Thursday, October 15, 2009
Acara Undokai ini buat Safa sudah diikuti beberapa kali, sejak di Turipugumi, Himawari gumi, sakura gumi dan sekarang di Kiku gumi. ARsip tahun lalu bisa dilihat di tahun- tahun sebelumnya setiap bulan Oktober. Sedangkan Rafif ini merupakan acara undokai pertama yang diikuti. Kebetulan Rafif sekarang bermain di Turipu gumi.
Himawari gumi dan Sakura gumi
menunggu di halaman, duduk berdasarkan tempat duduk perkelas. Rasanya sudah tidak sabar menunggu saat anak-anak beraksi. Penasaran, terutama lihat Rafif, apakah dia akan nangis saat melihatku atau melihat papanya. Dan ternyata kekhawatiran kami tidak terjadi. Malah Rafif asyik bersama teman-teman dan senseinya sambil sesekali melihat kami, malu-malu sambil cengar cengir ketawa. ah....anak-anak... indahnya masa itu nak, nikmati sepuas hatimu ya....
Perlombaan pertama oleh kelas Sumire gumi (kelas 0 sai/kelas nol tahun), dimulai dari yang sudah bisa berlari, lomba berlari, kemudian diikuti yang baru bisa merangkak anak-anak mencari okasannya masing-masing.
Perlombaan kedua, lomba lari buat anak-anak usia 1-2 tahun, kelas Turipu gumi (kelasnya Rafif). Lucu sekali melihat Rafif, disaat aba-aba masih belum di bunyikan, dia sudah lari menghampiriku. Akhirnya dia ditarik senseinya dan kembali mengikuti perlombaan. Walaupun tidak menjadi no 1, tapi saya sebagai orang tua senang anak-anak sudah berani tampil di depan teman-temannya, paling tidak mengasah rasa percaya dirinya.
Acara terpotong dengan makan siang, dan acara berakhir dengan penutupan dan penurunan bendera. Kemudian menari bersama-sama, dan penyerahan medali kepada seluruh siswa dengan pemberian hadiah.
Sebagian senseinya Safa... Tanaka sensei, Kosho sensei, Sumako Miura sensei dan Tajumi sensei
Senangnya anak-anak hari itu. Terlihat pancaran matanya menunjukkan kebahagiaan dan kepuasan tersendiri. Begitu ceria dan bahagianya hari itu. Acara berakhir hingga pukul 2 siang.
Wednesday, September 30, 2009
Sekedar coretan...masa laluku
Bismillahirrokhmanirrokhim...
Sebenarnya sudah lama banget mau nulis, seperti cerita cerita sebelumnya. Blog ini hanyalah sebuah catatan kecilku selama berada di rantau. Tak lebih dari sekedar cerita biasa, hanya coretan seorang anak, seorang istri dan seorang ibu biasa. Semua pelaku yang ada di blog inipun juga keluarga kecil kami, mulai dari sekedar perjalanan, main-main, jalan-jalan, makan-makan, kumpul-kumpul, kegiatan mengisi waktu disaat senggang, disaat anak-anak pergi ke sekolah ataupun sekedar perkembangan si kecil, juga pengalaman-pengalaman baru yang bisa membuatku jadi belajar banyak tentang kehidupan dan pertemanan.
Sebenarnya banyak hal menarik yang ada di sekitarku yang bagus untuk dijadikan cerita atau sekedar catatan. Namun sayang, sekali lagi kok ya masih belum juga tergerak tangan ini untuk menorehkannya sebagai sebagian pengalaman yang aku alami.
Kurang lebih dari satu tahun setengah lalu, kegelisahan mulai muncul di hati. Berawal dari obrolan lewat telfon dengan kakakku, mengenai pendidikan anak-anak di Indonesia, khususnya Surabaya, tempat kami tinggal nanti sekembali dari Saga. Kakakku menceritakan kalau pendidikan anak di Indonesia sekarang sangatlah berat (khususnya untuk sekolah-sekolah yang kata orang digolongkan ke sekolah Favorit...entahlah apa kriterianyanya...yang jelas di sekolah itu banyak sekali saringan yang harus dilalui sebelum masuk dan syarat-syarat khusus yang harus dipenuhi oleh seorang calon siswa sekolah dasar, mulai dari syarat harus bisa baca tulis alphabet, harus sudah bisa hafalan doa-doa dan surat pendek, dan tentunya juga uang pangkal sebelum masuk sekolah dan juga uang bulanannya). Ah....serumit itu....bathinku kala itu.
Belum lagi keponakan yang nota bene anak dari kakakku di usia 3.5 tahun sudah pandai baca dan tulis alpabhet, sudah lancar baca koran dan juga sudah pintar mengaji, diusianya sebelia itu keponakanku sudah berhasil menyelesaikan Iqro 1 dan sudah bisa menghafal beberapa surat pendek. Ah.... biarlah pikirku saat itu...toh anakku disini juga setiap hari ada banyak hal yang dipelajari, walaupun tidak harus belajar baca tulis melulu, paling tidak untuk urusan hafal menghafal anakku juga tidak ketinggalan. Hampir 3 buku e hon (buku bergambar) yang berisikan lagu-lagu anak versi Jepang dan Inggris (mungkin sekitar 30an lagu anak-anak) si Safa kecilku (saat itu juga seusia 3 tahunan) sudah bisa menghafal dan menyanyikannya dengan baik. Doa-doa pendek mulai dari doa mau makan, selesai makan, mau tidur, bangun tidur, doa kepada orang tua, doa mau belajar, doa mau wudhu dan doa pendek lainnya sudah dia hafal.Juga yang membuat saya bangga adalah Safa kecilku bisa survive hidup di lingkungan yang sama sekali belum dikenalnya sebelumnya. Ya... disaat dia baru belajar mengeluarkan kata2, atau belajar berbicara, diusianya 1 tahun 6 bulan Safa kecilku harus memasuki duni baru yang sebelumnya sama sekali tidak terbayangkan. Ya...Safa kala itu masuk di Jounan Hoikuen. Sebuah sekolah swasta yang setingkat dengan Play ground. Bukannya saya egois memasaukkan ankku saat itu, setelah banyak pertimbangan diantaranya, rencana berapa lama kami akan tinggal disini, pergaulan anak-anak tanpa teman alias cuma bersama ibunya di rumah, komunikasi dnegan orang lain, khususnya orang Jepang (mengapa ?) karena kami tinggal disini, mau tidak mau kamipun harus aktif mempelajari budayanya, paling tidak kita belajar untuk mengerti omongan mereka, biar gak kuperlah. Selain itu juga kami ingin anakku bisa bersosialisasi bersama teman-teman seusianya ataupun teman orang dewasa lainnya.
Disaat Safa harus berjuang di hoikuen, sayapun juga demikian. Setiap hari saya juga ke kampus untuk bejar bahasa, seminggu 4 kali ditambah lagi dengan sesnsei volunter seminggu sekali. Sangat berat saat itu, banyak sekali yang harus saya fikirkan untuk jangka waktu selama saya tinggal disini. Sementara suami setiap hari berangkat pagi- pagi dan pulang paling cepat sekitar pukul 10 malam. Lha kalau kami setiap hari cuma berdua di rumah ...apa ya lama-lama tidak stress ? bahasa tidak bisa, kalau keluar diajak ngomong gak "ngeh", dimana-mana tulisan kanji dan teman-temannya.... Itulah sebagian masa laluku disini...ya, 4 tahun lebih yang lalu telah berhasil kami lewati.Alhamdulillah...semua karena ALLAH Yang Maha Penyayang.
Kembali ke atas lagi... satu tahun yang lalu ada yang mengganggu pikiran dan hatiku. Saat ada seorang teman bercerita tentang anaknya di usia 3 tahun sudah pandai membaca, pandai ber smsria. Cerita tidak hanya diulangi satu dua tiga kali, dan sampai pada suatu hari saat ada teman baru datang yang kebetulan putranya juga diberi kelebihan pandai membaca di usia dini. Saat saya asyik ngobrol dengan teman baru itu, dan saya menanyakan seputar kelebihan putranya, dan juga saya sedikit curhat tentang anak saya, tiba-tiba pembicaraan kami terhenti sejenak. Ada celetukan yang mengatakan kurang lebih tanyalah pada mbak ini...bagaimana caranya mengajar anak agar anaknya pandai membaca... Sontak dalam hatiku saat itu terkejut. Sedikitpun saya tidak menyangka akan keluar ungkapan itu. Karena selama ini saya juga tidak pernah membandingkan anak-anakku dengan anak orang lain, karena anak dilahirkan berbeda-beda. Kalau mau membandingkan ya bandingkan dengan diri kita sendiri saat masih seusia anak kita.
Sangat kecewa saat itu... rasanya saya kok seperti telah gagal menjadi ibu buat anak-anak saya...hanya gara- gara anak saya belum bisa membaca di usia 3 tahun... Sama halnya dengan ungkapan teman lainnya, yang sudah pulang juga masih disini... (kebetulan usia anak-anak kami hampir sama). Ah... kenapa saya harus dipusingkan dnegan masalah seperti itu fikirku saat itu. Buang-buang energi saja, kurang kerjaan. Biarlah saya mendidik anak dengan caraku. Anak- anak ada waktunya bermain dan bermain sambil seidkit balajar tentang lingkungan sekitarnya, nanti pasti ada waktunya sendiri buat anak-anak untuk belajar dan belajar....
Biarlah... orang boleh bicara apa saja, selama bicara tidak dilarang dan tidak menyakiti orang lain. Saya ikhlaskan semua yang sudah terjadi.
Sedikitpun di hati saya tidak ada rasa iri, cemburu ataupun rasa ingin memiliki terhadap apa yang dimiliki orang lain, saya tidak peduli, karena kami berbeda, toh sejauh ini saya juga tidak mengganggu mereka, tapi saya tidak terima/tidak suka kalau anak-anak dibandingkan. Bagaimanapun keadaan dan kondisi anak saya, saya bangga akan mereka. Saya akan selalu mencintai dan memberikan yang terbaik buat mereka. Anak adalah harta yang tidak bisa tergantikan dengan apapun. Biarlah mereka menjadi super di mata kedua orang tua masing-masing. Jadi kangen Ibu... dalam kalbu akau ingin selalu memeluk dan merindukanmu... doaku untukmu bu....
Perlahan, tapi pasti. Lingkungan mempunyai banyak pengaruh terhadap perkembangan anak-anak. Anak-anak yang dibesarkan dengan cinta kasih, dia akan tumbuh menjadi anak yang ceria, anak yang lembut dan juga anak yang cinta kasih kepada sesama. Begitupun belajar. Lingkungan sedikit banyak telah mempengaruhi cara belajar anak-anakku. Dimana kehidupan mereka setiap harinya (pagi sampai sore) dia tinggal di hoikuen, dimana semua diajarkan dengan bahasa Jepang praktis. Dan di rumah saya ajarkan berbahasa Indonesia. Telah sedikit banyak mempengaruhi perkembangan mereka. Safa sudah betul-betul memahami dua bahasa, baik Indonesia maupun Jepang. Terkadang malah saya ataupun papanya tidak tahu apa yang diomongkan Safa. Karena dia sering menggunakan Saga ben/dialek berlogat Saga/bahasa daerah gitu loh. Kadang dia menjadi penerjemah buat kami. Ternyata anak-anak lebih cepat...
Begitupun dengan si kecil Rafif. Dia sedikit-sedikit juga sudah mengerti dalam 2 bahasa. Ya... sampai saat ini kami masih berprinsip untuk mengajarkan mereka dua bahasa. Mudah-mudahan yang ini terjaga hingga kami nanti pulang ke Surabaya.
ALhamdulillah, syukur selalu kami panjatkan, seiring dengan perkembangan waktu Safa pun sudah mulai pandai membaca dan menulis, baik itu alphabet, hiragana maupun huruf arab. Insyaallah sejauh ini Safa sudah bisa memabaca huruf mati (kalau dulu masih kesulitan, sekarang alhamdulillah...walaupun terkadang masih salah tapi sudah banyak kemajuan) ayooo gambatte Safa.... Juga sudah bisa baca tulis hiragana, (sekarang lagi hobinya baca buku-bukunya yang dulu, saat masih di turipu gumi, himawari gumi dan sakura gumi) kalau katakana masih terbatas pada beberapa huruf saja. Begitupun dengan huruf hijaiyah, kalau yang ini tanpa saya sangka, dia malah senang belajarnya, dan lebih cepat bisa dan hafal, cuma kalau menulis dia masih belum hafal. Hayooo Safa gambatte...kamu bisa....
Sepertinya itu sebagian tantangan buat saya untuk mengajarkan anak-anak dalam hal belajar alphabet. Jujur, dari beberapa yang saya ajarkan itu hanya alphabet yang menjadi kendala. Karena setiap saya ajarkan, Safa selalu mengatakan kalau gak mau mama, di sekolah tidak diajarkan itu.... sempat geram... tapi ya buat apa saya geram... saya biarkan ...toh lama-lama dia juga minta belajar sesuai dnegan kemauannya sendiri. Mau belajar nyanyi ... hayoo, mau hafalan doa ...hayooo... mau baca hiragana...berangkat...mau ngaji...alhamdulillah... mau alphabet ....hayooo.... mau nggambar....siapa takut.... mau main buroku/lego...siap, mau main komputer, nulis- mewarna dan bikin kue di komputer.....ibunya tambah seneng...bisa sambil ngintip blog teman2 ehhehee, mau origami.....siap.... Nah ...kalau sudah origami biasanya adiknya suka ikut berebut kertas. Jadi seru sekali. Sudah beberapa banyak bentuk origami yang bisa dibuat Safa, dia sudah bisa buat rumah, kapal, neko chan, inu chan, es krim, bunga, kotak, dompet, dan banyak bentuk lainnya. Hiihihi... jadi malu... saya dulu seusia safa masih belum bisa bikin origami bentuk macem- macem...
Cerita ini hanya ungkapan hati saya sebagai seorang anak, seorang ibu dan seorang istri. Hanya catatan pejalanan saya disini. Tidak ada maksud lain dalam penulisan ini, hanya ungkapan hati. Kalau suka silahkan baca, kalau gak suka, tinggalkan saja.
ALhamdulillah...
Disaat Safa harus berjuang di hoikuen, sayapun juga demikian. Setiap hari saya juga ke kampus untuk bejar bahasa, seminggu 4 kali ditambah lagi dengan sesnsei volunter seminggu sekali. Sangat berat saat itu, banyak sekali yang harus saya fikirkan untuk jangka waktu selama saya tinggal disini. Sementara suami setiap hari berangkat pagi- pagi dan pulang paling cepat sekitar pukul 10 malam. Lha kalau kami setiap hari cuma berdua di rumah ...apa ya lama-lama tidak stress ? bahasa tidak bisa, kalau keluar diajak ngomong gak "ngeh", dimana-mana tulisan kanji dan teman-temannya.... Itulah sebagian masa laluku disini...ya, 4 tahun lebih yang lalu telah berhasil kami lewati.Alhamdulillah...semua karena ALLAH Yang Maha Penyayang.
Kembali ke atas lagi... satu tahun yang lalu ada yang mengganggu pikiran dan hatiku. Saat ada seorang teman bercerita tentang anaknya di usia 3 tahun sudah pandai membaca, pandai ber smsria. Cerita tidak hanya diulangi satu dua tiga kali, dan sampai pada suatu hari saat ada teman baru datang yang kebetulan putranya juga diberi kelebihan pandai membaca di usia dini. Saat saya asyik ngobrol dengan teman baru itu, dan saya menanyakan seputar kelebihan putranya, dan juga saya sedikit curhat tentang anak saya, tiba-tiba pembicaraan kami terhenti sejenak. Ada celetukan yang mengatakan kurang lebih tanyalah pada mbak ini...bagaimana caranya mengajar anak agar anaknya pandai membaca... Sontak dalam hatiku saat itu terkejut. Sedikitpun saya tidak menyangka akan keluar ungkapan itu. Karena selama ini saya juga tidak pernah membandingkan anak-anakku dengan anak orang lain, karena anak dilahirkan berbeda-beda. Kalau mau membandingkan ya bandingkan dengan diri kita sendiri saat masih seusia anak kita.
Sangat kecewa saat itu... rasanya saya kok seperti telah gagal menjadi ibu buat anak-anak saya...hanya gara- gara anak saya belum bisa membaca di usia 3 tahun... Sama halnya dengan ungkapan teman lainnya, yang sudah pulang juga masih disini... (kebetulan usia anak-anak kami hampir sama). Ah... kenapa saya harus dipusingkan dnegan masalah seperti itu fikirku saat itu. Buang-buang energi saja, kurang kerjaan. Biarlah saya mendidik anak dengan caraku. Anak- anak ada waktunya bermain dan bermain sambil seidkit balajar tentang lingkungan sekitarnya, nanti pasti ada waktunya sendiri buat anak-anak untuk belajar dan belajar....
Biarlah... orang boleh bicara apa saja, selama bicara tidak dilarang dan tidak menyakiti orang lain. Saya ikhlaskan semua yang sudah terjadi.
Sedikitpun di hati saya tidak ada rasa iri, cemburu ataupun rasa ingin memiliki terhadap apa yang dimiliki orang lain, saya tidak peduli, karena kami berbeda, toh sejauh ini saya juga tidak mengganggu mereka, tapi saya tidak terima/tidak suka kalau anak-anak dibandingkan. Bagaimanapun keadaan dan kondisi anak saya, saya bangga akan mereka. Saya akan selalu mencintai dan memberikan yang terbaik buat mereka. Anak adalah harta yang tidak bisa tergantikan dengan apapun. Biarlah mereka menjadi super di mata kedua orang tua masing-masing. Jadi kangen Ibu... dalam kalbu akau ingin selalu memeluk dan merindukanmu... doaku untukmu bu....
Perlahan, tapi pasti. Lingkungan mempunyai banyak pengaruh terhadap perkembangan anak-anak. Anak-anak yang dibesarkan dengan cinta kasih, dia akan tumbuh menjadi anak yang ceria, anak yang lembut dan juga anak yang cinta kasih kepada sesama. Begitupun belajar. Lingkungan sedikit banyak telah mempengaruhi cara belajar anak-anakku. Dimana kehidupan mereka setiap harinya (pagi sampai sore) dia tinggal di hoikuen, dimana semua diajarkan dengan bahasa Jepang praktis. Dan di rumah saya ajarkan berbahasa Indonesia. Telah sedikit banyak mempengaruhi perkembangan mereka. Safa sudah betul-betul memahami dua bahasa, baik Indonesia maupun Jepang. Terkadang malah saya ataupun papanya tidak tahu apa yang diomongkan Safa. Karena dia sering menggunakan Saga ben/dialek berlogat Saga/bahasa daerah gitu loh. Kadang dia menjadi penerjemah buat kami. Ternyata anak-anak lebih cepat...
Begitupun dengan si kecil Rafif. Dia sedikit-sedikit juga sudah mengerti dalam 2 bahasa. Ya... sampai saat ini kami masih berprinsip untuk mengajarkan mereka dua bahasa. Mudah-mudahan yang ini terjaga hingga kami nanti pulang ke Surabaya.
ALhamdulillah, syukur selalu kami panjatkan, seiring dengan perkembangan waktu Safa pun sudah mulai pandai membaca dan menulis, baik itu alphabet, hiragana maupun huruf arab. Insyaallah sejauh ini Safa sudah bisa memabaca huruf mati (kalau dulu masih kesulitan, sekarang alhamdulillah...walaupun terkadang masih salah tapi sudah banyak kemajuan) ayooo gambatte Safa.... Juga sudah bisa baca tulis hiragana, (sekarang lagi hobinya baca buku-bukunya yang dulu, saat masih di turipu gumi, himawari gumi dan sakura gumi) kalau katakana masih terbatas pada beberapa huruf saja. Begitupun dengan huruf hijaiyah, kalau yang ini tanpa saya sangka, dia malah senang belajarnya, dan lebih cepat bisa dan hafal, cuma kalau menulis dia masih belum hafal. Hayooo Safa gambatte...kamu bisa....
Sepertinya itu sebagian tantangan buat saya untuk mengajarkan anak-anak dalam hal belajar alphabet. Jujur, dari beberapa yang saya ajarkan itu hanya alphabet yang menjadi kendala. Karena setiap saya ajarkan, Safa selalu mengatakan kalau gak mau mama, di sekolah tidak diajarkan itu.... sempat geram... tapi ya buat apa saya geram... saya biarkan ...toh lama-lama dia juga minta belajar sesuai dnegan kemauannya sendiri. Mau belajar nyanyi ... hayoo, mau hafalan doa ...hayooo... mau baca hiragana...berangkat...mau ngaji...alhamdulillah... mau alphabet ....hayooo.... mau nggambar....siapa takut.... mau main buroku/lego...siap, mau main komputer, nulis- mewarna dan bikin kue di komputer.....ibunya tambah seneng...bisa sambil ngintip blog teman2 ehhehee, mau origami.....siap.... Nah ...kalau sudah origami biasanya adiknya suka ikut berebut kertas. Jadi seru sekali. Sudah beberapa banyak bentuk origami yang bisa dibuat Safa, dia sudah bisa buat rumah, kapal, neko chan, inu chan, es krim, bunga, kotak, dompet, dan banyak bentuk lainnya. Hiihihi... jadi malu... saya dulu seusia safa masih belum bisa bikin origami bentuk macem- macem...
Cerita ini hanya ungkapan hati saya sebagai seorang anak, seorang ibu dan seorang istri. Hanya catatan pejalanan saya disini. Tidak ada maksud lain dalam penulisan ini, hanya ungkapan hati. Kalau suka silahkan baca, kalau gak suka, tinggalkan saja.
ALhamdulillah...
Monday, September 28, 2009
Lebaran Tahun ini, 1 Syawal 1430 H
ALhamdulillah hari kemenangan telah tiba.
Lebaran, oh lebaran...
Mudah2an untuk kedepannya kita semua bisa menjadi lebih baik, dalam segala hal, baik dalam perbuatan maupun perkataan. Tak banyak yang harus saya ceritakan, sepertinya hampir sama dengan tahun2 sebelumnya. Beberapakali lebaran Idul Fitri di negeri orang (padahal lebaran tahun kemaren sudah berhasil dipulangkan), serasa ada saja yang kurang. Alhamdulillah, ada banyak teman disini, malam sebelum hari raya, kita berkumpul bersama di kediaman bu Endang, sekaligus buka puasa bersama di hari terakhir dilanjutkan dengan mengumandangkan Asma Allah. Walaupun kita takbiran bersamanya sampai sekitar jam 9 malam, namun terasa sekali. Masih juga tak terbendung, air mata kerinduan ini. Rindu untuk bisa berkunjung di rumahMu, rindu mengumandangkan lafal2 Agung Asmamu, rindu keluarga di tanah air, rindu ibu bapakku, rindu suasana yang indah di kampungku. Bedug bertalu-talu antar masjid, semua keluar rumah, berkumpul di masjid, lalu dengan kentongan kita berjalan mengelilingi kampung sambil menggemakan Takbir. Ya Allah...akankah saya jumpai lagi Ramadhan tahun mendatang...adakah kesempatan buatku untuk itu lagi...
Wallahu alam, Hanya kepadaMu hamba berserah.Lebaran, oh lebaran...
Mudah2an untuk kedepannya kita semua bisa menjadi lebih baik, dalam segala hal, baik dalam perbuatan maupun perkataan. Tak banyak yang harus saya ceritakan, sepertinya hampir sama dengan tahun2 sebelumnya. Beberapakali lebaran Idul Fitri di negeri orang (padahal lebaran tahun kemaren sudah berhasil dipulangkan), serasa ada saja yang kurang. Alhamdulillah, ada banyak teman disini, malam sebelum hari raya, kita berkumpul bersama di kediaman bu Endang, sekaligus buka puasa bersama di hari terakhir dilanjutkan dengan mengumandangkan Asma Allah. Walaupun kita takbiran bersamanya sampai sekitar jam 9 malam, namun terasa sekali. Masih juga tak terbendung, air mata kerinduan ini. Rindu untuk bisa berkunjung di rumahMu, rindu mengumandangkan lafal2 Agung Asmamu, rindu keluarga di tanah air, rindu ibu bapakku, rindu suasana yang indah di kampungku. Bedug bertalu-talu antar masjid, semua keluar rumah, berkumpul di masjid, lalu dengan kentongan kita berjalan mengelilingi kampung sambil menggemakan Takbir. Ya Allah...akankah saya jumpai lagi Ramadhan tahun mendatang...adakah kesempatan buatku untuk itu lagi...
Walaupun di tempat kami tidak ada masjid, tidak menghalangi langkah kami untuk beribadah. Kami umat muslim bisa melakukan sholat jum at, sholat Idul Fitri maupun sholat Idhul Adha di salah satu Ruangan Saga International House.
Lebaran kali ini, saya benar2 lagi dapat ujian. Saya tepar seteparnya, malam sebelum takbiran badan panas tinggi, suara serak, hampir tidak bisa keluar. Padahal disini kalau saya tepar otomatis kegiatan perputaran distribusi logistik rumah tak berjalan, mau apa lagi...biarpun badan remek... tetep harus jalan. Untung, syukur alhamdulillah... lebaran tahun ini juga ada libur panjang. Jadi untuk acara masak memasak semua sudah menjadi urusan suami. Thanks, for all ... Nihonjin biasa sebut liburan Siruba week (silver week), dimana sejak hari sabtu libur, hari senin libur dan hari Rabu libur. Jadilah haris elasa diliburkan sekalian...Asyik... serasa di Indonesia. Selain itu juga ada event yang sangat menarik, sembako murah. Ada toko baru buka, banyak diskon. Hingga harga minyak yang biasanya per liter 299 cuma jadi 99 Yen, harga beras 5 kg biasanya paling murah 1580 yen, kemaren cuma 1180, harga gula yang biasanya 178 Yen, cuma 99 yen, Harga Keju yang biasanya 198 per 8 slice jadi cuma 128 yen, harga mentega yang biasanya 238 jadi 128...pun begitu dnegan harga minuman botol, biasanya di kisaran 178 cuma jadi 99 yen....duh senengnya. ALhamdulillah... rejeki lebaran.
Kami sekeluarga mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri 1 Syawal 1430 H, Minal Adin Walfaidzin. Taqoballohu minna waminkum taqobal yakaarim... Mohon maaf atas segala salah dan khilaf.
Friday, September 11, 2009
Ramadhan kali ini
Alhamdulillah, masih diberi kesempatan menikmati indahnya ramadhan tahun ini bersama keluarga kecilku tercinta di rantau. Ramadhan kali ini banyak yang spesial dalam keluarga kecilku. Ramadhan hari kedua, jatah umur kami berkurang satu tahun. Mudah-mudahan semakin berkurangnya umur, semakin bijak dalam menyikapi semua hal, semakin bermanfaat bagi sesama dan terus istiqomah berjalan direl yang sudah ditetapkan ALLAH SWT. AMin. Diawal menjalankan ibadah puasa, ditinggal suami ke Tokyo selama 5 hari, jadi deh sendirian tarawih, dan sahur. Alhamdulillah selama ditinggal papanya, anak-anak pinter sekali, mereka tidak rewel, setiap hari suami telpon ke rumah kadang bisa sampai 15 kali, maklum beliau kan ke Tokyo nya naik 18 kippu, jadi sering gonta ganti kereta. Kalau gak salah itung, ada 21 pergantian densha... (walah kalau aku ikut mungkin saya sudah pingsan di jalan...ehhehehe) Begitu mendengar suara bapaknya betapa gembira hati mereka. Eh, menjelang sehari sebelum papanya pulang Safa demam, panas tinggi. Alhamdulillah, hanya semalam dan esuk paginya sudah kembali normal. Apa mungkin ya ini karena kangen sama papanya ? soalnya tiap hari dia selalu bilang papa aitai papa aitai...(ingin ketemu papa)...
Ramadhan kali ini pun insyaallah merupakan ramadhan yang kelima buat aku dan Safa disini. ENtahlah berapa ramadhan lagi saya lewati disini.... yang jelas suasana ramadhan disini dengan di kampung halamanku sangat-sangat berbeda. Tidak ada suara adzan (pastinya...) karena gak ada masjid, gak ada tarawih bareng-bareng (tiap hari sama suami dan anak2, itupun kalau suami pas ada di rumah.. kalau suami diluar yah...sendiri lagi....). Tidak ada suara tadarusan (eh ada deh lewat tilawah online oleh ibu-ibu muslimah Saga, alhamdulillah), juga tidak ada beduk dan kentongan yang membangunkanku untuk sahur. Bisa sahur alhamdulillah, gak bisa bangun ya bersyukur... yang penting sudah niat puasa karena ALLAH ta'ala.
Ramadhan kali ini pun insyaallah merupakan ramadhan yang kelima buat aku dan Safa disini. ENtahlah berapa ramadhan lagi saya lewati disini.... yang jelas suasana ramadhan disini dengan di kampung halamanku sangat-sangat berbeda. Tidak ada suara adzan (pastinya...) karena gak ada masjid, gak ada tarawih bareng-bareng (tiap hari sama suami dan anak2, itupun kalau suami pas ada di rumah.. kalau suami diluar yah...sendiri lagi....). Tidak ada suara tadarusan (eh ada deh lewat tilawah online oleh ibu-ibu muslimah Saga, alhamdulillah), juga tidak ada beduk dan kentongan yang membangunkanku untuk sahur. Bisa sahur alhamdulillah, gak bisa bangun ya bersyukur... yang penting sudah niat puasa karena ALLAH ta'ala.
Puasa tahun inipun juga berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini sepertinya waktunya lebih panjang. Di awal-awal puasa imsak sekitar pukul 4.15 dan buka sekitar pukul 7.30. Dan cuaca juga tidak menentu, yang jelas sering panasnya... siang suhu udara sekitar 36 derajat, tapi kadang-kadang malam suhu jadi 27 derajat. Hal ini yang kadang bikin pusing, badan serasa tidak enak dan sedikit gak nyaman.
Mungkin tahun depan dan tahun depannya lagi puasa akan jatuh tepat saat puncak-puncaknya musim panas. Mudah-mudahan kita semua di berikan kemudahan, dan keikhlasan dalam menjalankan ibadah suci ini. AMin amin amin allohuma amin.
Jujur kalau boleh memilih sebenarnya saya sangat merindukan berpuasa di tanah air. Sudah kangen sekali..... Tahun lalu alhamdulillah bisa mudik, tapi mudiknya 3 hari menjelang hari raya Idul Fitri, jadi gak sempat ngikut ngrasain ramadhan di Indonesia. Yah...mungkin harus lebih bersabar, insyaallah semuanya ada waktunya, insyaallah jika ALLAH memberi umur yang panjang.
Kini ramadhan tinggal 10 hari terakhir. Masih belum banyak yang bisa saya lakukan. Targetpun juga masih belum tercapai, duh gusti,... nyuwun ngapuro... Berharap masih bisa menyelesaikan ramadhan dengan sempurna, siapa tahu rejeki, berharap juga mendapatkan malam 1000 bulan. Ya ALLAH... beri kami kesempatan ...
Ya Rabb ... hilangkan rasa kantuk, rasa malas, pada diri hamba .... Ijinkan hambamu untuk mencapai tujuan, menyelesaikan kewajibanku untuk mendapatkan Ridho dan berkah dari Mu.... Hilangkan segala rasa benci, iri, dengki, sombong, pada diri hamba ya ALLAH...
Ampuni hambamu ya Robb, Ampuni kami ya Robb, Terimalah tobat hamba ya Robb, dan bimbing kami untuk selalu menjalankan segala perintahMu... Hanya kepadaMu lah kami memohon dan berserah...
Robbana attina fidun ya khasanah wafil akhiroti khasanah wakina 'adza bannar...
Mungkin tahun depan dan tahun depannya lagi puasa akan jatuh tepat saat puncak-puncaknya musim panas. Mudah-mudahan kita semua di berikan kemudahan, dan keikhlasan dalam menjalankan ibadah suci ini. AMin amin amin allohuma amin.
Jujur kalau boleh memilih sebenarnya saya sangat merindukan berpuasa di tanah air. Sudah kangen sekali..... Tahun lalu alhamdulillah bisa mudik, tapi mudiknya 3 hari menjelang hari raya Idul Fitri, jadi gak sempat ngikut ngrasain ramadhan di Indonesia. Yah...mungkin harus lebih bersabar, insyaallah semuanya ada waktunya, insyaallah jika ALLAH memberi umur yang panjang.
Kini ramadhan tinggal 10 hari terakhir. Masih belum banyak yang bisa saya lakukan. Targetpun juga masih belum tercapai, duh gusti,... nyuwun ngapuro... Berharap masih bisa menyelesaikan ramadhan dengan sempurna, siapa tahu rejeki, berharap juga mendapatkan malam 1000 bulan. Ya ALLAH... beri kami kesempatan ...
Ya Rabb ... hilangkan rasa kantuk, rasa malas, pada diri hamba .... Ijinkan hambamu untuk mencapai tujuan, menyelesaikan kewajibanku untuk mendapatkan Ridho dan berkah dari Mu.... Hilangkan segala rasa benci, iri, dengki, sombong, pada diri hamba ya ALLAH...
Ampuni hambamu ya Robb, Ampuni kami ya Robb, Terimalah tobat hamba ya Robb, dan bimbing kami untuk selalu menjalankan segala perintahMu... Hanya kepadaMu lah kami memohon dan berserah...
Robbana attina fidun ya khasanah wafil akhiroti khasanah wakina 'adza bannar...
Monday, August 03, 2009
Alhamdulillah Safa chan sudah lima tahun
Hari ini alhamdulillah umur Safa sudah lima tahun. Mudah-mudahan sehat selalu, makin ngerti dan kelak menjadi anak yang sholelah dan bermanfaat bagi sesama. Terima kasih ALLAH telah kau berikan amanah dan kesempatan kepada kami untuk merawat, mendidik dan membesarkan Safa. Bersamamu telah kau ajarkan berbagai hal yang sangat bermanfaat, bersamamu semuanya terasa menjadi lebih indah dan bermakna.Safa doa mama, papa, adik Rafif, Yang ti Mbah kung, mbah Ti selalu menyertaimu.
Mudah-mudahan kelak menjadi anak yang sholehah. AMin
Wednesday, July 22, 2009
Sankanbi nya Safa dan Rafif di Jounan Hoikuen
Bismillahirrokhmanirrokhiim...Acara ini sebenarnya sangat istimewa buat kami sebagai orang tua. Sejauh ini anak-anak setiap hari bermain bersama di Hoikuen dari pagi hingga sore. Nah disitu kita dipersilahkan melihat lebih dekat, kegiatan anak-anak selama seharian di hoikuen. Kemajuan sekecil apapun dan hal-hal baru yang didapat anak di hoikuen perlu adanya penghargaan dari orang tua.
Di kelasnya Rafif, setelah anak-anak berkumpul di kelas, mereka dengan tertib duduk di meja masing-masing. Ada juga yang tetap duduk bersama otosan atau okasannya. Namanya juga anak-anak, Rafif ada di kelas anak berusia antara 1-2 tahun. Melihat anak-anak dengan berbagai macam tingkah membuatku semakin terpana, serasa tak ingin meninggalkannya. Ehm... seandainya saya mampu...
Setelah itu oyatsu/cemilan dipagi hari dikeluarkan, hari itu oyatsunya stik jagung dan segelas susu segar. Anak-anak tampak senang dan menikmatinya. Anehnya mereka itu tidak terpengaruh pada kehadiran orang tuanya, tetep seperti hari biasa, makan sendiri tanpa minta suap. Bahkan saat saya coba bantu pegangkan cangkirnya, Rafif langsung ambil alih cangkir itu dan dipegang sendiri dengan kencang. Luar biasa... luar biasa sensei yang telah berhasil mendidik anak-anak menjadi anak yang mandiri, semua dilakukan sendiri sejak kecil.
Selesai oyatsu, sensei tachi menghadirkan pi pe to ...cerita boneka. Hari itu ceritanya berkisah tentang rumah nya anak babi dan binatang lain yang akan mencoba mengganggu kehidupannya. Aneka ekspresi yang bisa ditunjukkan anak-anak saat menonton pi pe to itu. Ada yang dengan serius memperhatikan, ada yang sambil lari-lari, ada yang mendekati sensei sambil menarik-narik kaos senseinya, ada yang asyik bermain dengan teman sebelahnya. Setelah itu anak-anak diajak bermain bernyanyi bersama dan berjoget. Wah senengnya... semua menikmatinya.
Dilanjutkan cerita dari Tanaka sensei yang membacakan buku cerita bergambar tentang Oppai (susu). Mereka yang masih kecil semua menyusu pada ibunya, baik itu binatang dari sapi, kambing, babi, gajah, kucing maupun pada manusia. Nah saat menampilkan oppainya okasannya Rafif yang duduk di depanku langsung ngelendeh dan sempat minta oppai... Walah.... hasukasiii sama tomodachi..(saya bilang malu sama temannya)... mite horak....minna oppai nomanai... baru Rafif lihat teman-temannya dan berhenti merengek. Tapi apa selanjutnya yang diperbuat, dia bermain kaki dengan temannya, seperti terlihat di gambar diatas.
Kemudian waktunya hiru gohan/makan siang bersama. Meja ditata dengan cepatnya, kemudian piring dan cawan juga cangkir segera terisi dengan makanan menu siang itu. Namun tidak begitu dnegan makanan Rafif, selalu istimewa, Sudah tersedia dan ditutup wrap plastik saat disajikan. Dan sederetan bumbu-bumbu yang terlarang juga sudah ditulis, no mirin, no sake, no arukoru, no buta/babi. Istilah kerennya sih halal food.
Makannya hari itu habis separuh, alhasil yang separuh mamanya yang makan.
Selesai dari kelasnya Rafif, Saya segera minta ijin ke kelasnya Safa. Sampe kelasnya Safa Rafif langsung lari menghampiri Tatsumi sensei, langsung gendong, sudah langganan.
Masih sibuk bikin prakarya, bikin jam dari kertas bekas, baik itu kerdus bekas tempat tisu ataupun bekas susu segar.


Safa bersama teman-teman sekelasnya




Tatsumi sensei dan Miura sensei memberi contoh jam yang dibuatnya. Hasil karya Safa bersama bapaknya dan juga mas Ilham bersama bapak dan ibunya, yang disamping sebagian hasil karya teman-temannya.Kemudian waktunya hiru gohan/makan siang bersama. Meja ditata dengan cepatnya, kemudian piring dan cawan juga cangkir segera terisi dengan makanan menu siang itu. Namun tidak begitu dnegan makanan Rafif, selalu istimewa, Sudah tersedia dan ditutup wrap plastik saat disajikan. Dan sederetan bumbu-bumbu yang terlarang juga sudah ditulis, no mirin, no sake, no arukoru, no buta/babi. Istilah kerennya sih halal food.
Makannya hari itu habis separuh, alhasil yang separuh mamanya yang makan.
Selesai dari kelasnya Rafif, Saya segera minta ijin ke kelasnya Safa. Sampe kelasnya Safa Rafif langsung lari menghampiri Tatsumi sensei, langsung gendong, sudah langganan.
Masih sibuk bikin prakarya, bikin jam dari kertas bekas, baik itu kerdus bekas tempat tisu ataupun bekas susu segar.
Safa bersama teman-teman sekelasnya
Rafif seneng sekali ketemu Safa, langsung sumringah. o, iya kemaren Rafif telah berusia 1 tahun 7 bulan. ALhamdulillah makin aktif dan mudah-mudahan sehat selalu ya nak.AMin.
Selesai bikin jam, mereka berkumpul dan hiru gohan bersama.
Pohon Tomat diatas itu adalah pohon tomat tanaman Safa. Di hoikuen setiap anak diwajibkan untuk menanam pohon, sesuai dengan kelasnya masing-masing. Ada yang tanam pohon tomat, kyuri/ketimun, nasu/terong, piman/paprika. Setiap anak diberi tanggung jawab untuk merawat, menyiram tanamannya sendiri, setiap hari. Sesuatu yang layak di contoh untuk pendidikan anak-anak agar bisa mandiri dan bertanggung jawab. Hasilnya anak sendiri yang memetiknya, dan selanjutnya di bawa pulang.
Alhamdulillah hari yang berkesan, mudah-mudahan anak-anak kelak bisa mengenangnya.
Alhamdulillahirrobbil alamin.
Wednesday, June 24, 2009
Sekedar Kenangan, Untuk Diingat dan Dikenang
Bismillahirrokhmanirrokhim...Salah satunya foto disamping, merupakan bunga Bara atau lebih tepatnya dalam bahasa Indonesia biasa disebut sebagai bunga mawar/ Rose.
Bunga ini tumbuh subur di belakang rumah yang kami sewa di Hounjoumachi ini. Rumah dari Oyaasan kami yang bernama Tono san.
Bara tumbuh subur di setiap musim semi dan harum wanginya terasa sampai di samping rumah. Namun sayang baru tahun ini saya kebagian memanennya, sebelumnya selalu terlambat mengetahuinya, karena tempatnya yang sudah tidak terawat karena gudang di belakang rumah roboh akibat terkena hembasan Taifu di tahun 2006.
ALhamdulillah selama ini anak-anak rukun, Safa sayang sekali sama adiknya. Lebih banyak ngemong, suka gendongin, suka nyuapin dan yang penting dia saling menyayangi dan tidak saling bertengkar. Begitupun dengan Rafif, dia sayang banget sama Safa, sukanya nyiumin kakaknya.
Teringat suatu percakapan Safa dengan bapaknya suatu malam. Saat itu Safa sebenarnya sudah mulai mengantuk dan sudah berbaring sekian lama dan saya sudah selesai membacakan cerita untuknya, tiba-tiba dia ingin ke kamar mandi.
Safa : oshiko... pingin pipis...
Mama : Ya sudah pipis saja....Mbak Safa berani ke kamar mandi sendiri ?
Safa : Berani mah, di kamar depan kan ada papa
Mama : OK...kalau gitu mama tunggu disini ya (sambil duduk di meja komputer yang masih nyala),
Papa : mbak Safa ...mama sudah bobo ta ? kok ke kamar mandi sendiri
Safa : belum pa. ..mama lagi kerja
Papa : mama kerja apa malam-malam begini ?
Safa : itu kerja baca berita... sambil ketawa ngakak...
Papa : haaa....? sambil barengan ketawa ngakak.... Safa- safa bisa saja kamu nak...baca berita dibilang kerja ahahahahahhaaa..
Saya dibelakang lalu menghampiri mereka yang tertawa tidak berhenti-berhenti... saya tanyakan dan mereka menceritakan...jadilah malam itu kami tertawa bareng mengikuti perkembangan pola pikirnya Safa.
Foto diamping merupakan black forest pertama yang saya biki
ALhamdulillah....



