasan Basri Jumin Rektor Universitas Islam Riau.
Malamnya mbak Safa badannya panas, mungkin kecapekan setelah hampir seharian bermain dan berlari lari di koen, bersama dengan Ahlam, Oda, Ade, Tiwi, Dani dan om Uchok. Alhamdulillah paginya sudah reda panasnya, setelah aku beri obat penurun panas.

Januari 2006

Musim dingin masih juga belum beranjak. Rasanya tersiksa sekali, hawa dingin menembus tulang. Doaku tiap hari semoga kami diberi kekuatan menghadapi cuaca ini dan dingin cepat berlalu. Alhamdulillah Safa tidak rewel. Tanggal 1, tante Linda (teman mas Ferry dari Poltek ITS) datang dari Kumamoto bersama-sama temannya. Mampir dari Tenzan main ski. Karena beritanya mendadak, kamipun menyambutnya dengan hidangan ala kadarnya. Kebetulan malam ini anak-anak masih melanjutkan aktifitas baberqiu yang kemarin (maklum ikannya masih banyak sekali....). Jadi makin seru acara di rumah.
10 Januari umat muslim di Saga melaksanakan Sholat Idul Adha bersama di Kaikan. Sayang, ini bukan hari libur, jamaahnya kurang lebih sekitar 70 orang saja. Setelah sholat, acara dilanjutkan dengan makan bersama, semua jamaah membawa makanan sendiri2, untuk selanjutnya dimakan bersama2. Kali ini aku bikin nasi goreng. Komunitas muslim di Saga berasal dari Indonesia, Malaysia, Bangladesh, Mesir, Pakistan, Palestina, dan Arab Saudi. Sedih sekali, berhari raya dirantau, sepi sekali, nggak ada gema takdir semalam suntuk, dan rasanya pingin nangis saja...pingin pulang...

Setelah Sholat Idhul Adha

Aktivitas masih seperti biasa, seminggu dua kali ikut kursus bahasa ditambah tiap hari jum at belajar sama volunter bahasa yang datang ke rumah. Volunter/kami biasa menyebut sensei sering datang membawakan cokelat/kue untuk Safa.Beliau juga sering aku buatkan makanan khas Indonesia, seperti jenang sumsum, batagor, hechi/ote-ote, rempeyek, puding dan yang terakhir aku buatkan jamu kunyit sirih. Seneng sekali saat beliau minum jamu, sampe nambah. Beliau bilang, '' korewa indonesia no sake desuka ?'' (Apakah ini (jamu) sakenya indonesia). Katanya pertama kali minum dan rasanya bukan main enaknya. Aku jawab, : bukan, ini jamu hanya boleh diminum oleh perempuan saja. Dan dengan dibantu mas Ferry menjelaskan manfaat Jamu untuk perempuan. Sensei terbengong2 mendengarnya.
Apalagi saat kubuatkan nasi kuning dengan lauk ayam goreng dengan telur dadar diiris tipis2, bukan main senangnya.
21 Januari acara perpisahan Pak Kardi (Beliau Dosen Universitas Petra Surabaya, tetapi saat ini ada kontrak mengajar di Universita Saga). Awal bulan depan Pak. Kardi melanjutkan tugasnya mengajar di Austria. Istri dan dua anaknya (Hana & Jojo) masih tetap tinggal di Saga, karena saat ini Bu Grace (beliau berkebangsaan Filiphina) masih merampungkan program Post Doc di Saga University.
Foto Pak Kardi, Bu Kardi bersama dua putranya



Foto Bersama keluarga PPI Saga